Makna hijrah dan agenda transformasi

Salah satu makna penting Hijrah adalah adanya proses transformasi dari kegelapan (darkness) menuju peradaban yang sepenuhnya tercerahkan (lightness). Dalam konteks kebangsaan, Hijrah bisa dimaknai sebagai transformasi menuju peningkatan kesejahteraan seluruh elemen masyarakat.
Mengingat dalam konteks ini, negara tidak memiliki tujuan dan agenda lain kecuali mengupayakan kualitas penghidupan yang layak bagi seluruh warganya.
Begitu pun pada mulanya Tahun Baru Hijriah diperingati, yang dalam catatan sejarah Islam, disamping menandai suatu hijrah secara geografis, juga sebagai momentum yang mengabadikan kecemerlangan karir Muhammad sebagai seorang Nabi yang mengemban misi sosial keagamaan sekaligus sosial politik, yang berhasil membawa masyarakat menuju tatanan civil society yang berazaskan keadilan dan kesetaraan.
Pergantian Tahun Baru Islam 1428 H yang jatuh pada tanggal 20 Januari 2007, selayaknya dimaknai juga dalam spirit ini. Mengingat realitas politik, ekonomi, dan sosial-keagamaan yang tidak begitu menggembirakan, kontekstualisasinya tidak boleh tidak, harus berpijak pada kondisi yang menjadi problem kita sekarang. Persoalan korupsi, kemiskinan krisis kepemimpinan serta disorientasi arah pembangunan yang telah mendorong bangsa ini menuju kubangan krisis multidimensional, menjadi agenda kita bersama.
Berefleksi kembali sejarah perjalanan bangsa ini sejak Orde Lama hingga masa reformasi, rasanya pantas kalau bangsa Indonesia disebut sebagai bangsa yang non-transformatif. Hal ini bisa dilihat dari history ending seluruh pemimpin bangsanya, semua menderita luka politik karena semua presiden harus terjungkal oleh gelombang demonstrasi dan tekanan dari lawan politiknya.
Alih-alih melakukan transformasi sosial, banyak pemimpin lebih memikirkan untuk menyelamatkan kekuasaannya. Tiap periode pergantian pemimpin, sudah selayaknya bagi sebuah bangsa meninggalkan masa lalu dan mulai mencari strategi baru menatap masa depan yang lebih baik. Tetapi Indonesia terus berkutat pada masalah klasik yang tak kunjung selesai.
Bahkan ada yang berani menyematkan istilah the defeated culture kepada bangsa ini. Yaitu sebuah bangsa yang seolah ditakdirkan oleh Tuhan untuk selalu menderita kekalahan dan nasib sial karena pemimpinnya juga selalu ditimpa kesialan tiap kali dipercaya rakyat menjalankan roda pemerintahan.
Pertanyaannya kemudian, apakah ”kesialan” itu disebabkan karena ”peruntungan” pemimpinnya kurang bagus, atau memang karena kualitas buruk masing-masing pemimpin dalam tiap periode pemerintahan yang dijalankan sehingga sulit berakselerasi dalam pembangunan? Hal ini penting dijawab tuntas guna melacak akar masalah yang sebenarnya dari keterpurukan bangsa Indonesia selama ini.
Nabi semasa hijrah hanya memiliki sumber daya terbatas untuk memberdayakan masyarakatnya di Madinah, baik secara finansial dan manajerial. Bahkan hampir tidak memiliki potensi apa-apa dilihat dari intelektual. Tetapi justru mampu memperlihatkan kepada sejarah bahwa pemimpin yang berlandaskan komitmen yang besar untuk mengadakan perubahan revolusioner, disertai keteladanan, dedikasi, totalitas serta integritas, akan selalu mampu mengatasi tiap permasalahan di sekelilingnya.
Potensi
Bercermin kepada Nabi dalam menjalankan strategi dakwahnya itu, rasanya terlalu naif mengatakan bahwa nasib pemimpin dan bangsanya bergantung kepada semata-mata keberuntungan. Dalam Alquran surah Ar-Ra’du ayat 11 juga telah ditegaskan, ”Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum tanpa dia sendiri mengubah nasibnya,”. Ayat ini memberi otoritas kepada segenap manusia untuk berusaha sekuat tenaga dan pikiran, mengerahkan segala potensinya demi kehidupan yang lebih baik. Bukan semata berharap dan hanya bergantung terhadap ”kekuatan lain” dalam menjalani hidup.
Kalau melihat ke belakang, ke masa Muhammad hidup dan memulai misinya, tentu terdapat jurang perbedaan yang tak terelakkan dengan realitas yang dihadapi Bangsa Indonesia dewasa ini. Peradaban primitif jahiliyah yang berlangsung saat itu, ditambah struktur alam sekitar yang tidak ramah karena tanah Arab didominasi gurun pasir yang panas, tidak membuat spirit Nabi kemudian surut.
Dari sini, setidaknya bisa dipetik pelajaran berharga menyangkut keteladanan beliau sebagai seorang pemimpin, yang mampu membawa pencerahan yang berarti dalam sejarah bangsanya. Bukan pemimpin yang hanya berorientasi kepada kenaikan gaji seperti yang terbaca pada lembaga DPR yang katanya terhormat.
Keteladanan tersebut menyangkut integritas dan totalitas beliau secara pribadi kepada umatnya, di samping pola hidupnya yang mencerminkan seorang negarawan sekaligus agamawan. Sikap moral yang luhur dan tidak kenal kompromi menyangkut segala aspek kepentingan publik jelas ikut berkontribusi terhadap kecemerlangan karir beliau.
Tapi apa yang terjadi di Indonesia, bangsa yang dianugerahi oleh Tuhan potensi untuk menjadi sebuah bangsa yang besar, ternyata tetap tak mampu memberdayakan dirinya. Sumber daya alam yang melimpah ruah justru ”dihadiahkan” oleh para pemimpinnya kepada para kapitalis global untuk dikeruk hingga yang tersisa hanyalah buruh yang tidak produktif dan kalah. Secara ekonomi, politik, dan moral, pemimpin bangsa telah jatuh ke titik terendah sebuah siklus peradaban, bahkan mungkin mendekati peradaban primitif jahiliyah 15 abad silam
Oleh karena itu, menjadi jelas kemudian persoalannya, bahwa demi terwujudnya agenda transformasi sosial menuju proyek pemberdayaan masyarakat secara utuh, key word-nya ada pada sosok pemimpin. Merekalah, dengan kebijakan dan kewenangannya di berbagai bidang, yang bertanggung jawab terhadap realitas kebangsaan dan Keindonesiaan kita.
Hal ini bisa dijadikan renungan bagi pemerintahan SBY-JK beserta kabinetnya saat ini. Lebih dari dua tahu periode kekuasaannya, perlu adanya koreksi atas prestasi yang didapat dari duet SBY-JK tersebut. Apakah mereka telah benar-benar melakukan transformsi secara personal untuk menjadi pemimpin yang punya cukup kecakapan merealisasikan agenda-agenda transformasi kebangsaan? Apakah sebagai pemimpin, moral mereka sudah dapat dijadikan teladan seperti idealnya Nabi juga memberi teladan yang baik pada umatnya?
Lao Tse pernah berkata bahwa untuk menciptakan perubahan revolusioner dalam masyarakat, pertama-tama pemimpin harus memulai perbaikan dari hal yang paling kecil, yaitu memperbaiki kualitas pribadi masing-masing pemimpin. Tanpa itu, tak akan tercipta teladan publik yang dengan perannya bisa merealisasikan agenda hijrah dalam konteks berbangsa dan bernegara.
Jadi dalam momentum peringatan Tahun Baru Hijriah ini, yang rutin diperingati tiap tahun oleh seluruh umat Islam, signifikansinya terletak pada spirit transformasi sosial-kebangsaan, yang dimulai dari transformasi personal para pemimpinnya. – Mohamad Sanusi Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

sumber : solopos 

About these ads

1 Response to “Makna hijrah dan agenda transformasi”


  1. 1 yurni Desember 29, 2008 pukul 10:47 am

    Ass.wrwb…

    Saya sangat setuju sekali dengan pemaparan komplit di atas dan berharap apa yang disampaikan bisa menjadi pedoman bagi setiap oorang muslim yang berada dalam momentum tahun baru Hijriah tersebut, sebagai makna berpindahnya satu sikap dan tindakan menuju arah yang lebih baik dan sempurna menurut pandangan Allah SWT.

    Mungkin hal2 yang perlu qt perhatikan diera sekarang ini, bagaiman menghidupkan Tahun hirjriah bukan hanya sekedar thun untuk memperingati hari2 besar Islam, tapi mengupayakannya menjadi masa yang penuh dengan perbuatan maknawi sesuai dengan anjuran Allah SWT dalam QS. Ali Imran ayat 110 yang artinya ” Hai orang2 muslim, kamu adalah sebaik2 ummat, kamu diutus untuk memberi manfaat kepada manusia, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang munkar”…

    Jadi dalam hal menjadi manfaat disini, qt sebagai hamba yang diberikan tanggung jawab oleh Allah SWT, harus bener2 mampu mengimplementasikan diri qt untuk kiranya dapat memberikan kontribusi lebih kepada alam ini.. termasuk berupaya untuk menekan angka pemborosan pada malam Tahun Baru Masehi dengan begitu banyaknya masyarakat muslim yang belum sadar akan begitu banyknya saudara2 qt sesama muslim yang masih sangat membutuhkan santunan uluran tang, sememntara uang itu hany dimanfaatkan dengan berduyun membeli petasan serta kembeng api, dengan tidak memperhitungkan berapa banyak uang negara yang habis terbakar pada malam itu, meski memang banyak yang mengakui bahwa, uang tetsebut adalah hasil dari jerih payah mereka sendiri. namun apa tidak mungkin, seandainya pemerintah qt membuat satu kebijakan untuk mengeluarkan aturan khusus kepada kaum muslimin, untuk tidak ikut2an melakukan pemborosan seperti itu…

    Semoga balasan dari saya ini bermanfaat, untuk menjadi bahan kajian qt bersama sebagai ummat rahmatan lil ‘alamien. Amien…


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 706,523 hits
Januari 2007
S S R K J S M
« Des   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: