Arsip untuk Januari 15th, 2007

Jangan Hangat Cirit Ayam

Sampai hari ini, dua pekan lebih setelah tenggelamnya kapal Senopati Nusantara dan hilangnya pesawat AdamAir, perhatian dan perasaan kita masih ke sana.

Pemerintah telah membentuk komisi yang bertugas menelitinya lebih mendalam dan komprehensif. Juga dibentuk komisi yang bertugas meneliti kasus gagalnya katering bagi jemaah haji Indonesia. Bukan saja kita harapkan, melainkan merupakan kewajiban kita agar kecelakaan dan musibah itu kita sikapi sebagai tonggak sejarah yang mengubah sikap serta perilaku kita.

Jauh-jauh hari kita sampaikan peringatan itu karena pada kita cukup kuat kelemahan sikap “hangat-hangat cirit ayam”. Perhatian secara emosional dan rasional ditujukan ke sikap serta perbuatan korektif ketika ditimpa kecelakaan serta musibah dahsyat. Namun, beberapa waktu kemudian, kita kembali terjatuh ke sikap dan perilaku rutin yang merupakan kelemahan kita, yakni bekerja asal-asalan. Bekerja tanpa secara konsisten menerapkan petunjuk normatif, apalagi petunjuk bekerja lebih jauh dari sekadar “panggilan kewajiban”, beyond the call of duty.

Ini persoalan amat serius. Keberatan Samuel Huntington terhadap vital dan menentukannya culture matters, strategis dan menentukannya sikap budaya, bukanlah terhadap paradigma itu sendiri. Ia lebih mengingatkan bahwa juga berlaku faktor-faktor lain yang terutama agar disadari dan dipahami oleh sistem, kebijakan, serta praksis ekonomi serta kebijakan negara-negara industri. Bagi kita, Indonesia, sikap serta orientasi budaya bekerja tuntas, konsisten, berkeahlian, dan bertanggung jawab, kiranya memang perlu terus-menerus dioptimalkan. Demikian pula sikap, kemauan, serta praksis mengawasi dan merawat, check-recheck, peduli. Amat sangat masih harus dicermati berlanjutnya bentuk dan praktik komersialisasi yang merugikan konsumen bahkan bisa mencelakakannya.

Apalagi dalam dunia yang semakin bersatu karena berlangsungnya globalisasi, pengaruh negara lain dan interaksi antarnegara yang tidak senantiasa berimbang, sangat berpengaruh. Namun, meskipun kita tetap menyikapi secara kritis interaksi yang tak seimbang serta merugikan negara-negara berkembang seperti Indonesia, jangan pula kita terjatuh lagi pada alibi bahwa segala sesuatu terutama yang negatif, mentah-mentah kita alamatkan kepada orang lain dan negara lain. Terhadap pengaruh-pengaruh serta kekuatan negatif dari luar kita harus kritis, korektif, serta memperjuangkan perbaikan. Namun jangan pula dilalaikan bahwa tanggung jawab akhirnya yang tidak kalah menentukan adalah pada kita sendiri.

Inilah momentum yang agar bangkit serta merupakan kekuatan historis bagi kita dari kecelakaan serta musibah bertubi akhir-akhir ini. Merupakan momentum untuk melengkapi reformasi bukan saja reformasi politik, sosial, dan ekonomi, tetapi juga reformasi budaya, termasuk yang menyangkut sikap serta orientasi kita. Hanya dalam konteks itu, pengalaman dahsyat akhir-akhir ini tidak merupakan sekadar pembangkit sikap “hangat-hangat cirit ayam”.

Kompas, Senin, 15 Januari 2007

Lengah terhadap Flu Burung

FLU burung kembali merenggut nyawa anak bangsa ini. Yang paling mutakhir terjadi akhir pekan lalu, dua penderita flu burung yang dirawat di Rumah Sakit Persahabatan (Jakarta) akhirnya meninggal setelah gagal napas.

