Kita kembali dikejutkan oleh pembunuhan sadis seorang perempuan yang ditemukan tanpa kepala di kamar salah satu hotel di Jakarta Utara. Aksi kejahatan memang akan selalu terjadi. Kita hanya bisa berusaha mencegah serta memperkecil berbagai aksi kejahatan di tengah masyarakat itu. Banyak teori yang bisa dikemukakan berkaitan dengan berbagai aksi kejahatan di tengah masyarakat. Tapi, aksi kejahatan berupa pembunuhan disertai memotong-motong bagian tubuh korban sangatlah sadis dan tidak bisa diterima akal sehat. Kita mengecam keras setiap tidak kejahatan. Kita sangat prihatin terhadap kasus pembunuhan sadis yang kembali terjadi di tengah masyarakat. Apakah norma dan nilai-nilai kemanusiaan sudah pudar di sebagian masyarakat? Masalahnya, pembunuhan dengan memotong-motong tubuh korban sudah sering terjadi di berbagai kota di negeri ini. Korbannya pun bisa dari berbagai kalangan, baik laki-laki maupun wanita, dari anak-anak hingga orang dewasa, tanpa mengenal status sosial. Hal itu seakan menunjukkan kepada kita bahwa aksi kejahatan bisa mengancam siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.
Kita pun sering bertanya ada apa sesungguhnya dengan masyarakat kita? Ironisnya lagi, kadang-kadang pembunuhan sadis bisa terjadi hanya karena persoalan yang sesungguhnya bisa diselesaikan secara dialektika. Tapi, mengapa jalan pintas dan membunuh yang jadi pilihan? Kasus-kasus pembunuhan sadis sudah sering mengejutkan kita.
Pada 1978 Nurdin Koto tewas terpotong-potong dan jenazahnya di buang ke Kali Kresek, Jakarta Utara. Pada 1980-an ditemukan mayat terpotong 13 bagian yang tidak teridentifikasi hingga kini. Ketika itu, jenazah dibuang oleh pelaku di seputar Jalan Sudirman, Jakarta Selatan. Begitu juga dengan kasus wanita paro baya, Diah, yang tewas pada 1989. Diah dibunuh suaminya dan tubuhnya pun dipotong-potong.
Kita juga seakan-akan kembali diingatkan oleh aksi kejahatan sadis pada 1994 yang menimpa keluarga Herbin Hutagalung. Begitu juga dengan keluarga Acan yang dibantai pada 1995 di Bekasi. Masih banyak pembunuhan sadis yang terjadi di berbagai kota. Kini, di awal 2008, kita kembali dikejutkan aksi pembunuhan sadis terhadap seorang wanita yang kepalanya dibuang ke Kali Kresek, Jakarta Utara.
Kejahatan sadis entah itu pembunuhan yang korbannya dipotong- potong, perampokan disertai pembunuhan dan pemerkosaan, selalu menjadi keprihatinan kita semua. Kita pun sering bertanya, begitu lunturkah nilai-nilai kemanusiaan, sehingga aksi kejahatan sadis sering berulang?
Dari segi patologi sosial disebutkan bahwa kejahatan, baik kualitas maupun kuantitas, merupakan cermin dari sebuah masyarakat. Himpitan ekonomi, persaingan yang semakin ketat, globalisasi, kecemburuan sosial, pola hidup materialistis, egoisme tanpa peduli sesama, amburadulnya penegakan hukum, sistem ekonomi yang kurang menghargai rakyat yang kurang mampu, pengangguran, dan lapangan pekerjaan yang terbatas, sering menjadi motif kejahatan brutal. Untuk mencegahnya adalah dengan menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan, norma yang baik, serta menanamkan pendidikan budi pekerti sejak dini di tengah masyarakat, yang dimulai dari keluarga kita masing-masing.
Penguatan peran keluarga sebagai pemberi arah dengan menanamkan nilai-nilai moral dan kemanusiaan sangat efektif untuk mencegah aksi kejahatan. Selain itu, tentu saja kita menuntut penegak hukum dan instansi terkait untuk menjalankan tugasnya secara tegas.
Di sisi lain, pemerintah harus terus berupaya mencegah timbulnya penyakit masyarakat dan menopang masyarakat untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.
Suara Pembaruan, 22 Januari 2008



Komentar Terakhir