Kelangkaan Minyak Tanah Bisakah Dijelaskan?

- Kelangkaan minyak tanah terjadi di wilayah Jakarta, Tangerang, Depok, Bogor, dan sejumlah daerah. Hal tersebut dikhawatirkan bisa meluas bila tidak cepat-cepat ditangani, termasuk di Jawa Tengah. Pemandangan yang agak aneh terjadi ketika puluhan orang harus berdiri antre membeli minyak tanah. Bagaimana situasi seperti itu bisa terjadi pada masa sekarang? Dapatkah dijelaskan bagaimana duduk persoalan yang sebenarnya. Apakah ada persoalan di produksi ataukah di distribusi. Yang jelas, tidak ada alasan untuk membiarkan hal itu terus terjadi dan tidak ada pula alasan bagi pemerintah atau dalam hal ini Pertamina untuk tidak mampu mengatasinya.

- Dalam persoalan seperti ini sering kali banyak pihak saling melempar tanggung jawab. Pada akhirnya sulit dijelaskan, apa sebenarnya yang terjadi. Untuk masalah ini, pemerintah tak boleh main-main. Sebab, minyak tanah termasuk komoditas vital dan strategis serta dipergunakan oleh masyarakat yang berpenghasilan kecil. Dugaan sementara mengatakan ada kesengajaan pihak-pihak tertentu untuk mengambil sebagian dari kuota minyak tanah yang disubsidi. Apalagi motifnya, kalau bukan mencari keuntungan. Sekitar 30 persen diperkirakan hilang dan hal itu tentu dilakukan oleh mereka, yang biasa memainkan distribusi.

- Seperti diketahui, untuk membantu rakyat kecil, pemerintah menyubsidi minyak tanah. Subsidi sebesar Rp 2000 diberikan bagi sekitar 9,9 juta kiloliter minyak tanah. Dan sepertiganya diduga hilang dari pasaran saat distribusi. Inilah salah satu kelemahan pola subsidi, yakni mendorong pihak-pihak tertentu untuk mengambil bagian dan menjual kembali di luar jalur agar memperoleh keuntungan besar. Dan ketika yang diambil sudah begitu banyak, maka distribusi di pasar terganggu. Sebab, permintaan minyak tanah relatif tetap serta sudah bisa diperkirakan sebelumnya. Dengan demikian, gangguan bukan kepada produksi atau pasokan, melainkan kepada distribusinya.

- Dapat diduga, itulah permainan spekulan dan pedagang. Pola seperti itu sudah dikenal dan sudah pula banyak kegiatan penyelundupan BBM bersubsidi ke luar negeri yang berhasil dibongkar, tetapi mengapa masih terus terjadi. Mungkinkah mereka lebih lihai dibanding aparat keamanan ataukah justru telah melakukan kerja sama dengan aparat serta oknum-oknum di dalam Pertamina. Boleh saja dugaan tersebut dikembangkan sebagai bahan penyelidikan. Bagaimana pun hal itu tak boleh dibiarkan dan sesungguhnya tidak sulit pula melacaknya, sebab pola distribusi yang ada bukanlah sesuatu yang baru dan sudah berjalan sejak dahulu.

- Rasanya kita tak akan bisa menjelaskan kelangkaan minyak tanah dalam arti mencari alasan pembenar, maka pemerintah, khususnya Pertamina, mesti bertanggung jawab. Ini bukan main-main, sebab sebagai komoditas vital dampak permasalahan seperti itu bisa meluas. Tidak hanya dampak ekonomi, tetapi juga sosial, politik, dan sebagainya. Mengurusi soal minyak tanah saja tidak beres, apalagi yang lain. Untuk itu, ukuran keberhasilan atau citra sebuah pemerintahan sebenarnya tergantung kepada urusan-urusan pelayanan rakyat kecil seperti ini. Maka, mau tidak mau, kelangkaan minyak tanah, terlepas dari apa penyebabnya, tidak boleh terjadi.

- Betapa penting menguasai jaringan distribusi untuk komoditas seperti minyak tanah. Pemain swasta, terutama pedagang, tak harus dimatikan perannya, namun harus tetap diawasi ketat agar mereka tak menyeleweng. Barang-barang dengan harga subsidi rawan terhadap penyelewengan seperti itu, sebab pedagang pun selalu melihat besarnya peluang meraup keuntungan besar. Memperoleh barang dengan harga subsidi, kemudian menjualnya di pasar bebas dengan harga normal. Bagaimanapun juga, tindakan pelanggaran seperti itu harus dipatahkan. Dan Pertamina tentu mempunyai pengalaman untuk tidak bisa dibodohi, kecuali jika ada orang dalam yang justru ikut bermain.

Suara Merdeka, Kamis, 30 Nopember 2006

14 Responses to “Kelangkaan Minyak Tanah Bisakah Dijelaskan?”


  1. 1 asf Desember 8, 2006 pukul 4:41 pm

    Apakah ada kaitannya dengan rencana penggunaan bahan bakar gas untuk rumah tangga?
    Minyaknya pelan-pelan dikurangi. Kalau kelakuan nakal pedagang, kok bisa terjadi di berbagai daerah?

