Arsip untuk November 13th, 2006

Dana Perbankan yang Menganggur di SBI

PERBANKAN didesak untuk segera memindahkan dananya yang menumpuk di Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Inilah dana yang praktis dibiarkan menganggur dan bank ongkang-ongkang saja meraih bunga tanpa perlu giat bekerja.

Jumlahnya pun mengagetkan. Pada awal November 2006, dana perbankan di SBI mencapai Rp205 triliun. Menurut Menteri BUMN Sugiharto, penempatan dana perbankan di SBI telah menyebabkan beban bunga yang mesti dibayarkan juga sangat besar. Yaitu, biaya bunganya saja setahun Rp20 triliun atau sekitar US$2 miliar.

Dengan uang sebesar itu, menurut Menteri Sugiharto, dapat dipakai untuk membangun pembangkit listrik berdaya 2.000 megawatt atau lebih 500 km jalan tol. Jadi, dana yang nankring di SBI akan sangat produktif bila dipakai untuk membangun infrastruktur yang selama ini babak belur, sehingga menjadi salah satu faktor yang menghambat datangnya investor.

Menumpukkan dana di SBI jelas jalan paling gampang, aman, menguntungkan. Namun, fungsi intermediasi perbankan tidak bergerak, dengan seluruh rangkaian akibat jelek yang ditimbulkannya, seperti rendahnya pendanaan untuk pembangunan infrastruktur serta mandeknya sektor riil. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi rendah, lapangan kerja pun mampet.

Oleh karena itu, desakan pemerintah agar perbankan segera menarik dananya dari SBI dan menggunakannya untuk memacu fungsi intermediasi perbankan merupakan langkah yang tepat. Langkah serupa juga mestinya dilakukan pemerintah daerah agar menarik dananya dari SBI dan menggunakannya untuk menggerakkan roda ekonomi di daerah masing-masing.

Tanpa adanya gairah intermediasi perbankan, ekonomi mikro tidak akan bangkit. Ekonomi makro yang sehat tentu saja diperlukan, tetapi bila ekonomi mikro mandek, bisnis macet, ekonomi makro yang cantik itu hanya bagus sebagai indikator.

Dan rakyat tidak bisa dikenyangkan oleh indikator-indikator ekonomi makro yang mengesankan.

Media Indonesia,  Senin, 13 November 2006

Partai Golkar Fenomenal

Menurut logika, berakhirnya pemerintahan Orde Baru juga berakhirnya Partai Golkar. Mestinya dalam pemilu, partai itu tak memperoleh suara yang signifikan.

Kenyataannya, partai itu bukan saja habis atau surut drastis, tetapi relatif dan komparatif memperoleh suara terbanyak. Bahkan ketua umumnya, Jusuf Kalla, terpilih sebagai wakil presiden. Posisi dan perannya cukup vokal dalam arti kedengaran, didengar, serta berpengaruh.

Di antaranya tampak dari perkembangan terakhir sekitar kontroversi pembentukan UKP3R. Dalam konteks itu serta dalam kaitannya dengan masa depan demokrasi Indonesia, kita soroti Rapat Pimpinan Nasional Partai Golkar yang dimulai di Jakarta hari ini.

Sosok Partai Golkar mencuat jika diletakkan dengan kondisi partai-partai lainnya. Kondisi itu menunjukkan dua hal. Pertama, partai-partai yang relatif besar pecah, misalnya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Partai-partai lain yang tidak pecah, di antaranya karena masih baru, relatif juga masih kecil jumlah perolehan suaranya di parlemen, misalnya Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera. Dari segi hadirnya persaingan dalam kepemimpinan partai pun, Golkar menarik. Terjadi persaingan terbuka dalam memperebutkan calon presiden pada Pemilu 2004, tetapi persaingan itu tidak mengakibatkan pecahnya Golkar sebagai partai.

Kualifikasi “fenomenal” juga bisa dilihat dari berbagai sudut lain lagi. Ideologi, ya, misalnya ideologi. Apakah ideologi Golkar sebagai partai? Bukankah identik dengan ideologi negara jika dilihat dari maksud dan proses didirikannya? Karena lebih cenderung ke peran pemerintahan, kekaryaan TNI, dan birokrasi, Golkar tidak dihadapkan pada masalah karena ideologi diterjemahkan lebih kepada karya. Sebutlah pendekatan yang pragmatis. Pragmatisme politik diterjemahkan ke pragmatisme pembangunan dan berhasil karena didukung kestabilan politik, efektivitas kepemimpinan, serta kompetensi profesional pemerintahannya. Surut dan gagal tatkala digerogoti dan ditenggelamkan oleh KKN. Kecuali bersumber pada struktur kekuasaan, KKN subur karena berlakunya budaya kekuasaan feodal.

