Arsip untuk Januari 6th, 2007

Perketat Keselamatan Transportasi

Peristiwa kecelakaan beruntun yang terjadi dalam waktu yang sangat singkat belakangan ini menjadi sebuah kejadian yang sangat menarik perhatian kita.

Terlebih mengingat jumlah korban yang tidak sedikit. Ambil contoh tenggelamnya kapal KM Senopati Nusantara yang menewaskan ratusan penumpangnya. Juga hilangnya pesawat terbang Adam Air yang membawa lebih dari seratus orang penumpang. Mereka yang menjadi korban jelas membawa tragedi tersendiri bagi keluarga yang ditinggalkan.
Menyaksikan peristiwa tersebut, salah satu pelajaran penting yang harus sangat dibenahi adalah jaminan keselamatan transportasi. Jaminan dimaksud adalah sebuah sistem yang baku, tersistematisasi dan mudah dimengerti oleh para penumpang, sehingga ketika terjadi kecelakaan, prosedur tersebut langsung berlaku.

Ambil contoh pada kecelakaan KM Senopati Nusantara. Ternyata berdasarkan pengakuan para penumpang yang selamat, ketika kapal mulai menunjukkan tanda akan tenggelam, mereka sama sekali tidak tahu apa-apa. Awak kapal yang seharusnya memberitahukan kepada para penumpang mengenai apa yang harus dilakukan, tidak mengerjakan apa-apa. Bahkan para penumpang diperlakukan seolah tidak perlu mengetahui bahwa kapal naas tersebut akan tenggelam.

Demikian juga dengan kejadian di seputar hilangnya pesawat milik Adam Air. Memang walau tidak secara langsung, namun rusaknya radar ELBA milik Indonesia jelas menjadi salah satu penyebab lambatnya mendeteksi keberadaan pesawat tersebut. Akibatnya sampai sekarang, koordinat daripada pesawat tersebut hanya mengandalkan infomasi dari ELBA milik Singapura.

Alangkah menyedihkannya memang keadaan ini. Dari data yang ada pada Mahkamah Pelayaran, diketahui bahwa faktor manusia hanya menyumbang 20 persen saja dari angka kecelakaan. Sebanyak 30 persen disebabkan oleh human error, yang salah satunya adalah tiadanya jamiman keselamatan yang memadai tadi.

Memang kalau kita mengalami sendiri transportasi kita, alangkah memiriskannya.

Banyak sarana transportasi laut yang berada dalam keadaan “gawat darurat”. Bagaimana tidak? Kebanyakan tidak dilengkapi dengan sarana pertolongan keselamatan, petunjuk untuk pertolongan diri sendiri, maupun fasilitas lain. Padahal kita ketahui sebagai sebuah negara kepulauan, sarana laut adalah modal utama. Maka alangkah memiriskannya ketika yang terjadi adalah pengangkutan yang asal-asalan.

Kelihatannya mengerikan. Tetapi itulah yang terjadi, setiap kali kita memasuki angkutan laut. Kita seolah memasuki tempat penuh berisiko bagi nyawa kita dan keselamatan kita sendiri.

Penerbangan hampir sama saja. Memang modal transportasi udara adalah sarana yang high tech, artinya membutuhkan sarana dan operasi dari kemampuan manusia yang ada. Untuk itu seharusnya dilakukan pemasangan berbagai sarana yang mampu membantu keadaan darurat, semisal radar darat tadi. Tetapi setahu bagaimana, Indonesia ternyata masih mengabaikan demikian.

Dari dua kejadian kecelakaan yang mengisi lembaran kelam beberapa hari ini, sudah sepantasnya pemerintah meningkatkan kepatuhan pada prosedur keselamatan yang berlaku secara universal. Nyawa manusia tidak boleh disia-siakan. Manusia adalah manusia yang nyawanya tidak bisa diukur dengan pemasukan dan keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan transportasi. Menteri Perhubungan beserta seluruh jajarannya harus melakukan pembenahan. Ketakutan massal sekarang ini sedang terjadi.

Masyarakat gelisah dan kuatir terhadap apa yang sedang terjadi. Karena itu pemerintah harus menjelaskan kepada publik apa yang akan dilakukannya dalam membenahi hal ini. (***)

Sinar Indonesia Baru, Jan 06, 2007

Amerika Bermain Api di Teluk Persia

- Amerika mengirim kapal-kapal perang baru, termasuk kapal induk, ke perairan Teluk Persia untuk menambah tekanan terhadap Iran dan Suriah. Hal itu dilakukan pada saat emosi masih tinggi di kawasan tersebut, menyusul eksekusi mati Saddam Hussein dengan cara digantung tepat pada saat umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Adha. Tampaknya pemerintahan Presiden George W Bush sama sekali tidak peduli pada emosi yang berkembang dan lebih mengutamakan kebijakannya yang suka campur tangan pada urusan negara lain. Iran diintimidasi karena melakukan pengayaan uranium, sementara Suriah sudah lama diincar untuk dihancurkan.

- Semakin jelas bahwa sikap Amerika yang memosisikan diri sebagai polisi dunia bukannya menenteramkan, sebaliknya meresahkan masyarakat internasional. Kapan saja dan di mana saja seolah-olah boleh bertindak semaunya tanpa ada negara lain atau lembaga internasional yang dapat menghalangi. Kawasan Timur Tengah paling diincar bukan saja karena kaya minyak, tetapi juga karena faktor kepentingan Israel. Selama Timur Tengah dapat dipecah belah, perjuangan bangsa Palestina untuk mendirikan negara merdeka hanya akan menjadi impian selama-lamanya. Apalagi Palestina sekarang pecah sendiri di dalam, juga gara-gara intervensi AS.

- Tetapi Iran dan Suriah bukan Irak. Washington dengan mudah menaklukkan Bagdad dan menghancurkan pemerintahan Saddam pada 2003 lalu karena rakyat Irak terpecah belah. Sebaliknya, rakyat Iran dan Suriah bersatu menghadapi ancaman yang berulangkali dilontarkan AS. Sekalipun rakyat Iran terpecah dalam kubu moderat dan konservatif (pendukung para mullah), mereka kompak dalam satu hal: melawan musuh bersama, AS. Begitu juga Suriah. Sejak dulu rakyatnya mendukung penuh kebijakan pemerintah yang anti-Amerika. Saat Perang Dingin, Suriah berada di kubu Uni Soviet. Secara historis mereka bermusuhan dengan Amerika sekalipun Soviet telah bubar.

- Show of force armada kapal perang Amerika di perairan Teluk sangat disayangkan. Washington belum dapat “memadamkan api” yang disulutnya di Irak, namun sekarang sudah mencoba bermain api di dua negara tetangga Irak. Atau, Bush memang ingin mengalihkan perhatian dunia? Tentu tak semudah itu. Tiap hari bom meledak, nyawa manusia melayang, termasuk nyawa serdadu Amerika sendiri. Peliputan gencar media internasional membuat mata dunia takkan mengalihkan perhatian pada perkembangan di Irak. Melepaskan tanggung jawab sungguh tidak bermartabat. Bangsa Amerika tidak boleh cuci tangan, karena mereka dulu mendukung invasi ke Irak.

- Bukannya kita mendukung Iran meneruskan pengayaan uranium, yang secara teori memungkinkan negara para mullah itu membuat senjata nuklir. Namun ketika Iran diperlakukan tidak adil dan diskriminatif, nurani kita pun tergugah. Bukan pula kita senang melihat Iran-Suriah berperang melawan AS. Persoalannya memang harus ada yang berani melawan kesewenang-wenangan Bush dan menghentikan sikap hegemonik negara adidaya itu. Kalau tidak, negara mana pun berisiko dikuya-kuya AS. Peningkatan kekuatan US Navy di perairan Teluk mungkin hanya gertakan, tetapi mengingat kasus invasi ke Irak bisa saja Bush mewujudkan ancamannya.

- Kita mengharapkan ketegaran Iran dan Suriah, tidak seperti Libia yang tiba-tiba menjadi good boy setelah dikenai sanksi dan berbagai ancaman. Sayang, kedua negara tersebut sejauh ini berjalan sendiri-sendiri. Sudah tiba saatnya Teheran dan Damaskus beraliansi secara terang-terangan, menyingkirkan perbedaan sikap dan pandangan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa mereka siap menghadapi invasi Amerika secara bersama pula. Ketika dua bangsa yang utuh bersatu dengan tekad penuh, rezim Bush pastilah akan berpikir dua kali untuk melakukan invasi. Sebaliknya mereka akan menjadi makanan empuk jika jalan sendiri-sendiri.