  2. 2 Ricardo@boomerang.com Agustus 28, 2007 pukul 9:41 am

    Ah… Ini khan cuma-cuma akal-akalan para tengkulak aja nyang 3 taon lalu dipilih jadi punggawa negeri ini…
    nyang namanya tengkulak tetap aja otaknya cuma “ngeruk duit” dari orang, gak peduli itu rakyat berpenghasilan kecil atau gak berpenghasilan..* who care?*

    sekarang rakyat disuruh mingrasi dari minyak tanah ke gas…
    trus minyak tanah ditahan…gak boleh beredar… nah lho!
    proses seleksi alam buatan para tengkulak berjalan sukses…rakyat yg gak sanggup “menyesuaikan diri” akan terpuruk kedalam lubang kemiskinan yg makin parah, mungkin malah akan “binasa” (bagus khan sekian persen orang miskin akan musnah dari negeri ini…kira2 begitu pikiran si tengkulak yg jadi punggawa negeri ini*jadi misi program menghapus kemisikinan dari negeri ini sukses total…*)

    Nah selanjutnya…dari sekian persen yg sanggup berdaptasi..kelak akan akan diperhadapkan pada ketergantungan ama GAS, kalo udah tergantung ama gas, serta minyak tanah “lenyap untuk rakyat, padahal mungkin aja di export ke Ln..duitnya muter di pertami***”… Nah saatnya dah tuh harga GAS dilambungkan setinggi-tingginya…Maka datanglah masa dimana rakyat harus memilih binasa atau bertahan, dan para tengkulak yang katanya dipilih jadi punggawa negeri ini oleh rakyat, akan semakin berkibar berlimpah-limpah keuntungan tiada tara…. (coba aja deh nanti lihat, siapa yg akan jadi pemain tunggal distribusi gas rakyat atau gas secara umum…Pasti akan lahir monopoli..dan biasanya nyang punya saham adalah gak lain keluarga atau kolega dari si tengkulak nyang kebetulan adalah punggawa negeri ini)

    hidup rakyat indonesia, hidup UUD pasal 33, nyang katanya kekayaan alam dan sumber daya alam dipergunakan untuk kepentingan dan kemakmuran rakyat… Nah lho..koq malah kebalik? sumber daya alam dan kekayaan alam malah dipergunakan untuk mempermainkan kesengsaraan rakyat serta dipergunakan sebesar-besarnya untuk mengeruk keuntungan para tengkulak nyang dipilih jadi punggawa negeri ini…Hahahah IRONIS…………..

  3. 3 vami varendra Maret 30, 2008 pukul 6:31 pm

    Wah tiap taon harga terus naik, ntah taon brapa ya sebutir permen harganya jadi 1 juta ?

  4. 5 aris Juli 17, 2008 pukul 1:16 pm

    banyak org sdh jenuh dg yang namanya bisnis jaringan ,namun pada saat ini telah hadir sebuah bisnis jaringan generasi ke tiga dlm bisnis jaringan ,selama inipemain bisnis jaringan selalu kehabisan napas sebelum mendapatkan penghasilan yang di inginkan krn tingginya biaya operasional tdk sesuai dg pendapatan/yang disebut dg bisnis MLM MURNI tapi ada juga yg dpt penghasilan besar sesuai dg biaya operasional (perusahaannya tdk bertahan lama)yang disebut dg bisnis MLM BINARY ,sekarang telah hadir sebuah bisnis MLM yang menggabungkan kedua sistem MLM tsb dimana produknya sangat dibutuhkan n sesai dg kebutuhan masyarakat umum n didukung oleh PEMERINTAH yaitu PENGHEMAT BAHAN BAKAR MINYAK (bensin, solar,minyak tanah) dg penghasilan yg ditawarkan Rp.500.000/hari, RP.510 juat/bln utk inpormasi
    hub;085222735896
    atau buka wb;
    http://unitynetwork-intl.com/default.asp?ref=9534
    semoga inpormasi ini bermanpaat untuk anda, keluarga dan masyarakat indonesia pada umumnya.SUKSES SELALU UNTUK ANDA (INGIN BUKTI??? COBALAH BUKA WEBNYA, INGIN KAYA??? COBALAH BERUSAHA)

  5. 6 Bastian Ramadhan Agustus 13, 2008 pukul 6:35 pm

    saya sebagai warga bangsa INDONESIA, sangat malu. karena SDA Indonesia tidaklah habis karena Kebodohan dari SDM Indonesia sendiri. tak tahu kenapa Indonesia meng-import minyak jadi/matang dari Negara Singapore. padahal Indonesia sendiri meng-export minyak mentah ke Negara Singapore. Itulah kesalahan SDM Indonesia sendiri, bukannya minyak di Indonesia langkah tetapi SDM Indonesia itu kurang pintar

  6. 7 y.harsedila April 27, 2009 pukul 11:05 am

    pemerintah itu lah dalang semuanya………….

  7. 8 triworo Agustus 12, 2010 pukul 11:14 am

    kalo harga permrnt 1 biji 1 juta mending kiamat j………………

  8. 9 dian ariska Agustus 19, 2010 pukul 2:06 pm

    rakyat pusing mau pake apa
    pake tabung gas tkut mledak
    pake m.tanah malah langka
    pusing booooooooooo

  9. 10 dincul Agustus 20, 2010 pukul 8:44 pm

    cabe deehh .. perasaan kayaknya addaaa ajah yg langka.. kali2 gitu sejahtera ni negri..

  10. 12 haryoshi Oktober 11, 2010 pukul 1:27 pm

    koq pd langka smua y…..
    minyak tanah langka….
    fauna jg udh bnyk yg langka….
    mo kiamat nech kyknya.

  11. 13 Noval S.A November 9, 2010 pukul 12:35 pm

    broe,,,,
    bakan Minyak anah Ajjja yang langka,,,,
    pih cowok jga udah langka skarang oii….

    pa cowok di Indonesia udah di Ekspor ke luar negeri smua.., wuhahahaha


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 691,714 hits
November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: