Korban “Smack Down”

asus korban tiru-tiru adegan gulat bebas di televisi yang dikenal dengan acara smack down mulai bermunculan setelah tewasnya Reza Ikhsan Fadilah (9) siswa kelas III SDN Cingcin I Katapang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pertengahan November lalu. Reza meninggal setelah sempat sakit seusai bermain gulat bebas bersama tiga temannya. Sejumlah saksi menuturkan, Reza konon dipelintir kedua tangannya ke belakang dan kemudian ditindih tiga temannya. Permainan ini dilakukan meniru-niru adegan yang mereka lihat dalam tayangan televisi.

Korban lainnya ialah seorang siswa SD di Yogyakarta yang harus dirawat di rumah sakit karena gegar otak ringan setelah jatuh di-smack down kawannya. Tayangan gulat bebas di stasiun televisi Lativi sebetulnya bukanlah tayangan baru.

Program serupa juga pernah ditayangkan di stasiun televisi TPI dengan menampilkan pertarungan bebas Ulti- mate Fighting Championship. Meskipun tayangan itu disertai peringatan larangan untuk meniru adegan tersebut, na-mun faktanya anak-anak sangat meng- gemari dan suka mempraktikkannya dengan adik, kakak, atau teman bermain mereka.

Kasus yang menimpa Reza tidak dapat disebut sekadar kecelakaan, karena adegan gulat bebas telah ditiru oleh anak-anak secara meluas di Indonesia. Upaya orangtua untuk memberi pengertian pada anak-anak acapkali gagal. Anak-anak sering kali “mencuri-curi” waktu menyaksikan tayangan tersebut saat orangtua mereka lengah.

Rasa ingin tahu anak-anak ditambah masa pencarian akan tokoh-tokoh yang dapat dijadikan pahlawan atau panu- tan, terpenuhi saat menyaksikan tayangan smack down yang atraktif, meski sadis. Apalagi jam tayangnya mulai pukul 22.00 masih tergolong sore di ruang keluarga.

Minimnya pengetahuan anak-anak tentang kaidah-kaidah olahraga gulat bebas membuat mereka mengabaikan bahayanya. Itu sebabnya protes bermunculan di masyarakat belakangan ini terhadap penayangan acara gulat bebas di televisi.

Kita akui bahwa iklim kebebasan pers telah memberi keleluasaan media massa untuk menafsirkan sendiri apa yang pantas dan tidak pantas dipublikasikan. Ditambah lagi dengan perkembangan pers sebagai industri, membuat pertimbangan komersial dikedepankan dalam mengukur kepatutan informasi yang disampaikan kepada khalayak.

Idealisme dan pertanggugjawaban sosial ditempatkan di urutan kesekian. Pada televisi, sukses di zaman sekarang diukur dengan rating dan perolehan iklan. Sedangkan di suratkabar dan majalah, secara umum ukuranya adalah tiras, keterbacaan, dan perolehan iklan. Pencapaian dalam aspek idealisme tidak disebut-sebut lagi seperti pada era pers perjuangan yang lalu.

Kasus meninggalnya Reza pantas dicermati dan direnungkan oleh insan pers, terutama para pemodalnya. Media massa bukan sekadar tempat mencari keuntungan komersial.

Televisi, koran, majalah, dan radio hadir di ruang keluarga, dibaca, disaksikan, dan didengar oleh anak, orangtua, pembantu, hingga kakek serta nenek. Dampak pesan yang dipublikasikan tentu berbeda-beda pada masing-masing penerima pesan tersebut.

Meskipun kini merupakan era industri pers, media massa dari segi fungsinya bukanlah sekadar penyaji informasi dan hiburan. Undang-Undang Pokok Pers masih tegas mengamanatkan pers sebagai sarana pendidikan dan alat kontrol sosial.

Itu sebabnya kita mengimbau stasiun televisi untuk mempertimbangkan dengan lebih bijaksana lagi penayangan acara smack down. Kalaupun hendak dipertahankan, pilihlah jam tayang bukan saat bagi anak-anak menonton. Misalnya selepas tengah malam.

Demikian pula berita-berita gosip, sinetron, dan kartun yang menonjolkan urusan kawin-cerai, ketidakharmonisan hidup, dan kekerasan. Kurang pantas rasanya jika hal-hal ini kita suguhkan kepada anak-anak kita.

Konsep-konsep mengatasi masalah dan perselisihan dengan menghancurkan lawan sebagaimana dikesankan sinetron dan film-film kartun, jelas tidak pas untuk anak-anak.

Dunia anak-anak adalah dunia bermain, berselisih, berdamai, dan bermain kembali. Betul bahwa falsafah kebe- naran harus menang atas kejahatan sebagai basis informasi, namun penggambarannya tidak selalu harus dengan kekerasan.

Masih banyak cara untuk menghibur dan memberi pengajaran kepada anak-anak, tanpa harus ada korban jiwa seperti yang terjadi saat ini.

Suara Pembaruan, 27 November 2006

13 Responses to “Korban “Smack Down””


  1. 2 frozenheat November 30, 2006 pukul 7:31 pm

    Pendapat saya pribadi, akibat tidak adanya pengenalan kegiatan beladiri kepada anak-anak, akibatnya anak-anak yang melihat suatu kegiatan ‘menumpas musuh’ memiliki pandangan untuk ‘mengalahkan musuh agar jadi jagoan’. Padahal pada rata-rata anak yang diperkenalkan terhadap falsafah bela diri, sikap ingin jadi ‘jagoan’ akan berubah menjadi ‘membela diri saat diperlukan’.

    _froznheat

  2. 3 Paulin Wijaya November 30, 2006 pukul 9:00 pm

    era reformasi, khususnya industri pers, masih disikapi dengan euphoria, kebebasan yang sebebas-bebasnya. baik pemerintah dan masyarakat tidak cepat tanggap atas efek negatif era kebebasan ini, dan industri pertelevisian meraup banyak keuntungan -aji mumpung- dengan menayangkan program tv pupoler yang penuh dgn adegan kekerasan.

    sangat perlu peraturan yang tegas untuk melindungi anak-anak kita. acara-acara bertema dewasa/kekerasan jgn ditayangkan saat prime time. org tua pun wajib mendidik anak-anak mereka tentang tayangan mana yang pantas/tidak pantas bagi anak-anak. harus ada kontrol dari orang tua. ini tanggungjawab org tua terhadap anak-anak mereka yang tidak bisa diberikan kepada pemerintah atawa industri pertelevisian.

  3. 4 ed.wibowo Desember 5, 2006 pukul 10:00 am

    Lantaran bangsa kita tercerabut dari akar budayanya sendiri dan menjadi limbung budaya pula karenanya. Seolah apapun produk dari barat selalu lebih unggul dan layak ditiru.
    Celakanya para pelaku bisnis, termasuk industri pertelevisian hanya berorientasi pada keuntungan semata. Kekerasan menjadi komoditi yang sangat menggiurkan untuk dijual, memanfaatkan limbung budaya dan rendahnya pendidikan masyarakat. Sementara nilai etika moral dikesampingkan.
    Tidak heran kasus korban akibat dampak tayangan acara smack down tinggal menunggu waktu. Terbukti dengan jatuh tewasnya seorang anak lelaki di Jawa Barat.
    Masih banyak lagi akan terjadi akibat dampak kekerasan yang dilakukan media. Dan media harus bertanggung jawab dan mempertanggung jawabkannya.

  4. 5 Dio Desember 6, 2006 pukul 7:51 pm

    Seringkali kita menyalahkan situasi tanpa mendalami lebih jauh situasi tesebut. Acara Smackdown beserta variannya adalh acara entertainment sport yang memang menjadi tontonan dewasa. Bila pada kenyataannya anak-anak turut menonton, sebagai orang tua ataupun yang dituakan di lingkungan keluarga,kita harus mengayomi,mendidik dan menjelaskan perihal acara tersebut beserta risikonya bila dilakukan. Acara tersebut sebenarnya tidak bisa dipersalahkan, karena tujuannya adalah entertaining. Sekarang tinggal kita sebagai orang dewasa mendidik anak-anak kita, adik-adik kita agar tidak meniru adegan-adegan dalam smackdown. Bila perlu, jangan ijinkan mereka mengkonsumsi hal-hal yang berbau smackdown.

  5. 6 Diah widowati_Mahasiswi Psikologi UNS '05 Desember 18, 2006 pukul 1:17 pm

    Menurut saya anak-anak pada usia parasekolah dan sekolah memang memiliki perkembangan kepribadian mengidentifikasikan dirinya dengan orang yang diidolakan oleh mereka. Kita tidak bisa hanya menyalahkan pada satu pihak yaitu pada anak-anak. Tapi kita juga harus melihat pada pihak asuh orang tua yang kadang-kadang tidak memantau anaknya secara seksama. Mereka berpikir bahwa hal-hal kecil seperti tayangan smack down seperti itu adalah hal yang sepele dan tidak membahayakan. Bila saja mereka tahu bahwa pada usia anak-anak khususnya antara 2-7 tahun mereka cenderung meniru hal-hal yang pada masa lampau, khususnya terhadap apa yang baru saja dilihatnya. Anak-anak menyimpan dengan baik gerakan-gerakan yang baru saja dilihat dengan baik kedalam memori mereka. jadi wajar jika mereka mempraktekkannya pada teman yang lain. Sedangkan pada usia tersebut, anak belum tahu, apa itu norma.
    Himbauan pada orang tua agar selalu memantau apa yang dilihat anak dalam televisi dan mengajarkan mereka untuk melihat tayangan yang mendidik adalah sangat penting. Usia ini adalah kesempatan paling baik untuk membentuk pribadi anak yang sempurna.

  6. 7 fertobhades Desember 21, 2006 pukul 10:45 pm

    @ Diah :
    Jawaban seorang mahasiswa psikologi… :-) no offense lho…

    Anak-anak tidak bisa disalahkan karena meniru gerakan2 dlm tayangan smack-down. dunia di luar anak-anak yang seharusnya disalahkan atas jatuhnya korban, termasuk orang tua, pemerintah, televisi, lingkungan sosial, dll….

  7. 8 AdhAn Januari 5, 2007 pukul 10:14 am

    masa kecil adalah masa dimana kita ingin kita mengenal sesuatu. jadi jangan disalahkan apabila ada yang cedera. peran orang tua harus andil dalam bagian

  8. 9 ika farizta Januari 17, 2007 pukul 1:59 pm

    Anak2 tidak dapat disalahkan atas kejadian2 tragis itu.Dia hanya mengikuti keingintauan mereka dan anak2 tersebut tidak mengetahui akibat nya.seperti balita yang sedang belajar berjalan,balita tersebut hanya ingin berjalan,berjalan dan berjalan.Kemudian ketika mereka terjatuh,berusaha agar dapat belajar dan berjalan sesegera mungkin.Anak2,orangtua,dan pihak2 lainnya smua belajar atas kjadian ini….anak2 korban smackdown belajar untuk tidak mengulanginya…orang tua belajar untuk lebih mmperhatikan anak2ny…..pemerintah belajar untuk lebih tanggap…dan lainnya.

    -ika-


  1. 1 Smack Down dan Garam « fertob Lacak balik pada Desember 5, 2006 pukul 11:16 pm
  2. 2 Apa Bedanya WWE dan IPDN « Catatan Harian Soe Genk Gie Lacak balik pada April 16, 2007 pukul 1:33 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 697,386 hits
November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: