PENOLAKAN rencana kunjungan Presiden Amerika Serikat George W Bush kian meluas. Selain dari rakyat biasa dan mahasiswa, ormas Islam terbesar Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama secara resmi juga menolak hadir dalam kunjungan Bush di Istana Bogor pada Senin (20/10) nanti. Alasannya kehadiran itu dikhawatirkan akan menjadi justifikasi agama terhadap agresi Amerika di Irak.
Memang menyesakkan gempita negara menyambut sosok manusia yang hobi menabuh genderang perang itu. Korbannya yang terang benderang memang Irak dan Afghanistan. Irak kini menjadi ladang pembunuhan yang amat mengerikan. Agresi Amerika di negeri itu tidak saja telah menghancurkan negara berdaulat, tapi juga mengobarkan perang saudara. Sekurangnya 430 orang mati sia-sia setiap hari dalam konflik yang kian terbuka di Irak. Perburuan Bush terhadap jaringan terorisme yang membabi buta, juga telah menyuburkan radikalisme baru di seantero jagat. Cita-cita kerukunan dunia yang pernah dikampanyekan PBB menjadi niat luhur yang sia-sia.
Tapi, suka atau tidak, Bush adalah presiden dari sebuah negara yang kekuatannya dari segi apa pun tak tertandingi. Amerika, sekali lagi suka atau tidak, adalah kiblat dunia. Pencapaian itu pastilah bukan lahir dari para pemimpin yang memble, melainkan dari para pemimpin yang visioner dan serius membangun bangsa. Betapapun Bush kita negasi, penolakan-penolakan itu haruslah elegan. Jangan norak dan destruktif. Sebab, yang rugi kita sendiri.
Penolakan yang dikemas dengan cerdas dan kreatif akan memberikan keuntungan positif bagi bangsa ini. Kita mesti menunjukkan sebagai masyarakat dari negara yang punya adab menghormati tamu. Kita boleh tidak suka, tetapi tetap dalam koridor kesantunan.
Sebaliknya pemerintah, yang mengawali penyambutan Bush dengan amat berlebihan itu, memang kita sesalkan. Kita sepakat bahwa tamu harus kita sambut dengan rasa hormat, tetapi apakah dengan membangun helipad secara khusus dan mengorbankan Kebun Raya? Juga dengan memutus jaringan telepon? Sungguh berlebihan! Tetapi, kunjungan itu tak mungkin kita batalkan. Kita telah menghabiskan energi dan materi serbaekstra. Biaya resmi pembangunan helipad dan keamanan mencapai Rp6 miliar. Tetapi, kerugian akibat pemblokiran saluran telepon, larangan berjualan bagi pedagang kaki lima, dan penutupan kendaraan jalur umum seputar Istana Bogor, bisa mencapai Rp40 juta.
Dengan penyambutan yang serbaekstra itu, sekali lagi, kita mesti mengambil manfaat sebesar-besarnya dari kunjungan itu. Kita mesti menunjukkan sebagai tuan rumah yang punya harga diri. Sebab harga diri yang rendah telah menyebabkan kita menjadi inferior. Mentalitas inferior itulah yang menjadi kendala serius membangun bangsa ini. Karena itu, pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudoyono dengan Bush harus punya makna penting bagi kita. Sekurang-kurangnya bisa mengobati suasana batin bangsa ini yang telah lama tak punya kebanggaan.
Pertemuan itu sedikitnya harus memberi motivasi baru bagi kita bahwa Indonesia memang bangsa besar dari geografi amat luas. Kesetaraan akan membangkitkan kepercayaan diri. Dan, ini akan menjadi modal penting bagi kita untuk membangun Indonesia yang lebih unggul.
Media Indonesia, Rabu, 15 November 2006



Komentar Terakhir