Arsip untuk Januari 19th, 2007

Perspektif Lain Soal Pembaruan Islam

Al Makin
Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kandidat Ph D Universitas Heidelberg, Jerman.

Tulisan berikut mencoba menanggapi dua artikel terdahulu, Hamid Fahmi Zarkasyi (28/12/06) dan Ismail F Alatas (5/01/07), yang kurang lebih berkenaan dengan kritik terhadap para pemikir pembaruan Islam di Indonesia semisal Nurcholish Madjid dan Harun Nasution. Terasa unik, terutama Nurcholish sampai meninggal dan mungkin juga yang lainnya hampir tidak pernah menjawab secara langsung segala kritik pedas. Paparan berikut berfokus pada deskripsi kritik yang telah dilontarkan.

Tipologi kritik
Perkenankan penulis membuat tiga tipologi kritik: defensif, penolakan westernisasi, dan epistemologi. Pertama, kita menjumpai sikap defensif terhadap pembaruan yang diajukan oleh para pemikir kita. Hal ini bisa dikategorikan sebagai pro status qou. Dalam perspektif ini hal baru yang ditawarkan dianggap sebagai ancaman terhadap kemapanan yang ada, baik itu pada dataran teologis maupun anggapan kemapanan struktur yang ada (politis maupun sosiologis). Keprihatinan kita adalah penolakan yang dijustifikasi dengan akidah, seperti pengkafiran. Kritik semacam ini mengandung resiko bahaya yang nyata: tidak menawarkan pendewasaan dalam masyarakat yang majemuk dan karenanya tidak perlu dikembangkan di masa depan.

Bisa dipukulratakan bahwa kritik ini berlandaskan dari Welstanschaung hitam-putih (baca: simplifikasi). Jika tidak Muslim tentu kafir. Pandangan ini berakibat pada pembenaran transendental suatu ideologi dan bahkan mengarah pada sakralisasi diri sendiri. Pola pikir ini juga memicu pada lahirnya radikalisme dan fundamentalisme.

Sikap simplifikasi juga berarti mengingkari seluruh kompleksitas sejarah pemikiran peradaban dalam dunia Islam yang kosmopolit. Berbagai cabang ilmu keislaman telah sedemikian berkembang selama berabad-abad termanifestasikan dalam kalam, fikih, filsafat, sejarah, sastra, bahasa, arsitektur, geografi, biologi, astronomi, kedokteran dan lain-lain disimpulkan menjadi dua pilihan tegas: Islam atau kafir. Tetapi, simbolisasi superfisial ini mudah diterima khalayak karena kesederhanaannya. Sedangkan kerumitan sejarah dan logika pengetahuan tidak mudah untuk dicerna, sehingga pada tingkat diseminasi masih terasa elitis.

Lanjutkan membaca ‘Perspektif Lain Soal Pembaruan Islam’

Semangat perubahan di Tahun Baru Hijriah

Pergantian Tahun Baru Hijriah dari 1427 H menuju 1428 H besok akan diperingati umat Islam di Indonesia. Tidak jauh beda dari tahun sebelumnya, pergantian tahun baru Islam ini kita peringati dalam suasana penuh keprihatinan.
Bagaimana tidak, menjelang pergantian tahun, berbagai musibah yang menyedihkan beruntun mendera bangsa kita. Sejak dari tenggelamnya KM Senopati Nusantara, banjir di Riau, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), hilangnya pesawat Adam Air, hingga kecelakaan KA Senja Bengawan. Berbagai musibah ini menelan korban yang tidak sedikit. Menimbulkan kesedihan tak hanya bagi orang yang kena musibah, keluarga korban, tapi juga semua komunitas bangsa ini ikut berduka. Harus diakui, semua perasaan bela sungkawa, ikut prihatin, dirasa tidaklah cukup. Perlu ada langkah nyata agar musibah-musibah serupa tidak lagi terulang.
Bukankah berbagai musibah yang kita terima itu bukan semata-mata kehendak Yang Maha Kuasa? Bukankah manusia juga ikut memberi kontribusi terjadinya musibah itu? Berbagai musibah bisa dicegah atau paling tidak ditekan seminim mungkin dampaknya bila kita memang punya kemauan keras untuk itu. Intinya adalah kesediaan melakukan perubahan. Dan spirit Tahun Baru Hijriah adalah juga spirit perubahan. Hal ini dilandasi peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah pada 24 September 622 M silam. Muhammad memutuskan hijrah ke Madinah karena masyarakat Mekah sudah tidak lagi bersahabat dengan Nabi, tak bisa menerima dakwahnya. Hijrah itu sebagai langkah perubahan Muhammad untuk membuat sesuatu yang lebih baik di masyarakat Madinah. Benar, di tempat yang baru, Muhammad ternyata berhasil membangun peradaban baru yang lebih mencerahkan. Peristiwa hijrahnya Muhammad ke Madinah ini oleh sahabat Umar Bin Khattab dipakai sebagai awal penanggalan Islam.
Banyak cara dilakukan umat Islam dalam memperingati Tahun Baru Hijriah ini. Dalam budaya masyarakat Jawa-khususnya di lingkungan Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran, Tahun Baru Hijriah juga diperingati sebagai Tahun Baru Jawa. Mereka memperingatinya dengan melakukan kirab 1 Sura dengan mengirab benda-benda pusaka mengelilingi keraton maupun pura. Dalam masyarakat Islam, Tahun Baru Hijriah juga diperingati dengan berbagai aktivitas keagamaan.
Lanjutkan membaca ‘Semangat perubahan di Tahun Baru Hijriah’


Blog Stats

  • 480,612 hits

 

Januari 2007
S S R K J S M
« Des   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

a

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.