Arsip untuk Januari 20th, 2007

Benahi Transportasi

Jika kita bepergian saat ini, mau naik moda transportasi apa pun penuh dengan kekhawatiran. Terbukti dalam beberapa pekan terakhir ini, kecelakaan terjadi beruntun di semua jenis transportasi. Ada pesawat jatuh, kemudian kapal tenggelam, di darat kereta api anjlok, disusul bus masuk jurang atau tabrakan dengan kendaraan lain.

Dari data yang dikeluarkan Departemen Perhubungan (Dephub), pada 2006 terdapat 46 kasus kecelakaan. Di laut ada 104 kasus kecelakaan. Kemudian di darat ada 79 kasus kereta api dengan korban meninggal 50 orang, dan kecelakaan lalu lintas jalan raya yang menelan korban meninggal sebanyak 11.736 orang.

Pada 2007 yang belum genap satu bulan ini, sudah ada kecelakaan pesawat Adam Air yang sampai saat ini belum ditemukan dengan korban diperkirakan 104 orang. Kemudian, KM Senopati Nusantara dengan 350 penumpang hilang dan kapal Tri Star di mana 27 meninggal. Menyusul kecelakaan kereta Bengawan dengan lima orang meninggal.

Kabar terakhir, dua hari lalu, dua pesawat harus kembali lagi ke bandara setelah terbang sekitar 10-20 menit. Problemnya, roda pesawat tersebut tidak bisa masuk. Kemudian di Bangil, kereta pengangkut BBM anjlok, lima gerbong terguling. Kemarin, rel kereta di Lenteng Agung ditemukan patah, beruntung sempat ketahuan sebelum kereta lewat.

Lengkap sudah kecelakaan yang terjadi di negeri kita ini. Masyarakat menjadi waswas jika bepergian, karena naik apa pun, kemungkinan terjadi kecelakaan relatif tinggi. Nyawa menjadi seolah tak berharga lagi. Korban luka sudah tak lagi dihitung sebagai korban, karena sudah begitu terbiasanya.

Lanjutkan membaca ‘Benahi Transportasi’

Makna hijrah dan agenda transformasi

Salah satu makna penting Hijrah adalah adanya proses transformasi dari kegelapan (darkness) menuju peradaban yang sepenuhnya tercerahkan (lightness). Dalam konteks kebangsaan, Hijrah bisa dimaknai sebagai transformasi menuju peningkatan kesejahteraan seluruh elemen masyarakat.
Mengingat dalam konteks ini, negara tidak memiliki tujuan dan agenda lain kecuali mengupayakan kualitas penghidupan yang layak bagi seluruh warganya.
Begitu pun pada mulanya Tahun Baru Hijriah diperingati, yang dalam catatan sejarah Islam, disamping menandai suatu hijrah secara geografis, juga sebagai momentum yang mengabadikan kecemerlangan karir Muhammad sebagai seorang Nabi yang mengemban misi sosial keagamaan sekaligus sosial politik, yang berhasil membawa masyarakat menuju tatanan civil society yang berazaskan keadilan dan kesetaraan.
Pergantian Tahun Baru Islam 1428 H yang jatuh pada tanggal 20 Januari 2007, selayaknya dimaknai juga dalam spirit ini. Mengingat realitas politik, ekonomi, dan sosial-keagamaan yang tidak begitu menggembirakan, kontekstualisasinya tidak boleh tidak, harus berpijak pada kondisi yang menjadi problem kita sekarang. Persoalan korupsi, kemiskinan krisis kepemimpinan serta disorientasi arah pembangunan yang telah mendorong bangsa ini menuju kubangan krisis multidimensional, menjadi agenda kita bersama.
Berefleksi kembali sejarah perjalanan bangsa ini sejak Orde Lama hingga masa reformasi, rasanya pantas kalau bangsa Indonesia disebut sebagai bangsa yang non-transformatif. Hal ini bisa dilihat dari history ending seluruh pemimpin bangsanya, semua menderita luka politik karena semua presiden harus terjungkal oleh gelombang demonstrasi dan tekanan dari lawan politiknya.
Alih-alih melakukan transformasi sosial, banyak pemimpin lebih memikirkan untuk menyelamatkan kekuasaannya. Tiap periode pergantian pemimpin, sudah selayaknya bagi sebuah bangsa meninggalkan masa lalu dan mulai mencari strategi baru menatap masa depan yang lebih baik. Tetapi Indonesia terus berkutat pada masalah klasik yang tak kunjung selesai.
Bahkan ada yang berani menyematkan istilah the defeated culture kepada bangsa ini. Yaitu sebuah bangsa yang seolah ditakdirkan oleh Tuhan untuk selalu menderita kekalahan dan nasib sial karena pemimpinnya juga selalu ditimpa kesialan tiap kali dipercaya rakyat menjalankan roda pemerintahan.
Pertanyaannya kemudian, apakah ”kesialan” itu disebabkan karena ”peruntungan” pemimpinnya kurang bagus, atau memang karena kualitas buruk masing-masing pemimpin dalam tiap periode pemerintahan yang dijalankan sehingga sulit berakselerasi dalam pembangunan? Hal ini penting dijawab tuntas guna melacak akar masalah yang sebenarnya dari keterpurukan bangsa Indonesia selama ini.
Nabi semasa hijrah hanya memiliki sumber daya terbatas untuk memberdayakan masyarakatnya di Madinah, baik secara finansial dan manajerial. Bahkan hampir tidak memiliki potensi apa-apa dilihat dari intelektual. Tetapi justru mampu memperlihatkan kepada sejarah bahwa pemimpin yang berlandaskan komitmen yang besar untuk mengadakan perubahan revolusioner, disertai keteladanan, dedikasi, totalitas serta integritas, akan selalu mampu mengatasi tiap permasalahan di sekelilingnya.
Potensi
Lanjutkan membaca ‘Makna hijrah dan agenda transformasi’


Blog Stats

  • 480,612 hits

 

Januari 2007
S S R K J S M
« Des   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

a

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.