Suara Merdeka, Sabtu, 06 Januari 2007

Sentimen Positif dan Bangkitnya Sektor Riil

KEBANGKITAN ekonomi sebuah negara membutuhkan dukungan kondisi makro yang menunjang. Kondisi itu dapat berupa tingkat inflasi yang relatif rendah, kurs mata uang yang menguat, dan pertumbuhan ekonomi yang semakin mantap.

Meskipun dibayang-bayangi tragedi di sana-sini, memasuki hari-hari pertama 2007, sekurang-kurangnya ada tiga sinyal positif yang dapat mendatangkan inspirasi.

Pertama, pemerintah telah mengumumkan bahwa inflasi sepanjang 2006 tercatat ‘hanya’ sebesar 6,6%. Ini sebuah angka yang menggembirakan. Menggembirakan karena angka ini tidak saja jauh lebih rendah daripada tingkat inflasi 2005 sebesar 17,11%. Namun, juga lebih rendah daripada yang ditargetkan pemerintah sendiri, yakni sebesar 8%.

Kedua, nilai tukar rupiah sempat menciptakan keseimbangan baru dengan menembus batas psikologis Rp9.000 per dolar Amerika Serikat (AS), yang dalam setahun terakhir menjadi benchmark perdagangan valuta. Dalam tiga hari pertama 2007, rupiah sempat diperdagangkan pada level Rp8.940 hingga Rp8.990 per dolar AS, meskipun kemudian kembali lagi ke kisaran Rp9.000 per dolar AS.

Ketiga, Bank Indonesia (BI) menurunkan BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 9,50%.

Memang terlalu dini untuk menyimpulkan tiga indikator itu pertanda bahwa setelah terpuruk selama hampir satu dekade, ekonomi Indonesia akan segera pulih. Juga terlalu terburu-buru bila dikatakan kondisi ini otomatis akan menggerakkan sektor riil.

Namun, para pelaku ekonomi baik pemerintah maupun swasta hendaknya tidak membiarkan momentum ini berlalu begitu saja. Karena, betapa pun lemahnya, sinyal positif itu dapat menjadi inspirasi untuk mencetuskan energi baru, pendorong kebangkitan di semua sektor perekonomian. Terutama sektor riil.

Semua paham bahwa selama beberapa tahun terakhir, sektor ini mengalami mati suri. Angka-angka makro yang optimistis telah diketengahkan. Namun, semua itu tidak ada artinya. Sebab dampaknya tidak dapat dirasakan oleh masyarakat luas dalam bentuk peningkatan kesejahteraan. Dan peningkatan kesejahteraan masyarakat luas tidak terjadi karena sektor riil tidak bergerak.

Majalnya sektor riil juga telah menciptakan kemajalan berikutnya dalam upaya penurunan tingkat pengangguran dan pemberantasan kemiskinan. Karena itu, sinyal perbaikan atas makroekonomi ini harus dimanfaatkan untuk memulihkan ekonomi riil masyarakat.

Untuk itu, dunia usaha dan sektor perbankan harus mendukung. Penurunan BI rate yang baru saja dilakukan diharapkan terus berlanjut pada 2007. Itu penting mengingat penurunan suku bunga BI dalam 2006 nyatanya tidak berdampak pada penurunan suku bunga kredit perbankan nasional. Itu tidak boleh terjadi lagi tahun ini.

Sudah tepat bila Kepala Negara mendesak Bank Indonesia dan perbankan nasional agar terus menurunkan suku bunga sehingga dapat memompa pertumbuhan di sektor riil.

Lebih dari itu, pemerintah harus mampu mengelola persepsi positif yang muncul di awal tahun ini sebaik-baiknya. Ia harus menjadi sentimen positif dan spirit pergerakan pasar serta seluruh aktivitas perekonomian setahun ke depan. Itulah kunci bagi bangkitnya kembali ekonomi nasional.

Media Indonesia, Sabtu, 06 Januari 2007


Blog Stats

  • 473,948 hits

 

Januari 2007
S S R K J S M
« Des   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

a

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.