Arsip untuk Oktober 11th, 2006

Dunia Dibuat Panik oleh Korut

Segala tekanan dunia sama sekali tidak menghentikan niat Korea Utara melaksanakan uji coba senjata nuklir. Dunia benar-benar dibuat frustrasi, panik, dan gusar. Suka atau tidak, Korut kini menjadi negara kesembilan dalam jajaran pemilik senjata nuklir di dunia setelah Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Perancis, China, India, Pakistan, dan Israel.

Uji coba hari Senin 9 Oktober itu dilakukan hanya dua hari setelah Dewan Keamanan PBB mengingatkan tentang konsekuensi serius atas rencana Korut mengadakan percobaan senjata nuklir.

Korut seperti sedang menantang dunia. Jauh sebelumnya, Korut diancam sanksi ekonomi lebih keras jika negeri miskin berpenduduk 23 juta jiwa itu nekat melakukan uji coba nuklir.

Sekalipun isu nuklir Korut sudah lama merebak luas, masyarakat Asia dan global tetap terguncang ketika percobaan nuklir benar-benar dilakukan. Percobaan itu juga dianggap sebagai kegagalan tim enam negara—Amerika Serikat, Rusia, China, Jepang, Korea Selatan, dan Korut—yang telah berusaha membujuk Pemerintah Pyongyang menghentikan program senjata nuklirnya.

China sebagai sekutu terdekat Korut dengan nada kasar menyebut percobaan itu sebagai pelanggaran mencolok dan tidak tahu malu melawan opini internasional. Korsel sebagai pihak yang merasa paling terancam menyebut percobaan nuklir itu sebagai ancaman berbahaya bagi stabilitas dan perdamaian di kawasan Asia.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe yang sedang berkunjung ke Korsel awal pekan ini menyebut percobaan nuklir Korut sebagai “tindakan yang tak dapat dimaafkan”, sedangkan AS menilai percobaan itu sebagai tindakan provokatif dan mendesak Dewan Keamanan PBB segera mengambil sanksi keras terhadap Korut.

Masyarakat global sangat cemas atas senjata nuklir Korut sekalipun negara itu bukanlah satu-satunya negara pemilik senjata nuklir. Sudah sering diwacanakan, senjata nuklir sendiri sudah sangatlah berbahaya. Potensi bahayanya akan bertambah besar jika berada di tangan negara atau pemerintah yang tidak bertanggung jawab.

Pemerintahan Korut yang Stalinis dipersepsikan dan dikategorikan sebagai rezim yang tidak bertanggung jawab seperti terefleksi pada sikap tidak peduli terhadap nasib rakyatnya. Jutaan rakyatnya dibiarkan menderita kekurangan pangan dan terancam mati kelaparan.

Atas dasar itu, muncul kekhawatiran tentang kemungkinan Pemerintah Korut kedodoran dalam program nuklirnya. Benar-benar menjadi petaka besar jika uranium sebagai bahan dasar nuklir jatuh ke tangan kaum teroris. Sungguh mengerikan!

Kompas, Rabu, 11 Oktober 2006

Dunia dalam Ancaman

Uji coba senjata nuklir Korea Utara (Korut) terjadi Senin (9/10) lalu, namun ledakannya seolah terus mengguncang Bumi hingga hari ini. Dari uji coba di bawah tanah itu, todongan terhadap perdamaian menyeruak. Dunia dalam ancaman.

Korut sedang mengubah ekuilibrium dunia, mengguncang bandul kehidupan. Kita belum tahu, kesetimbangan baru macam apa yang akan tercapai kelak. Jangan-jangan, perlombaan senjata lagi seperti di waktu-waktu lalu. Mungkin diawali Korsel, atau Jepang, mungkin pula Taiwan. Lalu, aktif lagilah nuklir India, Pakistan, dan Timur Tengah. Israel yang diam-diam sudah punya senjata ini pun akan semakin agresif.

Di Asia Timur, dengan kecemasan terhadap kegilaan Kim Jong-il, Jepang jelas paling siap. Teknologi nuklir negeri ini paling maju. Para analis memperkirakan Jepang mampu menggeser aktivitas produksi energi nuklirnya menjadi senjata pembunuh massal dalam waktu beberapa pekan saja.

Dengan uji coba nuklir, Korut sebenarnya sedang melepaskan diri dari jepitan. Lelah atas tekanan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya sejak 2002, kecewa atas sikap Cina, sahabat lamanya, yang menyetujui sanksi atas uji coba rudalnya, negeri ini memakai cara radikal berupa uji coba ledakan nuklir. Dunia mungkin cemas, tapi Korut berhasil meningkatkan posisi tawar secara dramatis.

Bayangkan kalau hulu nuklir pada ledakan Senin lalu dipasang pada Taepodong, rudal Korut. Tak ada benua yang tak terjangkau karena daya jelajahnya mencapai ribuan kilometer. Kita sedikit tahu bahwa negara yang dikucilkan itu mampu membuat rudal berdaya jangkau hingga 10 ribu kilometer. Benua Australia, Amerika, Eropa, Afrika bisa kena.

