Arsip untuk Desember 26th, 2006

Perayaan Natal dan Hebatnya Kerukunan Beragama

PERAYAAN Natal telah berlangsung tenteram dan damai. Damai yang indah tidak hanya menyelimuti semua gereja, tetapi bahkan bersemi di seluruh negeri.

Yang perlu dicatat dalam sejarah adalah kenyataan luar biasa hebatnya yang terjadi pada Natal kali ini. Yaitu organisasi massa Islam turut serta mengamankan Natal.

Pengamanan itu dilakukan di gereja, di tempat ibadah Natal berlangsung. Sebuah inisiatif yang sangat mulia, yang ditunjukkan saudara-saudara muslim untuk melindungi saudara-saudara sebangsa yang merayakan Natal.

Contohnya Gereja Katedral di Bandung dijaga anggota Banser Gerakan Pemuda Ansor. Masih di Bandung, NU dan Forum Komunikasi Umat Beragama juga membagikan seribu mawar kepada umat kristiani di sejumlah gereja. Di Kediri, 200 anggota Banser dikerahkan untuk mengamankan Natal. Di Jakarta, sejumlah remaja masjid dan anggota ormas Islam turut menjaga malam Natal.

Natal memang menyimpan trauma. Natal pernah berlangsung dalam naungan kekerasan. Gereja dibom dan menelan korban. Sejak itu, saban kali Natal datang, saban kali itu pula ketakutan datang mencekam menyertai ibadah Natal.

Namun, Natal kali ini tidak hanya berlangsung tenteram dan damai. Lebih dari itu, menunjukkan indahnya kerukunan beragama anak bangsa ini. Natal kali ini memperlihatkan bukan saja hebatnya toleransi beragama, melainkan juga rasa sayang mayoritas terhadap minoritas. Semua itu kembali menegaskan hebatnya modal sosial yang dimiliki bangsa ini.

Bangsa ini adalah bangsa yang memang kaya dengan perbedaan, kaya dengan berbagai keanekaragaman. Heterogenitas itu terbentang luas, menyangkut suku, bahasa, adat, dan kebudayaan. Semua itu masih diperkaya lagi dengan berbagai agama yang dipeluk anak bangsa ini.

Akan tetapi, toleransi bahkan apresiasi terhadap berbagai perbedaan yang menyangkut aspek kultural telah terjalin sangat tinggi. Semboyan negara Bhinneka Tunggal Ika (beraneka ragam tetapi satu) dalam perspektif kultural dapat dikatakan telah berlangsung dan terjalin dengan mulus.

Yang masih sensitif adalah menyangkut kerukunan hidup beragama. Perbedaan agama masih potensial menyulut konflik horizontal.

Sekarang sejarah mencatat yang sebaliknya. Kerukunan beragama itulah yang bersemi dengan indahnya di Hari Natal ini. Luar biasa indahnya, gereja diamankan oleh saudara-saudara muslim.

Maka, dunia kini menyaksikan Indonesia bukan saja negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia yang demokratis. Inilah negara dengan kerukunan beragama yang juga paling mengagumkan.

Anak bangsa ini dapat berbangga sebab Indonesia layak dijadikan contoh nyata di dunia tentang kerukunan beragama. Di negeri ini dialog antaragama bukan kemewahan elitis dan teoretis, yang hanya gemilang di ruang-ruang seminar, melainkan hal ihwal yang konkret mekar dalam realitas kehidupan anak bangsa sehari-hari.

Media Indonesia, Selasa, 26 Desember 2006

Ajakan Berbagi dari Presiden

Ibarat orang sakit, imbauan berbagi ataupun kegiatan tolong-menolong antarmasyarakat merupakan aksi yang sifatnya kuratif, bukan pencegahan.Imbauan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar perayaan Natal, tahun baru, dan Idul Adha dijadikan momentum untuk berbagi dengan sesama terasa sangat pas di tengah bencana banjir dan tanah longsor yang melanda berbagai kawasan di negeri ini.
Hujan deras selama beberapa hari menjelang perayaan Natal telah mengakibatkan banjir di sejumlah daerah di Pulau Jawa dan Sumatera. Provinsi Aceh, yang baru dua tahun lalu remuk-redam terhantam tsunami, kini menjadi kawasan yang terkena banjir paling parah. Sedikitnya 90 orang tewas.
Kita yakin, permintaan Presiden agar masyarakat yang berkecukupan berbagi, membantu korban bencana banjir, pasti akan direspons. Sebab, berkaca pada pengalaman masa lalu, ketika terjadi bencana tsunami, masyarakat tanpa diimbau-imbau pun, dengan sukarela membantu saudara-saudara mereka yang terkena musibah.
Artinya, tanpa bermaksud mengecilkan imbauan mulia dari Presiden, yang terpenting sebenarnya bukan masalah berbagi. Sebab, siapa pun pasti tidak menginginkan terkena musibah. Ibarat orang sakit, imbauan berbagi ataupun kegiatan tolong-menolong antarmasyarakat merupakan aksi yang sifatnya kuratif, bukan pencegahan.
Memang, bencana alam merupakan musibah yang sulit diduga, bisa menimpa siapa saja, kapan saja. Tapi, mengutip penelitian dari Wahana Lingkungan Hidup, sekitar 85 persen bencana alam di Indonesia adalah bencana banjir.
Persentase tersebut berarti bahwa bencana yang sering terjadi justru bencana yang bisa diatasi, diantisipasi, dan diperkirakan risikonya. Banjir dan tanah longsor adalah bencana yang terjadi bukan hanya karena faktor alamiah alam, melainkan lebih banyak karena campur tangan manusia. Artinya, bencana banjir dan longsor merupakan bencana yang “bisa direncanakan”.
Banjir bandang di Aceh yang terjadi sekarang ini sangat jelas menunjukkan adanya campur tangan manusia, yaitu kegiatan pembalakan liar. Kawasan Ekosistem Leuser seluas 2,5 juta hektare, yang salah satu fungsinya sebagai tempat penangkapan air misalnya, kini telah rusak 25 persen. Adapun yang telah menjadi area gundul sekitar 10 persen.
Kondisi yang hampir sama juga terjadi di berbagai daerah rawan banjir lainnya. Akibatnya, banjir di negeri ini memang sudah menjadi musibah tahunan. Masalahnya, hingga kini pemerintah belum memiliki–atau bahkan memikirkan–pola penanganan banjir yang terpadu. Sejauh ini yang sudah cukup lancar dilakukan adalah mengumumkan kepada masyarakat agar waspada terhadap banjir.
Namun, tindakan-tindakan yang nyata dan konkret untuk mengantisipasi musibah itu dengan membuat bangunan pengendali banjir, seperti pintu air dan drainase, serta mempersiapkan pompa-pompa di berbagai daerah rawan banjir belum terlihat. Selain itu, pemberantasan pembalakan liar sampai sekarang belum berhasil sepenuhnya. Yang ditangkapi baru para “keroco”, sedangkan para cukongnya masih bebas berkeliaran.
Jika hal-hal itu belum juga dilakukan, imbauan berbagi dari Presiden akan menjadi statement yang “bisa direncanakan” seperti halnya banjir yang setiap tahun selalu hadir di tengah-tengah kita.

Koran Tempo, Selasa, 26 Desember 2006


Blog Stats

  • 481,570 hits

 

Desember 2006
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

a

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.