Sebut saja dua huruf itu, YZ, masyarakat akan tahu arah pembicaraan. Skandal video seks yang melibatkan anggota DPR berinisial kedua huruf itu amat menyita perhatian, seakan tak ada ruang lagi yang tersisa. Masyarakat telah mencibir, sinis, tertawa, atau marah atas rekaman tak patut itu.
Kini mulai muncul bumbu-bumbu dalam kasus ini. Orang-orang mulai bersinyalemen soal persaingan sesama ”calon menteri” di dalam partai, pertarungan antarpartai, hingga masalah pemerasan. ME, pasangan YZ dalam rekaman itu, tampil berurai air mata di layar kaca. Sementara, YZ, hingga kemarin, tak jua muncul di depan publik.
Citra DPR bonyok lagi, kata seorang anggota dewan. Namun, sejumlah anggota lainnya bersimpati pada YZ, menilai dia sebagai korban permainan politik kotor. Sebagian lainnya menilai media massa telah menghukum YZ secara berlebihan.
Ada baiknya kita kembali pada inti persoalan. Seperti kata pepatah, tak ada asap bila tak ada api. Kalau skandal seks itu tak pernah terjadi, maka takkan muncul rekaman adegan tersebut; dengan begitu, takkan ada permainan politik kotor atau pemerasan yang memanfaatkannya. Jadi, langkah segera harus tertuju pada skandal, bukan wacana sampingannya.
Kita perlu mengingatkan mereka, juga para pemegang jabatan publik lainnya, bahwa masyarakat masih menggenggam kuat norma moral. Pelanggaran atas rambu-rambu moral secara langsung melahirkan hukuman dari masyarakat, tanpa menanti hukum positif bertindak. Ketika pelanggar adalah pemegang jabatan publik, maka hukuman masyarakat menjadi lebih keras.
Partai tempat bernaung bisa saja mempertahankan YZ dalam keanggotaan, dalam partai maupun di dewan. Tapi, partai dan DPR harus menerima risiko untuk turut menjadi terhukum. Masyarakat kita takkan menerima perbuatan semacam itu melenggang begitu saja. Jangan harap bisa seperti kasus di AS, saat Presiden Clinton lolos impeachment dalam kebohongan terkait skandal seks dengan Monica Lewinsky.
Kasus ini semestinya menjadi pelajaran bagi siapa pun, apalagi para pemegang jabatan publik, untuk selalu peka atas perasaan dan norma masyarakat. Anggota DPR adalah wakil masyarakat, dengan demikian seharusnya memiliki standar moral yang melampaui orang-orang yang mereka wakili. Perselingkuhan dan seks bebas mungkin terjadi di mana-mana dalam masyarakat kita yang semakin permisif, tapi tetap akan menjadi noda amat besar saat wakil rakyat yang melakukannya. Mereka tak bisa berlindung pada alasan bahwa ini adalah wilayah privat.
Sudah terlalu banyak gelar buruk tersandang pada lembaga ini –yang berakar pada kelakuan para anggotanya. Masyarakat takkan pernah lupa tentang anggota dewan yang menjadi calo anggaran dan pemondokan, anggota yang gemar jalan-jalan ke luar negeri, anggota yang suka menaikkan pendapatan pribadi, atau anggota yang tak pernah hadir dalam sidang-sidang.
Dengan demikian, Badan Kehormatan (BK) DPR selayaknya bertindak cepat, tidak hanya janji-janji. Bukankah syarat badan ini bertindak, yakni ada pengaduan dari masyarakat, telah terpenuhi. Jangan biarkan hal semacam ini memberati langkah dewan dan mengikis kepercayaan masyarakat terhadap mereka. Kita memerlukan lembaga perwakilan yang kuat dan berwibawa.
Republika, Rabu, 06 Desember 2006



Komentar Terakhir