Tapi, datang dari Korutkah ancaman itu? Tidak sepenuhnya. Uji coba nuklir Korut adalah bagian dari ketegangan baru dunia pasca-Perang Dingin. Negara itu sebenarnya sudah menutup program nuklirnya pada 1994, namun kembali memperkuat diri pada 2002 akibat provokasi AS. Pemicunya adalah pernyataan Presiden George W Bush bahwa Korut, bersama Iran dan Irak, adalah ”axis of evil” alias ”poros setan”.

Korut tumbuh dalam dukungan ekonomi Cina, negara raksasa yang bagi Washington merupakan ancaman baru. Memakai jubah peperangan terhadap terorisme, AS mengalang kekuatan di Asia dan Australia, yang ujung-ujungnya adalah persiapan menghadapi kekuatan Cina. Kita tahu pendekatan-pendekatan Bush di kawasan ini acap berbau penangkalan terhadap Cina–misalnya dalam kebijakan serangan pre-emptive Australia, deputi AS di kawasan ini, yang akhirnya juga merugikan Indonesia.

Kini, dengan uji coba nuklir Senin lalu, situasi menjadi semakin rumit. Cina sebagai pendukung Korut dalam posisi gamang. Cina jelas membutuhkan Korut sebagai penyangga menghadapi Amerika Serikat di semenanjung itu, Jepang, dan Taiwan. Tapi, Cina pun cemas dengan gaya Kim Jong-il.

Menghukum Korea Utara? Cina tak terbukti mampu atau tulus. Ini tampak pada sikap saat Korut menguji rudalnya. Cina sama sekali tak mengurangi bantuan ekonominya. Satu alasan memang kekhawatiran akan gelombang pengungsi jika ekonomi Korut kolaps. Tapi alasan lainnya adalah geopolitik.

Kita bukanlah bagian luar dari situasi yang mencemaskan ini. Indonesia berada di dalamnya dan semestinya proaktif. Kita pernah menawarkan diri untuk menjadi penengah dan tawaran itu tak pernah kita cabut. Kita tak bisa sekadar menonton para gajah bertarung dan membiarkan para pelanduk terjepit di tengah-tengah.

Republika, Rabu, 11 Oktober 2006

Perundingan Nuklir yang Lebih Adil

SUHU politik di Semenanjung Korea memanas setelah Korea Utara (Korut) sukses menguji coba bom atom di Hwadaeri, Kilju, bagian timur negeri komunis itu, Senin (9/10). Dunia bereaksi keras atas aksi yang mengancam stabilitas kawasan Asia Pasifik itu.

Hampir semua negara menyalahkan Korut. Percobaan itu dinilai mengancam perdamaian kawasan dan memicu lahirnya kembali perlombaan senjata.

Langkah Korut memang mengundang keprihatinan. Saat dunia risau dengan kekerasan dan perang yang berkecamuk di Irak dan di Afghanistan, negeri itu bermanuver dan membuat dunia khawatir. Khawatir, bila manuver itu memicu perang lebih besar. Khawatir, bila provokasi itu mengarah kepada perang yang lebih memusnahkan karena menggunakan nuklir sebagai senjata pamungkas.

Namun, pantaskah semua kesalahan ditimpakan kepada Korut? Sungguh tidak adil menimpakan semuanya kepada sebuah negeri yang miskin, kelaparan, serta terus diisolasi dengan tekanan, embargo, dan sanksi. Terlebih negeri itu ‘baru’ pertama kali menguji coba bom nuklir.

Sedangkan Amerika Serikat (AS) dan para sekutunya ribuan kali melakukan uji sejenis dengan level teknologi lebih canggih, dengan skala lebih besar, dan kekuatan ribuan kali lebih dahsyat.

Lantas, kalau AS boleh melakukannya, mengapa Korut tidak? Kalau sekutu Amerika dibiarkan? Mengapa Korut dan negara lain dilarang?

Kepemilikan senjata nuklir Korut itu adalah satu-satunya cara untuk bertahan dari serangan AS. Bukanlah tidak mungkin AS menyerang negara tersebut karena bersama Irak dan Iran, Korut secara tegas dan jelas dikategorikan AS sebagai ancaman, sebagai musuh.

Kendati demikian, upaya mendorong Korut agar menghentikan percobaan senjata nuklir tetaplah sebuah opsi yang harus didukung. Dan menjadi kewajiban semua pihak yang terlibat dalam perundingan enam negara untuk membujuk Korut meneruskan kembali perundingan. Namun, itu harus didasari niat, sikap, dan bahasa yang lebih tulus, lebih bersahabat.

Menjatuhkan sanksi sekeras-kerasnya terhadap Korut bukanlah langkah kesatria dan terpuji. Apalagi Korut jelas dan tegas menyatakan niatnya akan menghentikan proyek bom bila seluruh sanksi ditanggalkan.

Kita ingin Semenanjung Korea bebas senjata nuklir. Lebih dari itu, kita mendambakan seluruh wilayah dunia terbebas dari bom atom. Karena itu, tepat saatnya menggunakan insiden Korut ini sebagai momentum untuk mendorong lahirnya perundingan nuklir yang lebih adil.

Perundingan yang tidak saja membatasi kepemilikan bom atom, tapi juga menghapus seluruh pemusnah massal yang telah ada. Tidak peduli siapa pun pemiliknya.

Media Indonesia, Rabu, 11 Oktober 2006


Blog Stats

  • 474,287 hits

 

Oktober 2006
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

a

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.