Arsip untuk Desember, 2006

Spirit Pengorbanan dalam Idul Adha

IDUL Adha adalah hari penuh kemenangan besar. Dalam hari yang dirayakan kaum muslimin seluruh dunia itu terkandung nilai kepatuhan dan keikhlasan saat menjalankan perintah Allah SWT. Idul Adha adalah wujud keikhlasan yang tak tertandingi.

Ia adalah hari ketika ajaran Nabi Ibrahim AS menjadi teladan. Ia juga menjadi salah satu monumen terbesar umat manusia untuk menandai betapa dalam menjalankan perintah Sang Pencipta, manusia harus ikhlas merelakan apa pun yang paling berharga dalam hidup. Termasuk melepas anak terkasih bila itu memang dikehendaki Sang Khalik.

Dan ritual penyembelihan Ismail oleh sang ayah, Ibrahim, menjadi salah satu hikmah terpenting dari hakikat Idul Adha. Di sana ada kepatuhan, ketulusan, dan keikhlasan. Di sana ada pula spirit untuk berkorban. Itulah contoh pengorbanan terbesar yang pernah dilakukan hamba Allah.

Spirit pengorbanan dengan bobot sekaliber Ibrahim saat menyembelih sang anak, Ismail, adalah amal langka dalam konteks kekinian. Ia menjadi sebuah kemustahilan, bahkan keajaiban.

Pada era ketika individualisme meraih pencapaian tertinggi di puncak kejayaan materialisme seperti sekarang ini, spirit pengorbanan lebih bermakna ziarah kepada egosentrisme.

Kini hal-hal yang menyangkut pengorbanan telah banyak yang hilang digantikan dengan spirit mengabdi kepada motif mendapatkan keuntungan setinggi-tingginya. Semua dilakukan dengan pamrih yang kian lama kian menjauhkan individu dari ikatan-ikatan sosial. Idul Adha mengandung spirit untuk menautkan kembali ikatan-ikatan yang telah terlepas itu.

Karena itu, spirit yang terlahir sekian ratus tahun lalu itu menjadi sangat relevan hingga hari ini. Dalam konteks Indonesia, semangat ini bahkan telah menjadi sebuah urgensi. Banyak persoalan bangsa muncul akibat lemahnya spirit untuk berkorban bagi orang lain, spirit untuk berkorban bagi sesama.

Yang jauh lebih menonjol dalam kehidupan sehari-hari sekarang adalah semangat untuk menang sendiri, kaya sendiri, berkuasa sendiri, dan benar sendiri. Spirit seperti ini sudah barang pasti tak menghiraukan penderitaan sesama.

Korupsi, kolusi, dan konspirasi adalah fenomena yang terlahir dari dominasi tata nilai seperti itu. Dan menjadi sebuah kelaziman bila sebagai dampaknya lahirlah penyakit-penyakit sosial. Seperti kemiskinan, kebodohan, kejahatan, keterbelakangan, dan ketertindasan.

Adalah saat yang tepat bagi bangsa ini untuk mengambil hikmah atas hakikat Idul Adha. Tepat karena bangsa ini masih berkubang dalam krisis setelah terpuruk hampir satu dekade. Tepat pula karena di seluruh penjuru negeri kian banyak saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang membutuhkan uluran tangan akibat kehidupan yang serbakekurangan.

Korban tsunami di Aceh dan Sumatra Utara masih banyak yang didera nestapa. Juga korban gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah, korban banjir di Sumatra, dan korban lumpur panas di Sidoarjo. Semua kenestapaan itu menunggu pengamalan atas spirit yang membebaskan.

Media Indonesia, Sabtu, 30 Desember 2006

Momentum Idul Adha

Lebih dari empat juta saudara-saudara kita sesama Muslim kemarin melaksanakan wukuf di Padang Arafah. Kita yang berada di Tanah Air pun ada yang melaksanakan puasa sunat Arafah, dilanjutkan keesokan harinya melaksanakan Shalat Id. Perbedaan pelaksanaannya pada hari ini dan besok, bukanlah menjadi masalah. Justru sebaliknya, kekuatan umat semakin rekat dengan saling menghargai adanya perbedaan dan menerimanya sebagai rahmat.

Secara kebetulan Hari Raya Idul Adha 1427 Hijriyah atau yang sering kita sebut sebagai Lebaran Haji, waktunya berdekatan dengan awal tahun baru Masehi. Bertitik tolak dari hal itu, kita bisa mengambil pelajaran dari apa yang telah kita lakukan, baik sebagai pribadi maupun anggota masyarakat, menjadi langkah awal kita untuk memperbaikinya di lembaran hari di tahun yang baru. Meski setiap hari seharusnya menjadi lebih baik dari hari sebelumnya, namun tak ada salahnya bila momentumnya di saat selepas Idul Adha dan memasuki awal tahun baru.

Banyak hal bisa kita petik hikmahnya dari momentum Idul Adha. Keikhlasan dan kerelaan kita berkurban semata untuk Allah memberi dimensi lain berupa pemupukan rasa kesetiakawanan sosial kita terhadap sesama. Apalagi dalam suasana masyarakat kita yang belum lepas dari belitan krisis ekonomi disertai bencana alam yang datang silih berganti. Hal ini memerlukan uluran tangan kita yang mampu dan tak terkena bencana untuk menolong yang lemah.

Dimensi sosial dari Idul Adha mengajarkan kita untuk berempati terhadap saudara-saudara kita yang lemah ekonominya sekaligus menanam sifat silaturahim. Momentum ini amat tepat bagi kita untuk senantiasa berbagi dengan sesama. Syukur-syukur tidak sekadar menjadi sesuatu rutinitas tahunan belaka tanpa makna. Sifat kerelaan dan mau berkurban juga dapat kita lakukan pada waktu-waktu yang lain. Jadikanlah sifat tolong-menolong sebagai bagian dari langkah kita sehar-hari.

Sejak bergulirnya reformasi pada delapan tahun silam, sifat-sifat tolong-menolong di masyarakat kita telah mengalami kelunturan. Gotong-royong yang telah menjadi falsafah hidup nenek moyang kita bagai hilang tergerus zaman. Segala sesuatunya selalu diukur dengan materi dan uang. Di antara kita mungkin pernah menemui dalam kehidupan keseharian, bahkan untuk menshalatkan jenazah saja keluarga yang sedang berduka harus menyiapkan amplop. Materi telah menggoyahkan keimanan. Semoga saja hal ini tak terjadi pada diri kita.

Sikap ramah sebagai bagian dari dimensi sosial itu juga terbawa arus reformasi. Entah kenapa masyarakat kita menjadi mudah tersulut emosi dan cepat marah. Tak jarang kita melihat aksi-aksi anarki yang mengiringi unjuk rasa berupa pembakaran fasilitas umum maupun properti milik individu.

Kejadian-kejadian seperti ini tak cuma kita temui dalam kasus-kasus politik dan pilkada saja, tapi juga dalam kasus-kasus perbedaan keyakinan. Nah, momentum Idul Adha yang sarat dengan pesan-pesan sosial semoga saja juga menyentak mata hati kita semua untuk menjaga sifat ramah dalam kehidupan sehari-hari.

Selepas Idul Adha kita memasuki tahun baru Masehi. Tak ada salahnya bila pesan-pesan sosial dalam Idul Adha menjadi pijakan kita dalam melangkah di tahun yang baru agar lebih baik dan bermakna. Marilah kita kembangkan sifat ramah dan tolong-menolong dalam hidup ini. Selamat Idul Adha, selamat tahun baru.

Republika, Sabtu, 30 Desember 2006

Tindakan Konkret Presiden

MENJELANG tutup tahun, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meniupkan harapan baru. Yaitu, Presiden akan melakukan tindakan konkret, langsung, dan menggunakan bahasa terang dalam mengelola masalah negeri ini.

Dua tahun memimpin negara, Presiden mengatakan telah banyak melakukan pendekatan persuasif. Memasuki tahun ketiga pemerintahannya, Presiden akan mengubah gaya kepemimpinannya lebih tegas dan terbuka, sehingga pers bisa mengaudit apa yang dilakukan negara.

“Kurang katakanlah kurang, baik katakanlah baik. Dengan demikian, tidak ada dusta di antara kita,” ujar Presiden dalam pidato menyambut ulang tahun ke-69 Kantor Berita Antara (26/12).

Pernyataan itu menunjukkan hal yang sangat positif. Yaitu, Presiden mendengarkan kritik yang ditujukan kepada dirinya. Kritik itu ialah Yudhoyono dinilai kurang tegas, lebih banyak berwacana ketimbang bertindak.

Presiden Yudhoyono memang memiliki kekuatan dalam menjelaskan persoalan bangsa dengan penuturan yang teratur, bahasa yang baik dan benar, kaya argumentasi, serta ekspresi penyampaian yang persuasif. Inilah kekuatan yang antara lain membuat Yudhoyono merebut popularitas serta dipilih oleh rakyat menjadi presiden.

Namun, dua tahun memimpin negara, membuka mata publik bahwa banyak persoalan bangsa tidak dapat dibereskan semata mengandalkan gaya persuasi. Memimpin jelas memerlukan ketegasan dan tindakan konkret, sebab akhirnya yang dituntut adalah hasil nyata. Efektivitas kepemimpinan yang membuahkan kinerja itulah yang ditunggu oleh rakyat.

Presiden Yudhoyono rupanya melakukan introspeksi. Ia menjawab kritik mengenai kekurangannya itu dengan mengatakan ke depan akan melakukan tindakan konkret, langsung, dan menggunakan bahasa terang.

Melakukan tindakan konkret pada dasarnya mengurangi verbalisme. Memperpendek jarak antara kata-kata dan perbuatan. Bahkan, mestinya lebih banyak perbuatan daripada perkataan. Ringkasnya, sedikit bicara, banyak bekerja.

Indikatornya sangat gampang. Rapat kabinet jangan memakan waktu berjam-jam, sehingga rapat kabinet lebih mirip seminar atau simposium. Verbalisme itu tampak, jika setelah rapat kabinet yang berjam-jam, hasilnya pemerintah akan mengkaji, atau Presiden masih akan mengendapkan. Yang begini gamblang bukan gaya memimpin melakukan tindakan konkret.

Kata-kata mengkaji, mempelajari, mengendapkan, lebih baik dipindahkan ke universitas atau ke pusat-pusat penelitian. Sedangkan kabinet mestinya lebih banyak menggunakan kata-kata seperti bertindak, melaksanakan, mengeksekusi.

Dua tahun untuk mempelajari, mengkaji, dan mengendapkan, adalah waktu yang lebih dari cukup. Lebih dari cukup, karena itu berarti telah menyita 40% dari lima tahun masa jabatan presiden. Yudhoyono hanya memiliki sisa waktu tiga tahun, dan itu pun sebagian akan dihabiskan oleh hiruk pikuk mempersiapkan diri maju lagi dalam Pemilu 2009.

Oleh karena itu, janji akan melakukan tindakan konkret bisa ditunjukkan dengan melakukan beberapa hal yang konkret. Yang sangat urgen, misalnya, komitmen memberantas korupsi. Bisakah Presiden menggerakkan dunia hukum negeri ini sehingga pembuktian terbalik dan perlindungan saksi menjadi konkret?

Yang juga ditunggu konkret adalah reformasi birokrasi. Birokrasi masih berbelit-belit, mempertahankan paradigma sakit, yaitu bila bisa dipersulit, mengapa dibikin gampang.

Melakukan tindakan konkret, memasuki wilayah praksis. Wilayah pembuktian, bahwa kata-kata dan perbuatan adalah satu. Bila tidak, bukan saja ada dusta di antara kita, melainkan lidah memang tidak bertulang.

Media Indonesia, Jum’at, 29 Desember 2006

Bencana Setelah Tsunami

Siapa menyangka upaya untuk bangkit dari bencana tsunami justru menjadi pembuka hadirnya bencana baru. Itulah yang sedang terjadi di Aceh. Tidak ada seorang pun di antara kita yang mengharapkan bencana itu terjadi. Media massa pun tidak ingin terus-menerus memberitakan kesedihan di tengah bangsa kita ini. Sangat ingin media massa memberitakan hal besar yang bisa membuat kita semua bangga.

Namun, lagi-lagi kenyataan pahit itulah yang harus kita terima dan kita alami. Mau tidak mau media massa mengangkatnya untuk membuat semua orang sadar apa yang menjadi penyebabnya dan berupaya keras untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah.

Korban tewas yang hampir mencapai 100 orang dan lebih dari 200.000 orang yang harus mengungsi bukanlah jumlah yang sedikit. Meski tidak sebesar bencana tsunami dua tahun lalu, bencana banjir bandang yang menimpa kawasan Aceh Timur tergolong bencana besar, apalagi jika kita lihat warga yang terjebak dalam kurungan banjir yang mencapai empat meter dan mereka tidak bisa pergi ke mana-mana.

Berbeda dengan bencana tsunami yang setelah gelombang besar itu kembali ke laut masih memungkinkan kita untuk menggunakan jalur darat, dalam banjir kali ini praktis tidak mungkin lagi bantuan diberikan melalui darat. Dibutuhkan sarana yang lain, entah itu perahu karet ataupun helikopter. Itulah yang membuat lebih dramatis upaya penyelamatan yang harus kita lakukan.

Bencana ini bukan disebabkan oleh tingginya curah hujan. Bencana ini terjadi karena kesalahan kita sendiri dalam mengelola hutan. Ketidakmampuan kita untuk menata pengelolaan hutan secara baik membuat kita harus membayar kesalahan itu dengan sangat mahal.

Sejak awal sudah diingatkan, pembangunan kembali Aceh pascatsunami jangan merusak keseimbangan alam yang ada. Namun, ambisi untuk membangun kembali Aceh membuat kita melupakan semua itu.

Kesalahan seperti ini bukan hanya monopoli kita. Di banyak negara pun, ambisi untuk membangun negeri membuat banyak sumber daya alam harus dikorbankan. Kita lupa bahwa kemajuan bukan hanya diukur dari banyaknya bangunan beton yang bisa kita dirikan. Kemajuan juga adalah kalau kita bisa hidup tenang, damai, dan tidak lagi ada ancaman.

Karena itulah kita mengkritik pendekatan lembaga internasional dalam mengukur keberhasilan sebuah negara. Indikator pendapatan di bawah 2 dollar AS sebagai negara yang tertinggal membuat semuanya berlomba sekadar membangun ekonomi, lupa untuk juga membangun kehidupan sosial yang lebih seimbang.

Kita ingin kembali mengingatkan, potensi ancaman bukan hanya ada di Sumatera. Dalam rapat dengan Wakil Presiden, Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika Sri Woro B Harijono mengatakan, daerah lain yang pantas diwaspadai bagi terjadinya bencana adalah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Lampung. Lagi-lagi tingkat kerusakan hutan yang begitu parah membuat datangnya musim hujan membawa ancaman bagi kita. Apa boleh buat, kita harus bersiap mengantisipasi kondisi yang terburuk.

Kompas, Rabu, 27 Desember 2006

Perayaan Natal dan Hebatnya Kerukunan Beragama

PERAYAAN Natal telah berlangsung tenteram dan damai. Damai yang indah tidak hanya menyelimuti semua gereja, tetapi bahkan bersemi di seluruh negeri.

Yang perlu dicatat dalam sejarah adalah kenyataan luar biasa hebatnya yang terjadi pada Natal kali ini. Yaitu organisasi massa Islam turut serta mengamankan Natal.

Pengamanan itu dilakukan di gereja, di tempat ibadah Natal berlangsung. Sebuah inisiatif yang sangat mulia, yang ditunjukkan saudara-saudara muslim untuk melindungi saudara-saudara sebangsa yang merayakan Natal.

Contohnya Gereja Katedral di Bandung dijaga anggota Banser Gerakan Pemuda Ansor. Masih di Bandung, NU dan Forum Komunikasi Umat Beragama juga membagikan seribu mawar kepada umat kristiani di sejumlah gereja. Di Kediri, 200 anggota Banser dikerahkan untuk mengamankan Natal. Di Jakarta, sejumlah remaja masjid dan anggota ormas Islam turut menjaga malam Natal.

Natal memang menyimpan trauma. Natal pernah berlangsung dalam naungan kekerasan. Gereja dibom dan menelan korban. Sejak itu, saban kali Natal datang, saban kali itu pula ketakutan datang mencekam menyertai ibadah Natal.

Namun, Natal kali ini tidak hanya berlangsung tenteram dan damai. Lebih dari itu, menunjukkan indahnya kerukunan beragama anak bangsa ini. Natal kali ini memperlihatkan bukan saja hebatnya toleransi beragama, melainkan juga rasa sayang mayoritas terhadap minoritas. Semua itu kembali menegaskan hebatnya modal sosial yang dimiliki bangsa ini.

Bangsa ini adalah bangsa yang memang kaya dengan perbedaan, kaya dengan berbagai keanekaragaman. Heterogenitas itu terbentang luas, menyangkut suku, bahasa, adat, dan kebudayaan. Semua itu masih diperkaya lagi dengan berbagai agama yang dipeluk anak bangsa ini.

Akan tetapi, toleransi bahkan apresiasi terhadap berbagai perbedaan yang menyangkut aspek kultural telah terjalin sangat tinggi. Semboyan negara Bhinneka Tunggal Ika (beraneka ragam tetapi satu) dalam perspektif kultural dapat dikatakan telah berlangsung dan terjalin dengan mulus.

Yang masih sensitif adalah menyangkut kerukunan hidup beragama. Perbedaan agama masih potensial menyulut konflik horizontal.

Sekarang sejarah mencatat yang sebaliknya. Kerukunan beragama itulah yang bersemi dengan indahnya di Hari Natal ini. Luar biasa indahnya, gereja diamankan oleh saudara-saudara muslim.

Maka, dunia kini menyaksikan Indonesia bukan saja negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia yang demokratis. Inilah negara dengan kerukunan beragama yang juga paling mengagumkan.

Anak bangsa ini dapat berbangga sebab Indonesia layak dijadikan contoh nyata di dunia tentang kerukunan beragama. Di negeri ini dialog antaragama bukan kemewahan elitis dan teoretis, yang hanya gemilang di ruang-ruang seminar, melainkan hal ihwal yang konkret mekar dalam realitas kehidupan anak bangsa sehari-hari.

Media Indonesia, Selasa, 26 Desember 2006


Blog Stats

  • 685,325 hits
Desember 2006
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.