Dengan tambahan dua korban meninggal itu, maka dari 79 orang di seluruh Indonesia yang positif flu burung, sebanyak 61 orang meninggal. Artinya, tidak tanggung-tanggung, 77% tidak dapat diselamatkan.

Angka itu merupakan statistik resmi yang disampaikan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan dr I Nyoman Kandun dalam jumpa pers, Sabtu (13/1). Dalam kenyataan, bisa jadi jumlah korban lebih banyak, mengingat masih kuatnya kecenderungan menutup-nutupi hal yang negatif di jajaran birokrasi.

Yang pasti, kini bertambah lagi kasus cluster. Yaitu, kasus orang dalam satu keluarga diserang flu burung dan meninggal dunia.

Akan tetapi, sekalipun kasus cluster bertambah, pemerintah tetap berpandangan bahwa belum ada bukti virus flu burung dapat menular dari manusia ke manusia.

Pandangan yang benar, namun hendaknya jangan meninabobokan atau menganggap remeh. Sebab, virus itu bisa bermutasi, sehingga akhirnya dapat menular dari manusia ke manusia.

Bahkan, pemerintah mestinya lebih meningkatkan lagi kewaspadaan, sebab bukan tidak mungkin mutasi virus flu burung itu hingga bisa menular dari manusia ke manusia justru terjadi di Indonesia. Mengapa? Alasannya sangat sederhana, yaitu mengingat kenyataan negara lain yang terlebih dahulu terkena flu burung praktis sukses mengatasinya. Misalnya, nyaris tidak terdengar lagi ada warga China yang meninggal karena flu burung.

Sebaliknya, korban flu burung di Indonesia terus meningkat. Penyakit ini terus bermigrasi, bahkan semakin mendekati Jakarta (terakhir terjadi di Bekasi dan Tangerang). Dan yang paling penting mesti diwaspadai satu cluster lagi terjadi.

Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat tidak boleh anggap enteng. Keduanya harus bersama-sama mengambil langkah-langkah yang lebih progresif. Misalnya, memperluas radius pemberantasan hingga sejauh 5 kilometer dari tempat ditemukannya korban positif virus flu burung. Dalam radius itu, semua burung dan ayam harus dimusnahkan secara serentak.

Untuk itu jelas pemerintah memerlukan anggaran yang besar untuk mengganti rugi ayam dan burung milik warga. Sebaliknya, di sinilah pula diperlukan kesadaran yang tinggi dari warga untuk merelakan ayam dan burungnya dimusnahkan. Bahkan mengingat bahayanya bagi sesama anak bangsa, termasuk diri sendiri, mestinya merelakannya tanpa ganti rugi.

Adalah fakta bahwa jumlah korban mati akibat flu burung terus meningkat. Namun sebaliknya, adalah juga fakta bahwa masyarakat dan pemerintah bisa lengah. Lengah, karena flu burung berkelakuan seperti tidak ’serius’. Ia sebentar datang, sebentar pergi.

Suatu hari mendadak jatuh korban di Tanah Karo (Sumatra Utara), lalu menghilang, dan seperti mendadak muncul kembali di Bekasi dan Tangerang.

Kewaspadaan anak bangsa ini pun terpengaruh, mengikuti irama serangan flu burung itu. Sebentar waspada ketika terjadi korban, namun kemudian lebih banyak lengah sampai dikejutkan lagi oleh kenyataan ada lagi yang mati karena flu burung.

Sikap lengah itu suatu hari bisa sangat berbahaya. Yaitu, terlambat menyadari bahwa sang virus telah mengalami mutasi sehingga bisa menular dari manusia ke manusia. Hal ini jelas sangat mengerikan, sehingga harus dicegah sedini mungkin.

Media Indonesia, Senin, 15 Januari 2007


Blog Stats

  • 471,507 hits

 

Januari 2007
S S R K J S M
« Des   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

a

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.