Jika kita bepergian saat ini, mau naik moda transportasi apa pun penuh dengan kekhawatiran. Terbukti dalam beberapa pekan terakhir ini, kecelakaan terjadi beruntun di semua jenis transportasi. Ada pesawat jatuh, kemudian kapal tenggelam, di darat kereta api anjlok, disusul bus masuk jurang atau tabrakan dengan kendaraan lain.
Dari data yang dikeluarkan Departemen Perhubungan (Dephub), pada 2006 terdapat 46 kasus kecelakaan. Di laut ada 104 kasus kecelakaan. Kemudian di darat ada 79 kasus kereta api dengan korban meninggal 50 orang, dan kecelakaan lalu lintas jalan raya yang menelan korban meninggal sebanyak 11.736 orang.
Pada 2007 yang belum genap satu bulan ini, sudah ada kecelakaan pesawat Adam Air yang sampai saat ini belum ditemukan dengan korban diperkirakan 104 orang. Kemudian, KM Senopati Nusantara dengan 350 penumpang hilang dan kapal Tri Star di mana 27 meninggal. Menyusul kecelakaan kereta Bengawan dengan lima orang meninggal.
Kabar terakhir, dua hari lalu, dua pesawat harus kembali lagi ke bandara setelah terbang sekitar 10-20 menit. Problemnya, roda pesawat tersebut tidak bisa masuk. Kemudian di Bangil, kereta pengangkut BBM anjlok, lima gerbong terguling. Kemarin, rel kereta di Lenteng Agung ditemukan patah, beruntung sempat ketahuan sebelum kereta lewat.
Lengkap sudah kecelakaan yang terjadi di negeri kita ini. Masyarakat menjadi waswas jika bepergian, karena naik apa pun, kemungkinan terjadi kecelakaan relatif tinggi. Nyawa menjadi seolah tak berharga lagi. Korban luka sudah tak lagi dihitung sebagai korban, karena sudah begitu terbiasanya.



Komentar Terakhir