Arsip untuk Januari 29th, 2008

Pemimpin Besar

Pemimpin besar senantiasa berani mengambil keputusan dan mengambil risiko apa pun yang ditimbulkan dari keputusannya tersebut.

DALAM perspektif religius, tidak baik kita membicarakan keburukan orang yang baru saja meninggal dunia. Tak terkecuali membicarakan mantan Presiden RI H.M. Soeharto. Sebab, dengan kematian, seseorang dengan sendirinya berhadapan dengan pengadilan sejati, yang terbebas dari rekayasa. Bahkan, setiap anggota tubuh satu persatu memberikan kesaksian dalam keadaan mulut terkunci. Lebih bijaksana jika kita mencari nilai di balik kematian seseorang yang dapat dijadikan pelajaran bagi setiap orang, termasuk bagi kebaikan masa depan bangsa Indonesia.

Salah satu yang pantas menjadi harga tertinggi dari Pak Harto adalah beliau pemimpin besar. Pemimpin belum tentu steril dari salah dan keburukan. Namun, pemimpin besar senantiasa berani mengambil keputusan dan mengambil risiko apa pun yang ditimbulkan dari keputusannya tersebut. Pemimpin besar tidak maju-mundur, apalagi mencla-mencle, sore mengatakan kedelai, pagi berubah menjadi tempe.

Dalam perkembangan politik seputar tahun 1965, keberpihakan Soeharto begitu jelas, anti-komunisme dan atheisme, dan kemudian membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Bahwa kemudian keputusannya tersebut menimbulkan korban jiwa yang sedemikian masif, itu adalah risiko yang masih kita sesalkan dan menjadi bagian kelam sejarah Indonesia. Namun, dengan kepemimpinan Soeharto, wajah Indonesia berubah. Indonesia yang mengedepankan politik dan ideologi sebagai panglima dalam pemerintahan sebelumnya, berganti dengan Indonesia yang berwajah politik pembangunan.

Dalam beberapa dekade, kebijakan Soeharto terbukti efektif, sehingga Indonesia sempat mendapatkan julukan sebagai The New Emerging Force in Asia bersama Korea Selatan. Politik pembangunan menjadi senjata ampuh untuk meredam berbagai perbedaan bangsa Indonesia yang memang sangat plural. Dapat dikatakan, pembangunan menjadi idiom yang mampu menyatukan berbagai macam perbedaan.

Dalam dekade akhir kepemimpinannya, keberpihakan Soeharto juga semakin jelas. Seiring dengan perkembangan usianya yang semakin lanjut, kehidupan Soeharto lebih berwarna religius. Itulah sebabnya, berbagai kegiatan yang bersifat keagamaan menjadi semakin dominan. Bahkan, kegiatan politik yang sering sangat sensitif pun diisi dengan warna-warna religius.

Itulah sebabnya, Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) pun tampil menjadi semakin populer. Golongan Karya dan parlemen, bahkan para jenderal yang “naik panggung” juga semakin ijo royo-royo, karena sebagian besar SDM-nya berasal dari kelompok yang memiliki komitmen keagamaan yang lebih baik.

Namun, kebijakan inilah yang kemudian menjadi bumerang bagi dirinya. Keberpihakan kepada nilai-nilai agama justru menjadi kontraproduktif karena bersamaan dengan itu, di belahan bumi lain sedang berkecamuk perbenturan peradaban (clash of civilization), pada saat peradaban Barat sedang “kesepian dari musuh” menyusul berakhirnya perang dingin akibat runtuhnya negara-negara komunis.

Jatuhnya Presiden Soeharto tak terlepas dari perkembangan global ini. Fenomenanya pun begitu jelas, krisis yang melanda Indonesia berawal dari krisis moneter yang dipicu oleh penarikan investasi Barat secara besar-besaran. Krisis yang masih menghantui bangsa Indonesia sampai saat ini tak terlepas dari keberpihakan seorang pemimpin besar. Kita tinggal menunggu kepemimpinan besar berikutnya.***

Pikiran Rakyat, Selasa, 29 Januari 2008

Soeharto, ASEAN, Stabilitas Regional

Salah satu sumbangan mendiang mantan Presiden Soeharto yang dikenang pemimpin Asia Tenggara adalah pemulihan dan pembangunan kestabilan kawasan.

Pak Harto tampil sebagai pemimpin ketika kawasan sedang dililit konfrontasi Indonesia-Malaysia. Pengakhiran konfrontasi dan pemulihan hubungan dengan Malaysia kemudian diikuti dengan pendirian ASEAN, Agustus 1967, yang menjadi pilar kestabilan kawasan.

Ketika Pak Harto berpulang, sumbangan inilah yang banyak diingat oleh para pemimpin tidak saja di Asia Tenggara, tetapi juga di Asia Pasifik.

Sebagai salah seorang pendiri ASEAN, Soeharto dinilai memiliki visi kepeloporan untuk membangun kawasan Asia Tenggara yang lebih damai, maju, dan makmur, dan didasarkan pada saling menghormati dan pengertian. Itulah yang disampaikan Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo.

Sementara Perdana Menteri Australia Kevin Rudd menilai Soeharto punya pengaruh dalam mendorong pembangunan di lingkungan ASEAN, dan selain itu juga forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC).

Dua catatan di atas kiranya bisa menyegarkan ingatan kita tentang apa yang diakui masyarakat internasional sebagai kontribusi pemimpin Indonesia yang baru saja tutup usia.

Adanya perdamaian dan stabilitas di kawasan ini jelas amat dihargai karena tanpa itu sulit bagi negara-negara di kawasan untuk memusatkan diri menjalankan pembangunan.

Dalam hal politik regional, kita tahu bahwa potensi konflik terus ada bahkan setelah Perang Dingin usai. Konflik yang merebak di Kamboja di paruh kedua 1970-an menjadi contoh nyata, dan di sini pun Indonesia di bawah Pak Harto banyak mengambil inisiatif perdamaian melalui Pertemuan Informal Jakarta (JIM).

Dengan bermodal stabilitas, negara-negara kawasan dapat dengan tenang melakukan pembangunan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Vietnam yang dulu terlilit dalam perang panjang kini tampil sebagai salah satu pusat pertumbuhan kawasan.

Persaingan yang makin ketat sekarang ini boleh jadi akan memaksa bangsa-bangsa Asia Tenggara mengubah diri menjadi bangsa unggul. Akan tetapi, tanpa didasari oleh falsafah yang bisa dipercayai bangsa-bangsa lain, bisa jadi persaingan mudah menjadi konflik.

Pendekatan musyawarah yang sering dikedepankan Pak Harto dalam mengelola permasalahan regional, khususnya di dekade sulit 1980-an, terbukti banyak memberi kesejukan, meskipun dewasa ini banyak urusan yang perlu ditangani secara lugas.

Kompas, 29 Januari 2008

Gaung Kepergian Pak Harto

Selama 24 hari dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta, sosok Pak Harto, presiden kedua RI, terus-menerus diberitakan dan disiarkan.

Sejak meninggal hari Minggu sampai pemakamannya di Astana Giribangun, Karanganyar, Jawa Tengah, laporan media mencapai klimaksnya. Berlakukah apa yang oleh sosiolog media Marshall McLuhan ”the extension of men”. Media meluaskan sosok orang yang diliputnya. Semakin besar pribadi subyek peliputan, semakin luas dan lama pula ekstensinya. Masuk akal jika pemberitaan tentang kepergian Soeharto akan lama dan jauh gaungnya. Tidak mengherankan jika gaung itu berusaha menempatkan sosok dan kinerjanya yang masih relevan.

Kebetulan kini kita dihadapkan pada persoalan penyediaan berbagai bahan pokok pangan. Masuk akal jika keberhasilan swasembada pangan dalam masa pemerintahan Pak Harto menarik perhatian. Namun, Pak Harto tidak konsisten dalam mengembangkan pertanian. Ia terbawa jauh godaan mengembangkan teknologi tinggi.

Meski demikian, keberhasilan bisa ditempatkan pada kerangka pendekatan masalah yang berlaku masa itu, yakni adanya perencanaan, dirumuskannya kebijakan yang jelas, serta dilaksanakannya kebijakan itu secara konsisten. Dari masa lalu, kita belajar dari keberhasilan, kita belajar pula dari kegagalannya.

Perencanaan dalam sistem pemerintahan sekarang juga ada, tetapi tidak seeksplisit masa itu, tidak pula berlaku rencana jangka panjang, rencana jangka menengah, dan rencana tahunan.

Bagaimana perihal bekerjanya pemerintahan yang konsisten, efektif, dan efisien? Pemerintahan yang terkoordinasi dengan baik dan karena itu juga efektif? Kita akui juga, kondisi peralihan sistem pemerintahan dalam konteks demokrasi dalam pembangunan—democracy in the making—tidaklah membantu.

Namun, justru kenyataan itu harus kita kenali, perhitungkan dan buat sepositif mungkin. Sepositif mungkin bagi terselenggaranya pemerintahan yang efektif. Lagi pula hal-hal yang mengandung kendali semacam itulah, maka ditegaskan menyelenggarakan pemerintahan bukanlah sekadar keahlian, tetapi sekaligus seni.

Pendekatan apa yang di antaranya meninggalkan kesan dari periode itu? Pemerintah sebagai pemimpin bekerja dan berupaya keras melibatkan masyarakat yang terdiri dari berbagai pekerjaan, kelompok kepentingan. Misalnya secara periodik dan di mana perlu sesuai dengan pekerjaan dan kepentingan masyarakat diberi latar belakang permasalahannya. Tugas yang dihadapi pemerintah dan pemerintahannya dalam banyak hal bukanlah mengambil keputusan yang baik atau buruk, tetapi yang kurang buruk. Pilihannya bukan baik atau buruk, tetapi yang buruk dan yang kurang buruk.

Almarhum Pak Kasimo, tokoh politik sezaman Moh Roem, menggunakan istilah nimus malum yang kurang buruk. Sekali lagi, ulasan ini ikut menumpang pada resonansi kepergian presiden kedua RI, Soeharto.

Kompas, 29 Januari 2008

Pak Harto telah Memberi Pelajaran

MIKUL dhuwur mendhem jero, satu ungkapan Jawa yang sering disampaikan Soeharto menjelang lengser 1998. Banyak sastrawan Jawa mengartikan ungkapan itu sebagai; ‘Ingatlah segala kebaikannya dan kubur sedalam-dalamnya kesalahan yang pernah diperbuatnya‘. Tampaknya itulah yang seharusnya dilakukan bangsa Indonesia ketika Presiden pada masa Orde Baru itu telah beristirahat untuk selama-lamanya. Pak Harto wafat hari Minggu, 27 Januari 2008 dan dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga Astana Giri Bangun, Kab. Karanganyar Solo, Senin (28/1) kemarin.

Dalam buku Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya, Soeharto juga sempat mengulas hal tersebut. Katanya; ‘Saya pun tahu, saya tidak luput dari kesalahan. Maka, seperti berulangkali pernah saya katakan, di sini pun saya ulangi lagi, hendaknya orang lain mengikuti contoh-contoh yang baik yang telah saya berikan kepada nusa dan bangsa, menjauhi hal-hal yang buruk yang mungkin telah saya lakukan selama saya memikul tugas saya‘.

Dari pernyataan tersebut ada dua pelajaran yang dapat kita petik. Pelajaran pertama; kita bangsa Indonesia utamanya para pemimpin bangsa harus mengadopsi hal-hal baik yang pernah dilakukan Presiden Soeharto yang akhirnya bermanfaat bagi bangsa dan negara. Pelajaran kedua, sisi buruk yang dilakukan penguasa Orde Baru itu jangan buru-buru dibuang, tetapi ambillah hikmahnya dan jangan lagi melakukan hal serupa. Sebab terbukti hal-hal buruk itu telah menyengsarakan bangsa ini.

Ada dua hal yang tak pernah dilupakan rakyat ketika bangsa ini dipimpin Soeharto. Dua hal itu terkait keamanan dan ketersediaan sembilan bahan pokok dengan harga yang stabil. Untuk keamanan, sering dikaitkan karena pemerintah kala itu sangat tegas terhadap gerakan-gerakan yang menyimpang dari persatuan dan kesatuan bangsa serta Pancasila. Sementara ketersediaan bahan pokok dengan harga yang terjangkau juga prestasi yang patut dihargai. Kedua hal tersebut, pada pemerintahan setelah Soeharto belum bisa dijamin dengan baik. Apakah itu pada pemerintaahn Habibie, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati sampaikan dengan Susilo Bambang Yudhoyono kini, semuanya pernah mengalami goncangan harga sembako.

Sementara pelajaran yang patut diambil hikmahnya dan tak perlu dilanjutkan adalah tingkat korupsi. Pada masa Orde Baru dimana Soeharto sebagai presiden, banyak peneliti menyatakan tingkat korupsi di Indonesia termasuk paling tinggi di dunia. Itu artinya, Indonesia digolongkan dengan negara terkorup di dunia.

Oleh karena itu, dua hal tersebut ke depan harus dijadikan pelajaran. Namun hingga saat ini, pemerintah belum bisa menirugayaSoeharto dalam menekan harga sembako dan menjamin ketersediaannya secara berkelanjutan. Demikian pula masalah keamanan, di beberapa daerah masih terjadi gerakan sparatis dan terorisme. Namun syukur dua tahun belakangan ini, gerakan sparatis maupun tindak terorisme sangat jarang kita dengar. Walaupun ada, pemerintahan Yudhoyono segera dapat mengatasi sehingga tidak sampai berlangsung lama dan meluas serta memakan korban yang banyak.

Lalu bagaimana masalah hukum yang selama ini menghimpitnya? Wafatnya Soeharto menimbulkan sejumlah konsekuensi, baik dari sisi hukum maupun sisi kemanusiaan. Wafatnya mantan Presiden Kedua RI itu secara otomatis akan membuat segala kasus pidananya gugur demi hukum. Lalu bagaimana dengan kasus perdatanya? Hal ini tergantung pihak-pihak yang selama ini terlibat, baik pemerintah maupun ahli warisnya.

Sementara dari sisi kemanusian, kepemimpinan Soeharto selama 32 tahun tentu banyak hal yang dicapai secara baik. Meskipun juga cukup banyak persoalan yang harus dihadapinya termasuk terkait dugaan KKN.

Untuk itu, segenap bangsa dan negara agar menjadikan perjalanan panjang mantan Presiden Soeharto sebagai pelajaran berharga bagi bangsa ini ke depan, khususnya bagi para pemimpin yang saat ini tengah berkuasa.

Bali Post, 29 Januari 2008

Merenungkan Jasa Soeharto

Harus diakui bahwa meninggalnya mantan Presiden Soeharto membuat kita mencoba merefleksikan ulang, bahwa negeri ini pernah berada pada titik puncak keberhasilan pembangunan. Jujur kita katakan bahwa di jamannya memerintah, bangsa kita pernah menikmati betapa mudahnya hidup kala itu.

Bagi sebagian masyarakat, di jaman Soeharto, kehidupan memang tidak sesulit sekarang. Kini, harga-harga mahal, bahkan kebutuhan pokok amat mahal. Pada periode 1980-1993, pemerintah memang memiliki kemampuan untuk mengendalikan pertumbuhan ekonomi melalui pertumbuhan sekitar 8 persen setahun dengan nilai tukar terhadap dollar Amerika sekitar Rp 2.500-3.500 per dollarnya. Akibatnya, memang secara jelas, masyarakat bisa membeli segala sesuatu dengan murah. Inflasi yang gila-gilaan di akhir periode Orde Lama, berhasil dikendalikan. Dengan menerapkan pertumbuhan ekonomi melalui hadirnya berbagai unit usaha bagi masyarakat kecil, sebagian besar masyarakat di pedesaan memang menikmati hasilnya.

Yang tidak kalah penting adalah bagaimana Soeharto bisa mengubah wajah Indonesia. Pada tahun 1984, Indonesia berhasil mengubah diri dari negara terbesar dalam mengimpor beras, akhirnya menjadi negara berswasembada pangan. Lebih dari 3 juta ton padi dihasilkan setiap tahunnya. Bandingkan dengan sekarang yang justru defisit lebih dari 1 juta ton setiap tahun.

Meski bukan lulusan sekolah ekonomi, mantan Presiden itu dikenal lihai memotivasi para petani dan nelayan. Mereka dikunjungi dan diberikan motivasi untuk bisa memajukan pekerjaannya, sehingga menjadi petani adalah kebanggaan. Bahkan beliau dikenal suka memperkenalkan diri sebagai ”anak petani”, untuk meningkatkan gairah dan harga diri para petani.

Bukan hanya dalam bidang pertanian, salah satu sukses besar Orde Baru adalah dalam bidang kesehatan dan KB. Karena adanya kesadaran bahwa daya pembangunan akan terserap oleh jumlah penduduk, maka mantan Presiden Soeharto membangun dan menggalakkan program KB. Ia mencanangkan berbagai upaya mengendalikan pertumbuhan penduduk melalui berbagai upaya yang pada gilirannya berhasil mengerem laju pertumbuhan penduduk kita.

Di bidang kesehatan, upaya meningkatkan kualitas bayi dan masa depan generasi ini dilakukan melalui program kesehatan di posyandu, sebuah upaya yang mengintegrasikan antara program pemerintah dengan kemandirian masyarakat. Di jamannya, program ini memang sangat populer dan berhasil. Banyak ibu berhasil dan peduli atas kebutuhan balita mereka di saat paling penting dalam periode pertumbuhannya.

Yang tidak kalah penting adalah, karena Indonesia memiliki prospek yang sangat baik, terutama dalam menjaga kawasan baik di Asia Tenggara dan Asia, serta masa depan Indonesia yang dianggap sebagai macan Asia, Soeharto dan bangsa Indonesia memiliki kebanggaan tersendiri. Negara lain yang kini terang-terangan berani ”mengganggu” keberadaan kita seperti Malaysia dan Singapura, dulu tidak pernah menganggap Indonesia serendah sekarang. Jujur kita sampaikan bahwa dulu, kita sangat bangga karena kita punya banyak kiprah dalam memajukan wilayah ini.

Semuanya hanya sekelumit kisah supaya kita memandang jasa mantan Presiden Soeharto dalam konteks yang berimbang, meski kita tahu ada masa dimana beliau digunakan sebagai alat oleh orang-orang yang ingin memperkaya diri dan menguntungkan kelompok tertentu. Itu adalah sebuah fakta yang tidak terbantahkan. Pertanyaan berikutnya kepada para pemimpin sekarang adalah, sanggupkah mereka mengembalikan kebanggaan dan kejayaan yang pernah sangat menggetarkan hati itu? Ini adalah tantangan bagi mereka. (***)

Sinar Indonesia BAru, Selasa, 29 Januari 2008

Halaman Berikutnya »


Blog Stats

  • 481,571 hits

 

Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

a

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.