Ditempatkan pada peta di atas berikut tantangan dan kesempatan mendatang, apa yang diharapkan dari Rapimnas Golkar ini? Jangan dibiarkan benih dan motif perpecahan berlaku efektif. Toh Golkar seperti partai-partai lain juga dihadapkan pada masalah strategis perihal kepemimpinan dan sosoknya. Dengan berbagai kekurangannya, yang sekarang ternyata berfungsi dan berfungsi secara relatif efektif. Karena partai itu bukan saja terlibat, tetapi merupakan partner yang cukup strategis dengan pemerintahan sekarang, nasib selanjutnya masuk akal jika juga ditentukan oleh kinerja serta hasil kinerja pemerintahan sekarang. Hanya saja, dalam konteks pergulatan dan Pembukaan UUD 1945, tidaklah memadai bagi aspirasi serta komitmen perikehidupan bangsa dan negara Indonesia jika sekadar berkualifikasi pragmatisme. Pragmatisme plus kemanusiaan yang adil dan beradab, keadilan sosial bagi seluruh rakyat, serta dimensi Ketuhanan Yang Maha Esa yang merasuk.

Kompas, Senin, 13 November 2006

Bom dan Kedatangan Bush

MENJELANG kedatangan Presiden Amerika Serikat George Walker Bush, sebuah bom diledakkan di restoran cepat saji asal Amerika. Tidak ada korban jiwa. Bahkan, sang pelaku peledakan bom, yang sepertinya hendak melakukan bom bunuh diri, pun selamat dan masih dirawat di rumah sakit.

Bom itu menunjukkan banyak hal. Pertama, tentu saja itu bukti bahwa Jakarta belum bebas dari teror bom. Bom yang menghancurkan dan mematikan kapan saja dapat kembali mengguncang Jakarta.

Oleh karena itu, kewaspadaan tidak boleh mengendur. Setelah lama tak ada lagi bom, banyak yang lengah, menganggap Jakarta aman sentosa. Contohnya, setelah Bandara Soekarno-Hatta diteror oleh bom, semua mobil yang masuk ke terminal dengan cermat diperiksa petugas. Namun, semakin lama aktivitas itu semakin kendur. Bahkan belakangan, hal itu tidak dilakukan lagi.

Yang masih konsisten melakukan pemeriksaan adalah mal dan hotel besar. Dengan terjadinya bom di restoran makanan cepat saji asal Amerika itu, mestinya kewaspadaan terhadap teror bom kembali digalakkan.

Kedua, teror bom itu bisa ditafsirkan sebagai bentuk protes atas rencana kedatangan Presiden Bush ke negeri ini. Sebab, yang dibom adalah restoran asal Amerika, bahkan di restoran itu tertulis all American food.

Kedatangan Bush kali ini memang mendapat protes yang keras. Sebagian, karena perlakuan yang sangat istimewa untuk mengamankan Bush, sehingga terkesan amat kuat bahwa negeri ini sangat tunduk kepada kepemimpinan Amerika Serikat.

Penyebab lain, dan ini yang terutama, karena kebijakan Bush terhadap Afghanistan dan Irak. Bush menyerang kedua negara tersebut hanya untuk menjatuhkan pemimpin yang berkuasa di sana. Bush tidak menghormati PBB, dan sekalipun tidak terbukti memiliki senjata pemusnah massal, Irak tetap diserbu. Bahkan, Saddam Hussein tidak hanya dijatuhkan dari kekuasaannya, tetapi juga divonis hukuman gantung.

Kekerasan Amerika Serikat terhadap Irak itu telah menimbulkan kemarahan anak bangsa ini yang merupakan negara muslim terbesar. Bahkan berdampak hebat pula di dalam negeri Amerika Serikat. Yaitu, menyebabkan kekalahan Partai Republik. Partai Demokrat kini yang mengendalikan Kongres yang terdiri dari DPR dan Senat.

Menolak kedatangan Bush adalah pilihan sikap yang sah. Untuk itu tersedia berbagai bentuk ekspresi yang tertib dan damai. Yang harus ditentang adalah menyatakan protes dengan menggunakan kekerasan seperti teror bom. Kekerasan tidak boleh dilawan dengan kekerasan, karena hanya menghasilkan kekerasan baru.

Yang jelas, pelaku peledakan bom kali ini telah ‘menyerahkan’ dirinya sendiri karena menjadi korban bom yang dibawanya. Polisi tidak perlu repot-repot memburu dan menangkapnya. Jika ia berhasil diselamatkan tim medis, polisi memiliki seorang pelaku peledakan bom yang tidak bisa berkelit lagi. Maka, ada harapan jaringan teror bom dapat dibongkar tuntas.

