Arsip untuk Desember 16th, 2006

Pelajaran berharga dari Asian Games XV

Pesta olahraga akbar empat tahunan antarbangsa-bangsa Asia, Asian Games XV, resmi berakhir Jumat (15/12). Indonesia, yang menjadi satu dari 45 negara peserta, akhirnya membawa pulang dua emas, tiga perak dan 15 perunggu dalam multievent yang dijuarai kontingen China tersebut.

Dua keping emas diperoleh melalui Ryan Lalisang dari cabang boling dan Taufik Hidayat dari arena bulutangkis. Kita sadar dan yakin para atlet Indonesia yang berlaga di Doha, Qatar, sudah mengerahkan segenap kemampuan terbaik mereka untuk mempersembahkan emas bagi Indonesia. Jika hasil di lapangan ternyata berbeda dengan harapan, tentu saja patut dilakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap sistem pembinaan olahraga Indonesia.

Betapa tidak, selain terpuruk di posisi 22, Indonesia juga gagal mewujudkan target yang dipatok sendiri, yakni meraih empat emas, tujuh perak dan 12 perunggu. Menyedihkan lagi, dibandingkan negara-negara peserta Asian Games dari Asia Tenggara, Indonesia jika ditotal hanya berada di urutan keenam, di bawah Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina dan Vietnam. Kita sependapat dengan Menpora Adhyaksa Dault yang secara jantan mengakui gagal pada Asian Games kali ini.

Hendaknya memang sesegera mungkin dilakukan evaluasi total terkait kegagalan kontingen Indonesia kali ini. Terlebih, pada 2007 nanti, kita kembali akan berlaga di pentas SEA Games Thailand, di mana Indonesia diharapkan bisa menaikkan peringkat ke posisi atas.

Kegagalan di Qatar ini harus bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita tentang bagaimana cara mengelola dan membina olahraga sehingga menghasilkan prestasi yang tinggi di pentas internasional. Saat ini, pembinaan olahraga kita dianggap tidak fokus terhadap cabang-cabang yang berpotensi menghasilkan banyak medali. Berbeda dengan negara-negara tetangga yang mulai fokus menggarap cabang-cabang andalan, seperti Malaysia yang terkonsentrasi di cabang boling serta karate. Dari dua cabang ini, Malaysia banyak menangguk emas di Asian Games. Singapura yang berpenduduk tidak lebih dari empat juta jiwa, fokus pada cabang layar dan menggondol lima emas.

Cabang-cabang terukur yang menyediakan banyak medali, seperti atletik dan renang semestinya juga mulai digarap serius oleh induk olahraga terkait karena untuk cabang tidak terukur, Indonesia masih mengeluhkan adanya kecurangan dalam sistem penjurian dan sebagainya. Terkait dengan fokus pembinaan ini, maka pembagian dana dari KONI Pusat tidak lagi hanya mengandalkan asas sama rasa sama rata. Cabang yang berpotensi mendulang banyak medali tentunya harus mendapat porsi pendanaan yang lebih banyak.
Selain itu, sistem kompetisi secara teratur dan uji tanding di level internasional perlu ditambah frekuensinya sehingga mematangkan jam terbang serta mental atlet-atlet kita. Kegagalan di Asian Games XV memang menyesakkan, namun akan lebih menyesakkan jika kita tidak mau mengambil pelajaran berharga dari kegagalan tersebut. -

Sumber : http://solopos.co.id/index2.asp?kodehalaman=h26#

Kita Jauh Ketinggalan

Pesta olahraga se-Asia atau yang biasa kita kenal dengan sebutan Asian Games telah berakhir malam tadi. Kota Doha, Qatar, sebagai tuan rumah penyelenggaraan pesta olahraga multievent ke-15 sejak 1 Desember lalu ini akan menjadi saksi bisu babak belurnya atlet-atlet kita. Dengan kekuatan seratusan atlet yang ikut di 15 cabang olahraga, kita hanya mampu meraih dua emas, tiga perak, dan 15 perunggu. Kita harus puas di urutan ke-22 dari 45 negara peserta. Perolehan yang jauh dari target semula yang cuma membidik empat emas.Hasil tersebut memperlihatkan atlet-atlet kita masih jauh ketinggalan di antara negara Asia lainnya. Bahkan dibandingkan tetangga terdekat di kawasan Asia Tenggara saja kita masih berada di bawah mereka. Lihatlah Thailand yang mampu menyodok di peringkat kelima dengan 13 emas, atau Malaysia di peringkat ke-10 dengan delapan emas, Singapura di peringkat ke-12 dengan delapan emas, Filipina di posisi ke-18 dengan empat emas, dan Vietnam di posisi ke-19 dengan tiga emas. Sebuah hasil mengecewakan yang tentu saja patut mendapat perhatian dari semua pihak, tidak terkecuali Presiden.

Sebagai pemimpin nasional, sudah sepatutnya Presiden memberikan perhatiannya yang serius terhadap dunia olahraga nasional. Bukan apa-apa, kemajuan di bidang olahraga juga menunjukkan kemajuan sebuah bangsa. Lihatlah, bangsa-bangsa yang maju olahraganya adalah bangsa-bangsa yang juga maju di bidang lain seperti ekonomi, sains, serta peradaban.

Dalam sepuluh tahun terakhir ini dunia olahraga kita memang mengalami kemunduran. Untuk menjadi juara umum SEA Games saja yang levelnya cuma Asia Tenggara, kita sudah sulit mencapainya. Kecenderungan ini juga terlihat di bidang lainnya, ekonomi misalnya. Kita kini sudah berada di bawah Malaysia dan juga Vietnam yang dalam beberapa dekade sebelumnya masih “berguru” kepada kita. Jangan bandingkan lagi dengan Thailand atau Singapura yang kian jauh meninggalkan kita.

Situasi Tanah air sekarang ini sebenarnya kita tidak buruk-buruk amat. Meski bergerak lambat, namun pertumbuhan ekonomi tetap ada. Kita seharusnya malu dengan hasil yang dicapai oleh tim sepak bola Irak. Negeri yang masih dicabik-cabik perang ini mampu lolos ke babak final olahraga paling populer ini. Berkaca dari situ, kita bisa berasumsi pasti ada yang salah dengan pola pembinaan olahraga Indonesia.

Untuk itu diperlukan perombakan total dalam manajemen pembinaan olahraga nasional. Sistem pembinaan dan pengembangan olahraga prestasi di negara kita mungkin sudah tertinggal jauh dengan negara lain. Tak ada salahnya kita mencontoh negara-negara yang sudah maju. Di sinilah diperlukan keseriusan Presiden dalam menggarap bidang olahraga.

Tak ada salahnya kembali menghidupkan semboyan “mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga”. Semboyan ini memiliki makna yang dalam. Masyarakat memang perlu diolahragakan, sementara olahraga juga patut dimasyarakatkan. Sebab, banyak hal positif yang dapat diambil dari olahraga itu sendiri. Paling tidak mengajarkan kita untuk selalu menjunjung sportivitas. Sifat ksatria ini nantinya dengan sendirinya akan menular untuk kehidupan di bidang lain.

Syukur-syukur kemudian dari kegiatan massal olahraga ini muncul bibit-bibit yang unggul dan bisa diharapkan bersaing di tingkat internasional. Kalaupun belum menemukan mereka yang berbakat, setidaknya sifat-sifat sportif bisa membawa dampak positif di tempat lain.

Republika, Sabtu, 16 Desember 2006

Menghindari Ledakan Penduduk

MEMILIKI keturunan adalah bagian tidak terpisahkan dari eksistensi manusia. Namun, memiliki keturunan dalam jumlah tidak terkendali, dapat menjadi ancaman terbesar bagi kelangsungan eksistensi itu sendiri.

Perspektif seperti itu relevan untuk situasi dan kelangsungan eksistensi manusia Indonesia, yang lebih makmur, lebih sejahtera. Terutama berkaitan dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang kian lama kian mengkhawatirkan.

Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri Syarif menyatakan di harian ini, Rabu (13/12), bahwa laju pertambahan penduduk di Indonesia sangat cepat dan terus meningkat. Apabila tidak ada intervensi pemerintah dengan meningkatkan program keluarga berencana (KB), ledakan penduduk niscaya tidak bisa dikendalikan lagi.

Ini fenomena yang tidak boleh dianggap enteng. BKKBN menghitung, bila setiap tahun ada setengah persen saja pasangan usia subur tidak menjalankan program pengendalian jumlah anak, diperkirakan pada 2015 jumlah warga negeri ini akan mencapai 300 juta jiwa.

Angka itu jauh lebih mengkhawatirkan dari angka pertambahan penduduk yang menurut perhitungan pemerintah masih ‘aman’ untuk kondisi Indonesia. Aman dalam konteks rasio pertumbuhan ekonomi berbanding jumlah per kapita, aman pula dari perspektif pencapaian tujuan pembangunan untuk mengangkat rakyat dari kubangan kemiskinan.

Karena itu, upaya BKKBN untuk mengendalikan laju pertumbuhan populasi ini harus didukung. Kalau tidak, negeri ini akan menghadapi baby booming yang tidak perlu dan tidak tepat saatnya.

Situasi ini secara paralel akan membuat peningkatan kesejahteraan rakyat kian sulit tercapai. Kemiskinan pun akan kian sulit diberantas. Karena itu, mata rantai sebab akibat ini harus diputus.

Bagi pemerintah, khususnya BKKBN, mengatasi ledakan penduduk bukanlah soal baru. Pemerintah pernah berhasil mengendalikan pertumbuhan penduduk dengan hasil sangat memuaskan. Pada saat yang sama swasembada pangan pun pernah berhasil dicapai, sehingga tercapailah keseimbangan antara tingkat pertumbuhan populasi dan kemampuan untuk mencukupi kebutuhan.

Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak perlu ragu dan malu untuk belajar dan mengulang kisah sukses pemerintahan Orde Baru. Bila perlu, lakukan saja dengan cara yang sama dengan program yang sesuai dengan situasi yang ada saat ini.

Pemerintah daerah dan masyarakat pun harus mendukung program ini. Pemimpin daerah yang tak becus mengendalikan laju pertumbuhan penduduk adalah cermin tiadanya visi membangun masa depan bangsa.

Seluruh masyarakat juga harus punya kesadaran bahwa kemampuan manusia bereproduksi tidak terbatas; tetapi kapasitas bumi dan seisinya untuk menghidupi manusia baru semakin menurun. Karena itu, mengendalikan reproduksi menjadi sebuah keniscayaan. Untuk menjaga kelangsungan eksistensi dan peradaban manusia.***

Media Indonesia, Sabtu, 16 Desember 2006

Genderang Perang terhadap Narkoba

Tewasnya biduanita Alda Risma Elfariani, yang pernah ngetop dengan hit Aku Tak Biasa, Selasa malam lalu makin membuka mata kita betapa narkoba masih menjadi ancaman serius di sekitar kita. Apalagi kalau dugaan Dr. Abdul Mun’im Idris, ahli forensik dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, benar: Alda tewas tidak hanya akibat kelebihan takaran (overdosis) saat mengkonsumsi narkoba, tapi ada kemungkinan dia dibunuh.
Jejak kematian penyanyi berusia 24 tahun itu memang mencurigakan. Ketika jenazahnya diotopsi, ditemukan 25 bekas suntikan yang bikin lebam-lebam lengannya. Di dalam darahnya terkandung amfetamin dan metamfetamin. Selain itu, terdapat titik-titik bekas suntikan yang tidak mungkin dilakukan Alda, atau diistilahkan hot shot, yaitu memasukkan zat ke tubuh dengan banyak suntikan. Suntikan mematikan ini tentu bukan dilakukan oleh orang yang “tak biasa”, melainkan oleh yang “sudah terbiasa” menghadapi pecandu.
Pola kematian seperti ini biasa ditemukan pada korban overdosis. Pernyataan Mun’im berikutnya makin gawat: pelakunya merupakan kelompok lama yang sudah memiliki jaringan kuat dan piawai melakukan hot shot. Sudah menjadi tradisi mereka, jika ada seseorang yang ingin berhenti, biasanya dia dipaksa untuk mengkonsumsi narkoba sebanyak-banyaknya. Tentu saja dugaan ini masih perlu diperkuat hasil pemeriksaan darah dan urine Alda.
Masalahnya, pengguna narkoba dengan jarum suntik (IDU–injecting drug user) merupakan salah satu faktor penyebab ledakan epidemi HIV/AIDS. Mereka sulit dideteksi. Jika diasumsikan ada sekitar 1,365 juta orang pecandu narkoba, diperkirakan 60 persennya IDU–sebagaimana Alda. Dari jumlah itu, andai saja 70 persennya menggunakan jarum suntik bergantian, bisa dibayangkan berapa banyak pecandu yang mengidap HIV/AIDS. Mereka perlu pendamping untuk memberikan penyuluhan tentang dampak buruk narkoba. Bukankah mereka korban yang mesti diselamatkan?
Selebihnya, genderang perang terhadap narkoba harus terus ditabuh. Kampanye dan gerakan anti-obat-obatan haram dan jarum neraka itu tak boleh dilakukan dengan semangat hangat-hangat tahi ayam. Apalagi sudah menjadi rahasia umum betapa peredaran narkoba ini makin mengkhawatirkan. Di seluruh Tanah Air, menurut data yang diungkap Sekretaris Pelaksana Badan Narkotika Nasional Pranowo Dahlan, hingga Oktober tahun ini, kasus narkoba mencapai 8.406.
Yang bikin kaget, urutan pertama pengguna narkoba bukanlah kalangan artis dan selebritas, melainkan justru pelajar. Pelajar yang ngedrug mencapai lebih dari 15 ribu siswa. Target yang jadi sasaran empuk narkoba ternyata tak mengenal batas wilayah, jenis kelamin, status sosial, usia, pangkat, dan jabatan. Data statistik kematiannya juga gawat: setiap hari ada 40 orang meninggal akibat dampak narkoba. Artinya, selain kematian Alda, pada Selasa lalu itu, ada puluhan angka kematian akibat narkoba.

Koran Tempo, Sabtu, 16 Desember 2006


Blog Stats

  • 481,571 hits

 

Desember 2006
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

a

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.