Medali Emas Taufik Hidayat

Prestasi pebulu tangkis nasional, Taufik Hidayat, yang merebut medali emas tunggal putra di Asian Games Ke-15 di Doha (Qatar) patut diberi acungan jempol. Di final Taufik mengalahkan pebulu tangkis Tiongkok, Lin Dan, dengan skor 21-15 dan 22-20.

Kita patut memberi acungan jempol bukan karena menantu Ketua Umum KONI Agum Gumelar itu berhasil mempertahankan gelar sebagai juara tunggal putra Asian Games Ke-14 Korea 2002, tetapi juga karena dengan kemenangan itu berhasil menambah emas bagi kontingen Indonesia yang sangat miskin prestasi.

Dengan tambahan medali emas dari Taufik, Indonesia untuk sementara mengoleksi dua emas. Bahkan, emas Taufik mungkin emas terakhir kontingen RI di Asia Games kali ini.

Inilah wajah prestasi olahraga nasional Indonesia di even internasional paling bergengsi bangsa-bangsa Asia itu. Dengan penduduk lebih 200 juta jiwa dan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, prestasi Indonesia sungguh mengecewakan.

Bandingkan, misalnya, dengan Thailand -tetangga di Asia Tenggara- yang penduduknya kurang dari 50 juta jiwa, untuk sementara berhasil mengoleksi enam medali emas.

Dari tahun ke tahun atau dari waktu ke waktu prestasi olahraga Indonesia di berbagai kejuaraan multicabang seperti Asia Games tetap saja berada di urutan kelas kambing. Tidak sebanding dengan jumlah penduduknya. Prestasi itu tidak sebanding dengan klaim politik para pemimpin nasional bahwa bangsa Indonesia adalah sebagai bangsa yang besar.

Apanya yang besar? Mungkin yang tepat hanyalah jumlah penduduknya. Yang lain, kebesaran itu hanya omong kosong. Pendidikan, misalnya, makin tertinggal dari Malaysia -tetangga serumpun- yang di masa lalu rakyatnya banyak sekolah ke negeri ini.

Dalam bidang ekonomi, kita juga sama sekali tidak besar. Dengan Singapura pun jauh ketinggalan. Bahkan, dengan Thailand dan Malaysia pun makin jauh tertinggal.

Mental dan daya saing bangsa ini dalam percaturan internasional juga makin lemah. Bangsa Indonesia makin tidak dianggap sebagai bangsa yang bakal mengancam dalam persaingan prestasi iptek internasional.

Dalam manajemen pemerintanan, birokrasi, dan politik sama saja. Transparansi internasional (TI) masih menggolongkan Indonesia sebagai negara paling korup.

Tingkat buruknya korupsi di negeri ini sangat memalukan karena sejajar dengan negara Afrika seperti Nigeria, Kongo, dan negara kecil di Pasifik, yakni Fiji. Peringkat korupsi seperti itu tidak sebanding dengan klaim sebagai bangsa yang berbudaya luhur dan masyarakatnya dikenal agamis.

Karena itu, prestasi-prestasi buruk wakil bangsa Indonesia dalam berbagai even internasional -pendidikan, olahraga, budaya, dan lain-lain- seharusnya menjadi introspeksi bagi para pemimpin bangsa, pengelola pemerintahan, dan pengelola negara.

Perlu dicarikan solusi dengan segera apa sesungguhnya yang terjadi dengan bangsa ini. Mengapa bangsa Indonesia makin jauh tertinggal dengan bangsa-bangsa lain hampir di semua bidang kehidupan? Mengapa pula moral, mental, dan daya saing bangsa Indonesia dalam percaturan internasional semakin lemah? Apa yang salah dengan bangsa Indonesia?

Indopos, Senin, 11 Des 2006

5 Responses to “Medali Emas Taufik Hidayat”


  1. 4 wulan Januari 4, 2011 pukul 6:59 pm

    kmu is perfek ….. pintrr

  2. 5 radila fajrin Februari 3, 2011 pukul 9:19 am

    Bagus Taufik,tingkatkan itu ya……


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 684,890 hits
Desember 2006
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: