Tajuk Rencana Bali Post, Kamis, 14 September 2006
SETIDAKNYA ada tiga tolok ukur sederhana untuk mengkategorikan suatu negara masuk negara maju, berkembang atau bahkan terbelakang. Ketiga faktor itu adalah pendidikan, transportasi dan kesehatan. Ketiga variabel ini bisa saling mempengaruhi.
Contohnya saja soal kesehatan yang belakangan ”harganya” semakin mahal dan semakin sulit dijangkau rakyat kecil. Ketika pemerintah menyadari hal itu, maka beberapa langkah terobosan pun diambil. Pada intinya, ingin meringankan beban dengan memberikan subsidi langsung. Contohnya, Asuransi Miskin (Askin).
Sayangnya, seperti biasa, kebijakan untuk masyarakat miskin justru banyak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab sehingga banyak yang salah sasaran. Seseorang yang sebenarnya dari sisi ekonomi mampu justru banyak yang mengantongi Askin. Sebaliknya, yang tidak mampu justru tidak mendapat fasilitas itu.
Sama seperti ketika pemerintah menggelontorkan Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang sempat heboh beberapa waktu lalu. Sampai kini pun, soal itu di beberapa daerah masih menyisakan persoalan. Masalahnya, data yang diberikan tidak benar-benar akurat. Validasi data seringkali tidak dilakukan dengan berbagai alasan; menghemat waktu, biaya, serta begitu percaya pada perangkat di bawah dan alasan-alasan lainnya. Akhirnya, ketika kemudian SLT dan Askin diterimakan, justru banyak yang tidak berhak memperolehnya.
Tampaknya, beberapa kalangan tidak lagi punya budaya malu dan hilangnya rasa empati kepada orang-orang yang benar-benar memerlukan bantuan. Mengaku miskin, pura-pura kere pun dilakukan agar dapat bantuan. Tidak ada rasa malu, risi, kikuk dan semacamnya.
Kita masih ingat, saat ini banyak kepala daerah tidak malu-malu mengatakan daerahnya miskin atau tertinggal, demi untuk mendapatkan bantuan. Kalau dulu lain. Pejabat sangat marah kalau daerahnya dibilang minus, miskin dan sejenisnya. Hal itu menjadi sesuatu yang sangat tabu. Bahkan, dengan segala aksi manipulatif, angka kemiskinan disulap sehingga daerahnya benar-benar ”makmur”. Kini, sandiwara itu semakin sering terjadi.
Seperti diberitakan Bali Post Rabu (13/9) kemarin, Kepala Area Pelayanan Askes di Karangasem Ir. IGN Sastra Bawa mengaku kelimpungan karena masyarakat setempat yang mengajukan klaim asurasi miskin (Askin) tak terkendali. Askes banyak kebobolan karena orang kaya banyak yang mengaku miskin. Sedangkan di sisi lain, ironisnya, banyak pasien yang benar-benar miskin justru tidak mengantongi kartu Askin. Memang, menurut dia, verifikasi pemegang Askin itu sendiri di luar kewenangan Askes.
Sementara itu, di Kabupaten Tabanan dilaporkan, daerah ini menargetkan 50 persen penduduk memiliki Askes Mandiri yang preminya dibayar oleh yang bersangkutan. Sebelumnya daerah ini juga telah mengklaim warganya yang telah menjadi anggota Askes 114.825 jiwa.
Ke depan, untuk menghindari hal ini, verifikasi data harus mutlak dilakukan. Pejabat, BPS dan pihak terkait harus benar-benar melakukan pendataan, pencocokan, penelitian dan upaya lainnya agar bantuan itu tidak salah arah. Jika tidak, masalah-masalah sebelumnya sangat rentan terulang. Kalau dibiarkan terus, ”angka kemiskinan” di negeri ini tidak akan pernah turun.
Satu hal lagi, memang harus diakui masyarakat kita belum insurence minded. Hal ini harus disosialisasikan lagi, tidak hanya kepada calon peserta Askes mandiri. Beberapa hal yang perlu dicatat, sosialisasi ini tentu tidak hanya dengan mengatakan bagaimana pentingnya asuransi tetapi juga dengan memperbaiki kinerja asuransi itu sendiri. Karena, tentunya, pengalaman orang lain — baik maupun buruk — akan menjadi pertimbangan tersendiri.



Komentar Terakhir