Ke depan, pemerintah hendaknya mendengarkan suara penolakan masyarakat atas kedatangan seorang pemimpin negara lain. Untuk apa mengagung-agungkan tamu jika mudarat kedatangannya jauh lebih besar.

Media Indonesia, Senin, 13 November 2006

Bom Jelang Kedatangan Bush

Setelah agak lama kita bisa bernapas lega dari teror rentatan bom, Sabtu (11/11) lalu tiba-tiba kita dikejutkan dengan ledakan bom yang terjadi di Restoran A&W di Plaza Kramat Jati Indah, Jakarta Timur. Ledakan bom ini jelas mengejutkan. Pertama, ledakan bom ini merupakan yang pertama terjadi, terutama di Jakarta, setelah Dr Azhari tewas di Batu, Malang, Jawa Timur, dalam suatu operasi oleh polisi beberapa bulan lalu. Dr Azhari adalah ahli merakit bom dan merupakan seorang dari dua gembong kelompok teror dari Malaysia yang melakukan serentatan ledakan bom di Indonesia.

Ledakan bom di restoran cepat saji dari Amerika Serikat (AS) tersebut segera saja mengingatkan kita pada kelompok teror Dr Azhari. Ini mengingat, gembong lain yang merupakan pasangan Dr Azhari, Noordin M Top, hingga kini belum tertangkap. Kalau Dr Azhari merupakan ahli merakit bom, Noordin M Top adalah ahli merekrut anak-anak muda masuk ke dalam kelompoknya. Dengan belum tertangkapnya Noordin M Top, ledakan bom di restoran tersebut segera mengingatkan kita jangan-jangan kelompok teror itu sudah mulai beraksi kembali.

Kedua, ledakan bom ini terjadi hanya beberapa hari menjelang kedatangan Presiden AS George Walker Bush ke Indonesia. Rencana kedatangan presiden dari negara super power ini telah menimbulkan hiruk pikuk di dalam negeri. Sejumlah kelompok besar masyarakat di Indonesia keberatan dan bahkan menolak kedatangan tamu dari negeri Paman Sam tersebut.

Penolakan ini bukan lantaran Bush adalah presiden AS, tapi lebih karena berbagai kebijakannya yang dinilai banyak merugikan umat Islam dan melanggar hak asasi manusia. Alih-alih Bush menumpas terorisme internasional, tapi justru sebaliknya. Ia dianggap merupakan teroris nomor wahid dunia, lantaran menggunakan kekuasaannya dari sebuah negara sangat kuat di dunia untuk meneror negara-negara lain, terutama negara Islam. Akibat kebijakan Bush, ribuan warga sipil di Irak dan Afghanistan telah meninggal dunia terkena serangan membabi-buta militer AS.

Apalagi rencana kedatangan Bush ke Indonesia juga disertai dengan pengamanan yang sangat ketat yang cenderung mengarah ke arogansi sebuah negara super power. Inilah yang juga memunculkan sikap tidak senang banyak kelompok masyarakat, terutama karena pengamanan itu akan merugikan ekonomi masyarakat kecil. Sungguh tidak masuk akal apabila untuk pengamanan seorang tamu kepala negara asing harus meliburkan anak sekolah, melarang kendaraan umum beroperasi, dan menutup jaringan telepon seluler.

Apa pun alasannya, kita mengutuk sangat keras ledakan bom yang terjadi di Plaza Kramat Jati dan di tempat-tempat lain di dunia. Meskipun ledakan bom di restoran itu sangat kecil dan tidak menewaskan warga serta merusak fasilitas umum, namun teror yang diakibatkannya sungguh sangat besar. Ledakan bom ini akan merusak iklim ekonomi yang sedang dibangun, karena mengesankan Indonesia tidak aman. Ini akan menghambat investasi masuk Indonesia.

Kita menegaskan bahwa perbuatan teror, apalagi dengan ledakan bom, tidak dihalalkan. Perbuatan teror, apa pun alasannya, sangat bertentangan dengan ajaran agama. Setiap agama, terutama Islam, mengajarkan pada kedamaian dan memerintahkan menebarkan senyum ramah penuh persahabatan. Duri di jalanan pun disuruh untuk diambil, khawatir menyakiti orang.

Di sisi lain, kita, terutama pemerintah dan para pemimpin masyarakat dan agama, harus mencari penyebab munculnya tindakan teror dan kemudian mengantisipasinya. Merupakan tanggung jawab kita bersama mengapa seorang pemuda, misalnya, sampai mempertaruhkan jiwanya mati bersama ledakan bom. Tentu ada hal yang salah di sana. Dalam hal ini, kita, khususnya pemerintah, harus sensitif terhadap opini masyarakat, terutama yang terkait dengan rencana kedatangan Bush ke Jakarta.

Republika, Senin, 13 Nopember 2006


Blog Stats

  • 471,507 hits

 

November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

a

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.