Agama manapun di dunia tidak ada yang menginginkan kekerasan. Sebab,agama pada dasarnya adalah anti kekerasan. Ajaran agama sarat dengan cinta kasih dan kedamaian. Bukan untuk saling bertikai. Bahkan agama hadir adalah untuk melawan kekerasan, baik yang diperlakukan bagi agama itu sendiri, maupun kepada masyarakat, termasuk masyarakat minoritas. Agama bersifat melindungi.
Ketika ada statemen yang mengatakan bahwa tindakan kekerasan untuk dan atas nama agama, maka hal itu jelas penafsiran yang salah atas ajaran agama itu sendiri. Tanpa membedakan ajaran atau dogma agama, bisa dipastikan bahwa kekerasan tidak memiliki tempat di tubuh agama manapun.
Kekerasan berakar pada ketidakmampuan manusia itu sendiri dalam mengendalikan nafsu penguasaanya. Naluri manusia yang tak terkendali untuk menyerang, merebut, dan bahkan berkuasa atas orang lain semakin menguatkan beragam tindak kekerasan, termasuk terhadap dan atas nama agama itu sendiri.
Jika kemudian banyak kekerasan yang menimpa agama-agama, maka itu adalah bahagian dari tindakan yang harus disadarkan. Ada ketidakbenaran yang harus disingkirkan. Penafsiran-penafsiran yang keliru harus diluruskan.
Agama dan kekerasan adalah dua hal yang jauh berbeda. Tidak mungkin menyatu. Karena itu, kita amat miris mendengar ketika kekerasan terhadap agama banyak terjadi. Itu berarti, kekuatan utama sebagai pilar penopang bagi kehidupan bersama, sedang mengalami pendegradasian. Dan jika hal seperti ini terus berlangsung, maka pada akhirnya akan bermuara pada membudayanya tindakan-tindakan kekerasan.
Sejarah agama adalah sejarah melawan kekerasan. Bahwa di Indonesia sendiri, agama-agama beperan penting dalam melawan kekerasan, baik sebelum kemerdekaan maupun pascakemerdekaan. Ke depan, parade yang seperti itulah yang harus terus dibumikan. Kesucian agama jangan sampai ternodai oleh segelintir orang yang salah dalam menafsirkan kebenaran agama-agama.
Berkaitan dengan itu, kita menaruh simpati kepada PB Ansor yang dengan sigap mengutus 150.000 anggota banser untuk membantu kepolisian mengamankan Perayaan Natal 2007 dan Tahun Baru 2008. Tindakan ini jauh melampaui wacana dan perdebatan kusir tentang siapa yang berhak dan berkewajiban dalam memelihara keamanan.
Kita juga memberi rasa kagum pada tokoh-tokoh agama, nasional, dan tokoh masyarakat yang dengan tanpa kenal lelah terus menanamkan pesan-pesan kedamaian. Kiranya dengan untaian kata-kata dan sikap mereka, masyarakat luas dapat melihat cerminan yang sesungguhnya betapa pentingnya menjaga kebersamaan itu sendiri.
Pemimpin, baik di pusat maupun di daerah yang berperilaku sejuk dan toleran jelas harus kita dukung dalam menjalankan visi dan misinya. Sebab, demikaianlah potrek pemimpin yang sesungguhnya. Mereka harus membawa kedamaian di masyarakat.
Memang jika kita mengacu pada data yang dikeluarkan Indonesia Conference on Religion and Peace (ICRP) bahwa selama tahun 2007 ada 32 kelompok masyarakat mengalami kekerasan agama, Masih banyak yang harus kita benahi. Masih banyak lubang-lubang yang harus kita tutupi dan sikapi dengan arif dan bijaksana. Hal ini penting, supaya untuk hari yang akan datang, lubang-lubang tersebut tidak menjadi alat penyulut konflik yang terjal.
Kekerasan terhadap agama harus diminimalisir dan kalau boleh dihilangkan. Siapakah yang berperan untuk menciptakan situasi yang sedemikian itu? Jawabannya adalah kita semua. Semua kita harus berperan, tanpa harus membeda-bedakan Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan. Kita adalah pemilik bangsa ini. Kita adalah penopang kehidupan di masyarakat. Maka, menjadi tugas dan tanggung jawab kitalah menjaga dan memelihara kedamaian itu.
Agama-agama harus bersatu melawan kekerasan. Lahan bagi tumbuhya kekerasan harus diminimalisir. Marilah kita membuka ruang yang selebar-lebarnya bagi persemaian kedamian. Biarla kebenaran agama menjadi sinar yang menerangi kekalutan hidup manusia. (*)
Sinar Indonesia Baru, 12 Januari 2008



Komentar Terakhir