Al Makin
Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kandidat Ph D Universitas Heidelberg, Jerman.
Tulisan berikut mencoba menanggapi dua artikel terdahulu, Hamid Fahmi Zarkasyi (28/12/06) dan Ismail F Alatas (5/01/07), yang kurang lebih berkenaan dengan kritik terhadap para pemikir pembaruan Islam di Indonesia semisal Nurcholish Madjid dan Harun Nasution. Terasa unik, terutama Nurcholish sampai meninggal dan mungkin juga yang lainnya hampir tidak pernah menjawab secara langsung segala kritik pedas. Paparan berikut berfokus pada deskripsi kritik yang telah dilontarkan.
Tipologi kritik
Perkenankan penulis membuat tiga tipologi kritik: defensif, penolakan westernisasi, dan epistemologi. Pertama, kita menjumpai sikap defensif terhadap pembaruan yang diajukan oleh para pemikir kita. Hal ini bisa dikategorikan sebagai pro status qou. Dalam perspektif ini hal baru yang ditawarkan dianggap sebagai ancaman terhadap kemapanan yang ada, baik itu pada dataran teologis maupun anggapan kemapanan struktur yang ada (politis maupun sosiologis). Keprihatinan kita adalah penolakan yang dijustifikasi dengan akidah, seperti pengkafiran. Kritik semacam ini mengandung resiko bahaya yang nyata: tidak menawarkan pendewasaan dalam masyarakat yang majemuk dan karenanya tidak perlu dikembangkan di masa depan.
Bisa dipukulratakan bahwa kritik ini berlandaskan dari Welstanschaung hitam-putih (baca: simplifikasi). Jika tidak Muslim tentu kafir. Pandangan ini berakibat pada pembenaran transendental suatu ideologi dan bahkan mengarah pada sakralisasi diri sendiri. Pola pikir ini juga memicu pada lahirnya radikalisme dan fundamentalisme.
Sikap simplifikasi juga berarti mengingkari seluruh kompleksitas sejarah pemikiran peradaban dalam dunia Islam yang kosmopolit. Berbagai cabang ilmu keislaman telah sedemikian berkembang selama berabad-abad termanifestasikan dalam kalam, fikih, filsafat, sejarah, sastra, bahasa, arsitektur, geografi, biologi, astronomi, kedokteran dan lain-lain disimpulkan menjadi dua pilihan tegas: Islam atau kafir. Tetapi, simbolisasi superfisial ini mudah diterima khalayak karena kesederhanaannya. Sedangkan kerumitan sejarah dan logika pengetahuan tidak mudah untuk dicerna, sehingga pada tingkat diseminasi masih terasa elitis.



Komentar Terakhir