Budaya Smackdown di Sekitar Kita

- Dampak tayangan pertarungan smackdown di televisi mengapa baru diributkan sekarang, setelah jatuh korban? Bukankah duel gaya bebas itu sudah lama ditayangkan di banyak televisi kita? Kini, kita justru merasa bahwa reaksi-reaksi keras yang muncul tersebut sedikit terlambat. Ketika sejumlah anak menjadi korban peniruan adegan kekerasan, baru seolah-olah kita menyadari betapa berbahaya dampak tayangan itu. Namun, kita tetap menghargai upaya berbagai pihak untuk mencoba mencari formula bagi keselamatan dan masa depan anak-anak, dengan mengajak semua pihak terkait untuk merenungkan dan melakukan langkah-langkah nyata.

- Setelah pertemuan antara Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) dengan manajemen PT Lativi Media Karya tidak menemukan titik temu, sehari kemudian akhirnya Lativi bersedia menghentikan tayangan smackdown. Semula pihak televisi tersebut berdalih telah mengikuti petunjuk pelaksanaan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), yaitu menggeser jam tayang dari pukul 21.00 ke pukul 22.00, juga sudah terikat kontrak dengan sponsor. Narasi yang menekankan tayangan tersebut khusus untuk dewasa pun sebenarnya tidak terlalu menolong. Artinya, pertimbangan kemaslahatan masyarakat masih tertindih oleh kepentingan bisnis.

- Haruslah diakui, banyak tayangan televisi yang kurang mempertimbangkan antar aspek psikologis dan efek merusak. Bahkan, sinetron berlatar belakang keagamaan pun tanpa disadari banyak yang sangat memojokkan perempuan sebagai sumber bencana kehidupan. Ada aspek preventif yang terabaikan, yakni mengetengahkan berbagai pertimbangan tentang dampak, khususnya kesadaran mengenai target pemirsa yang tentu sangat sulit difilter; apakah khusus dewasa, apakah boleh ditonton oleh anak-anak. Hanya menyerahkan kepada orang tua dan guru untuk mendampingi dan memberikan penjelasan, jelas bukan merupakan langkah bijak.

- Yang sangat menonjol justru tren ketika media-media harus bersaing merebut kue pemirsa, dengan mata acara yang dianggap memiliki nilai lebih dibandingkan dengan media lain. Dan, itulah sesungguhnya jiwa kapitalisme global. Atas nama rating dan iklan, aspek-aspek dampak dinomorsekiankan. Terkadang juga berkesan prosedural, dengan menjustifikasi rekomendasi lembaga sensor. Memang kontrol publik banyak disuarakan mengenai keberatan terhadap sejumlah siaran, misalnya melalui para pengamat media dan televisi, lembaga sosial-keagamaan, juga media watch, tetapi sejauh ini kita belum melihat adanya perubahan perilaku.

- Selanjutnya bagaimana seharusnya kita bersikap, ketika suatu tayangan jelas-jelas memberikan ancaman dan menciptakan “horor” di tengah masyarakat? Apakah para praktisi televisi akan tetap bersikap bahwa di era informasi seperti sekarang ini masyarakat dibiarkan menyaring sendiri mana yang cocok dan mana yang tidak cocok untuk mereka? Apakah sebuah institusi bisnis media tidak mau merenungkan dan menangkap realitas sosial akibat produk-produk tayangannya? Keresahan yang sekarang terjadi akibat pola peniruan smackdown adalah potret nyata betapa besar peran media dalam membentuk perilaku, bahkan dengan “korban” anak-anak.

- Budaya kekerasan, adopsi gaya hidup, dan serapan nilai-nilai konsumerisme melalui media merupakan realitas yang menjadi bagian dari dinamika kehidupan itu sendiri. Namun, kita tidak boleh menyikapi sekadar sebagai konsekuensi, tetapi harus punya keyakinan bisa bertindak secara preventif. Antara lain, mengajak stasiun-stasiun televisi memiliki simpati, empati, dan keterlibatan dalam penyelamatan anak-anak sebagai aset. Anak adalah potret masa depan bangsa. Janganlah potensi kekerasan makin diguyur dengan semangat smackdown, yakni dengan fenomena kehidupan brutal, menindas, dan hanya mengandalkan okol (kekuasaan).

Suara Merdeka, Kamis, 30 Nopember 2006

About these ads

2 Responses to “Budaya Smackdown di Sekitar Kita”


  1. 1 batista Desember 12, 2006 pukul 6:50 pm

    emang bener,,tu acara smackdown kan dah ada luama banget, napa baru sekarang d ributkan?? heran deh,,
    seharuse people2 ga’ nyalahin pada smackdown-nya aja dunk, tu anak2-e d kasih tau tu bukan untuk konsumsi mereka. lagipula d tayangan smackdown kan dah d kasih peringatan “don’t try at home”, iya tau ada sebagian anak yg blm bisa mengartikan peringatan itu.. tapi bagaimana dngan orang tua mereka?? selaen itu tayangan smackdown kan juga d puter jam 9 malem, bagi anak2 yang hidup dalam keluarga “normal” jam segitu tu seharuse dah jam tidur anak2 apalagi masih SD.
    kok smackdown seh yg terus2an d jadiin problem, udah gt langsung ga’ boleh tayang d tv lagi,,please deh terus gimana dngan nasib kita2 yang udah nganggep itu sebagai hiburan. jangan langsung d ilangin gitu donk tayangan d tivi-nya, pindah jam tayang lebih malem lagi kan juga bisa. kita2 kan jg btuh hiburan dan salah satunya yang paling menghibur dan menarik ya itu SMACKDOWN. buat saya yang udah lama banget mengikuti itu acara ngarasa keilangan banget lho.. nelangsa deh.
    padahal smackdown ga’ hanya ada d tivi, d luar itu banyak kok. tu rental2 Ps juga nyediain bejibun kaset2 smackdown. kalo emang niat mo ngilangin smackdown dari indonesia jangan cm ngilangin tayangannya d tivi doang donk. tu sekalian rental2 Ps suruh tutup, penjual kaset2 ma poster2 smackdown suruh kukut biar ni bumi indonesia terbebas dari belenggu smackdown !!!
    enough,, tu semua dah lumayan cukup ngurangin gondokan ni ati semenjak smackdown d ilangin en d anggep jd salah satu problem serius di indonesia. dasar orang-orang aneh……….
    hidup smackdown

  2. 2 arifkurniawan Desember 14, 2006 pukul 6:13 am

    Setuju ama Batista… banyak hal yang lebih urgent yang harus diurusin. Loh kok SMEKDON yang dijadikan korban!

    Jujur aje, saya sendiri menganggap smackdown itu adalah ‘aksi laga film India yang dilakukan oleh para laki-laki bertubuh besar dan berkulit putih yang berpotensi tinggi menjadi buncit di hari tua demi kepuasaan anak-anak kecil yang hobi gulet-guletan’. Walaupun begitu, bukan berarti smackdown layak jadi korban.

    Pak Harto gimana tuh, udah nilep berapa nyawa? Dicuekin aje… ceillee Indonesia (maksudnya pemerintahnya loh! tidak termasuk bagian RT/RW. Tapi dari kelurahan keatas udah gue tempatkan sebagai pemerintah RI). Jaman gini, masih nyuekin nyawa orang!

    HIDUP SMEKDON

    n.b: Pak Harto nggak hobi nonton SmackDown! Tanya ajah ama Jody kalo nggak percaya


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 699,881 hits
November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: