Archive for the 'Buku Habibie' Category

Kudeta Nih…

Majalah Tempo, Edisi. 32/XXXV/02 – 8 Oktober 2006
Seandainya Ibnu Khaldun masih hidup, ia tentu sangat menikmati polemik antara Baharuddin Jusuf Habibie dan Prabowo Subianto belakangan ini. Maklum, cendekiawan abad ke-15 yang dikenal sebagai peletak metode ilmu sejarah modern ini berpendapat sejarah tak dapat disusun semata-mata dari fakta, tapi harus dikaitkan dengan konteks dan paradigma yang berlaku ketika sebuah peristiwa terjadi.
Simaklah sekarang silang pendapat antara B.J. Habibie dan Prabowo Subianto, dua tokoh yang sempat akrab di masa-masa akhir rezim Soeharto dan sekarang—di era demokratis—bertikai tentang kisah bersama mereka di masa lalu.
Perdebatan ini awalnya terpicu oleh peluncuran buku B.J. Habibie berjudul Detik-detik yang Menentukan, Kamis dua pekan lalu. Buku setebal 549 halaman itu memuat kesaksian Habibie sekitar proses lengsernya Presiden Soeharto dan berbagai peristiwa yang terjadi saat ia menjadi Presiden Republik Indonesia.
Termasuk yang secara rinci diceritakan adalah laporan Panglima ABRI Jenderal Wiranto tentang adanya gerakan pasukan liar di sekitar Istana dan rumah kediamannya sehingga Presiden Habibie dan keluarganya diusulkan untuk diungsikan ke Istana. Atas dasar laporan itulah Presiden Habibie lalu memerintahkan Wiranto untuk segera mencopot Prabowo Subianto sebagai Panglima Kostrad. Prabowo kemudian datang menemui Habibie di Istana dan meminta pencopotannya diundur tiga bulan, namun ditolak.
Peristiwa itu sebenarnya sudah menjadi fakta sejarah, namun rincian isi percakapan keduanya dalam buku itu yang kemudian dibantah Prabowo. Ia lantas menggelar konferensi pers karena merasa diinsinuasikan akan melakukan kudeta dan berlaku kurang patut. Mantan menantu Presiden Soeharto ini juga sempat berupaya bertemu Habibie dan minta agar buku itu direvisi. Habibie menolak.
Prabowo tak menyerah. Kini ia menyatakan akan menulis buku untuk mengklarifikasi tuduhan yang dianggapnya tidak benar itu. Ini memang cara penyelesaian yang paling baik di alam demokrasi sekarang. Perbedaan pendapat, apalagi menyangkut kisah yang menyangkut pertemuan empat mata, sebaiknya dilemparkan saja ke orang ramai melalui penulisan buku oleh masing-masing pesertanya. Setelah itu, biarlah publik dan para ahli sejarah memperdebatkan, meneliti, dan mengambil kesimpulan.
Sebab sejarah, seperti kata Napoleon Bonaparte, adalah ”versi kisah masa lalu yang disepakati bersama”. Bahan-bahan dari buku siapa yang paling dapat meyakinkan, misalnya karena didukung dokumen otentik dan kesaksian pihak lain, tentu yang akan dipercaya dan ditahbiskan menjadi catatan sejarah. Ini pun bukan harga mati, karena revisi sejarah selalu dapat dilakukan bila terdapat bukti-bukti baru yang kesahihannya tak diragukan.
Buku versi Prabowo—mudah-mudahan jadi ditulis—diharapkan akan semakin melengkapi bahan para pakar sejarah untuk mengkaji proses kelahiran reformasi Indonesia, yang diwarnai dengan huru-hara yang mengambil korban jiwa dan harta cukup banyak itu. Ini akan memperkaya informasi dari buku-buku yang telah terbit sebelumnya, seperti yang ditulis oleh Jenderal Wiranto, mendiang Profesor Doktor Sumitro Djojohadikusumo, maupun Mayor Jenderal Kivlan Zen. Selain itu juga ada laporan Tim Gabungan Pencari Fakta dan berbagai pemberitaan di media massa. Kita tentu berharap tokoh-tokoh lain seperti Jenderal Endriartono Sutarto, Letnan Jenderal Sjafrie Sjamsoeddin, pun akan menyusul.
Soalnya, semakin banyak buku yang ditulis oleh para pelaku dan saksi di masa perubahan kekuasaan itu, akan semakin kaya pula informasi yang dapat diakses generasi mendatang untuk lebih memahami pergulatan pemikiran yang terjadi di masa sebelumnya. Dengan demikian, hikmah yang dapat dimanfaatkan untuk terus-menerus memperbaiki kinerja bangsa dan negara pun semakin besar.
Antara lain dalam upaya mencari jawab atas berbagai pertanyaan. Misalnya: mengapa kerusuhan terjadi, mengapa tentara seperti membiarkannya? Siapa di belakangnya, dan siapa pula yang harus bertanggung-jawab?
Masyarakat perlu tahu apa yang terjadi dan bagaimana sebenarnya perilaku para politisi dan pejabat tinggi di masa krisis itu. Terutama karena kebanyakan mereka masih aktif berpolitik, bahkan berambisi duduk di pucuk kekuasaan. Karena krisis adalah gelanggang terbaik untuk menguji integritas dan kepribadian seseorang, kelakuan mereka di saat ”detik-detik menentukan” perlu diketahui oleh khalayak luas.
Tentu saja semua informasi dari para pelaku sejarah itu perlu disikapi dengan kritis. Sebab, seandainya Ibnu Khaldun masih hidup, ia tak akan begitu saja menerima kesimpulan Habibie di bukunya. Ia mungkin akan bertanya kepada Habibie apakah dukungannya pada Wiranto karena ia sangat percaya kepada sang Panglima ABRI atau karena bekas ajudan Presiden Soeharto itu memiliki Instruksi Presiden Soeharto Nomor 16 Tahun 1998 (tanggal 18 Mei 1998) yang menunjuk Wiranto sebagai Panglima Komando Operasi Kewaspadaan dan Keselamatan Nasional?
Kita tak tahu apa jawaban Habibie. Namun, keelokan hidup di alam demokratis adalah: setiap orang boleh saja menjadi Ibnu Khaldun dan menikmati perbedaan pandangan yang berlangsung di masyarakatnya dengan kritis.
Mengapa tidak?

Kontroversi Buku Habibie

Kompas, Senin, 02 Oktober 2006

Perbedaan pendapat yang berkembang sebagai kontroversi sekitar buku mantan Presiden BJ Habibie berlanjut. Reaksi dan pendapat pro-kontra muncul.

Buku berjudul Detik-detik yang Menentukan, Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi menjadi best seller. Perbedaan pendapat yang bernada kontroversi wajar dan masuk akal karena para pelaku masih hidup dan masalahnya menentukan sejarah serta mengundang pendapat dan sikap pro-kontra. Amatlah perlu kita, masyarakat apalagi para pelaku sejarah, bersikap dewasa.

Buku-buku sekitar peristiwa “G30S PKI”, karya-karya ilmuwan luar negeri, juga mengundang pendapat, interpretasi, serta sikap pro-kontra. Namun, karena sebagian pelakunya telah tiada, kontroversi tidak setajam buku karya Habibie. Kurang vokal dan tajamnya kontroversi mungkin juga karena peristiwa “G30S PKI” kecuali sudah lama juga kuat dimensi kelompoknya.

Peristiwa-peristiwa bersejarah, yakni peristiwa yang mempunyai pengaruh terhadap perkembangan perikehidupan kita sebagai bangsa dan negara, memang sebaiknya ditulis. Demikianlah tradisi bangsa-bangsa yang juga semakin merupakan tradisi kita. Sejarah adalah guru bagi kehidupan kita bersama bahkan perikehidupan bersama bangsa-bangsa dan masyarakat internasional.

Kejadian sejarah, apalagi yang makna sejarah alias pengaruhnya besar dan menentukan, mengandung dua sikap dasar dan dua dimensi, yakni dimensi obyektif dan dimensi subyektif. Kelengkapan obyektivitas fakta-faktanya saja ada unsur dan dimensi subyektif, apalagi interpretasi dan pendapat yang dihasilkannya.

Pemahaman hal itu sengaja kita kemukakan, kecuali memang begitulah duduknya perkara, juga untuk membentuk penilaian yang berbeda secara proporsional. Termasuk proporsional dalam memahami serta mengendalikan kontroversi.

Perbedaan pendapat mudah berkembang sebagai kontroversi yang emosional manakala kejadian dan interpretasi atas kejadian tersebut melibatkan orang-orang yang memiliki pribadi-pribadi kuat serta materinya menyangkut hal-hal yang sensitif. Kiranya hal-hal itu sedang kita saksikan dan kita alami dalam perbedaan pendapat dan kontroversi sekitar buku karya mantan Presiden Habibie.

Sikap hati-hati alias caveat itu kita kemukakan karena, menurut pengamatan, dalam proses transformasi ke sikap pemahaman serta budaya demokrasi, kita masih harus melalui proses yang rawan. Kita sikapi dan kita usahakan terutama oleh pihak-pihak yang langsung terlibat agar perbedaan sikap, kontroversi, serta cara kita menyikapi tidak menimbulkan efek samping, yakni terbukanya kembali “luka-luka lama”. Pemahaman dan cara yang bebas, terbuka, kritis, obyektif, dan ilmiah diusahakan agar tidak membangkitkan beragam efek sampingan. Barangkali caveat ini terasa berlebihan untuk berbagai pihak, tetapi kita kemukakan dengan maksud baik, agar kebajikan lama berlaku “kena ikannya, tanpa membuat air semakin keruh”. Diambil pengalaman dan pelajarannya yang cerdas, arif, dan bijak tanpa disertai efek-efek sampingan.

Berdebat Lewat Buku

Koran Tempo, Jum’at, 29 September 2006Inilah salah satu keelokan demokrasi. Semua orang leluasa berpendapat. Pejabat juga bebas menjelaskan kebijakan yang diambil secara terbuka. Bahkan, ketika sudah tidak berkuasa, ia masih bisa membeberkan segala kebijakan yang pernah dilakukan.
Teladan yang baik diberikan oleh Bacharuddin Jusuf Habibie, presiden ketiga Republik Indonesia. Lewat buku Detik-detik yang Menentukan yang diluncurkan pekan lalu, ia membeberkan drama politik setelah Soeharto lengser pada 21 Mei 1998. Hampir semua pengakuannya menarik, termasuk proses pencopotan Letnan Jenderal Prabowo Subianto dari Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat.
Habibie menuturkan, pada hari kedua memerintah, ia mendengar adanya gerakan pasukan Kostrad di luar koordinasi Panglima ABRI Wiranto. Akhirnya, ia meminta Wiranto segera mencopot jabatan Prabowo. Habibie juga menggambarkan bagaimana menantu Soeharto ini kemudian datang ke kantor presiden, mempertanyakan kebijakan ini. Sebuah kisah yang amat berguna bagi sejarawan, ilmuwan politik, juga khalayak umum.
Kemarin Prabowo menggelar konferensi pers menanggapi kesaksian Habibie. Langkah ini juga bagus. Tidak jadi masalah, ia mengungkap penjelasan berbeda. Sejarawan akan bisa memilih kesaksian yang mendekati kebenaran. Pengakuan dari saksi lain dan bukti tambahan bisa dipakai untuk mengujinya.
Kisah itu sebenarnya pernah diungkap Habibie setahun setelah ia menjadi presiden. Ketika hal itu dibeberkan di media, kontroversi pun muncul lantaran Prabowo membantahnya. Jika kini Habibie memuat hal itu dalam bukunya, berarti ia tetap kukuh pada kesaksiannya.
Dalam bukunya, Habibie juga menuturkan, ketika menyusun kabinet pada 22 Mei 1998, ia sempat menerima surat dari Jenderal Besar A.H. Nasution. Dalam surat yang dibawa dua perwira militer itu, Nasution menyarankan dia mengangkat Jenderal Subagyo Hs. menjadi Panglima ABRI dan Letjen Prabowo Subianto sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat. Tapi Habibie tak mengabulkan keinginan ini dan mempertahankan Jenderal Wiranto sebagai Panglima ABRI.
Diungkapkan pula kontaknya dengan Soeharto terputus begitu Habibie menggantikan dia sebagai presiden. Hanya sekali komunikasi terjalin. Itu pun melalui telepon, yakni 8 Juni 1998, pada hari ulang tahun ke-77 Soeharto. Sikap si mentor yang menjauhi dirinya ini masih menjadi pertanyaan Habibie hingga kini.
Alangkah baiknya jika tokoh lain juga berani membeberkan kesaksiannya. Ini akan membuat perjalanan sejarah politik negeri ini bisa dibaca secara jelas oleh anak-cucu kita kelak. Habibie sudah memulai. Prabowo telah menanggapi. Wiranto pun pernah mengungkap kesaksiannya tentang drama politik pada 1998 lewat buku. Mumpung masih hidup, Soeharto juga amat perlu membuat buku.
Semakin banyak bekas pejabat yang terbuka, semakin terkuak sisi-sisi gelap sejarah politik kita. Semua orang juga bisa belajar bagaimana peliknya mengelola negara sesuai dengan garis konstitusi. Dan ini bagus bagi perkembangan demokrasi.

Menunggu Kejujuran Sejarah

Media Indonesia, Jum’at, 29 September 2006
PERALIHAN kekuasaan pada Mei 1998 menjadi salah satu tonggak sejarah penting Indonesia. Penting, lantaran pergantian kekuasaan dari HM Soeharto kepada penggantinya, BJ Habibie, berlangsung tanpa harus banyak meminta korban jiwa manusia. Selain itu, peristiwa tersebut menjadi pintu masuk ke alam demokrasi, lepas dari kekuasaan otoriter yang sebelumnya membelenggu negeri ini.

Fakta sejarah itulah yang ditulis BJ Habibie dalam bukunya Detik-Detik yang Menentukan, Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi. Buku itu diluncurkan penulisnya Kamis (21/9) lalu.

Tentu saja fakta-fakta sejarah yang diungkap mantan Presiden RI itu tak harus memiliki kebenaran seratus persen. Sebab, memang tak ada sejarah di dunia ini yang punya kebenaran mutlak. Sejarah biasanya tetap mengandung misteri. Tapi, bagaimanapun terbitnya buku itu menjadi keberanian tersendiri buat seorang bernama BJ Habibie.

BJ Habibie berani menulis sejarah ketika para pelakunya masih hidup dan dia sendiri tak lagi berkuasa. Sebagai wakil presiden dan penerima kekuasaan saat itu, dia menjadi bagian dalam fakta sejarah. Ia menjadi pelaku sejarah.

Dalam spektrum kekuasaan otoriter, sejarah umumnya ditulis bukan untuk menunjukkan kebenaran, melainkan untuk menjadikan sejarah sebagai pembenaran sejarah. Itulah yang terjadi ketika masa Orde Lama dan Orde Baru berlaku. Sejarah kemudian menjadi persoalan sudut pandang dan kepentingan. Sejarah untuk kekuasaan. Akibatnya, banyak fakta (sejarah) yang ditutup-tutupi, dihilangkan, bahkan dijungkirbalikkan. Sejarah G-30-S/PKI, misalnya, hingga kini masih mengandung kontroversi.

Buku BJ Habibie ditulis ketika pintu demokrasi telah terbuka lebar. Fakta-fakta yang diungkap tentu saja sebatas pancaindra yang dimiliki Habibie. Dan, fakta tersebut belum tentu benar di mata pelaku sejarah lainnya. Itulah yang lantas menimbulkan kontroversi dan perdebatan.

Mantan Panglima Kostrad Letjen Prabowo Subianto, sebagai salah satu pelaku sejarah ketika itu, membantah sebagian fakta yang ditulis Habibie. Prabowo, dalam buku itu, dikesankan berseberangan dengan Habibie dan diduga akan melakukan kudeta. Prabowo diberi label negatif dalam buku tersebut.

Sejarah memang terkadang mengandung patologi. Ia kerap menisbikan dan menghancurkan peran pelaku sejarah. Namun, sejarah juga merupakan pergulatan tesis dan antitesis untuk mencari kebenaran. Karena itu, jika ada fakta-fakta sejarah yang disimpangkan, menjadi sebuah kewajiban bagi pelaku sejarah lainnya untuk meluruskan sejarah itu.

Kita berharap Prabowo dan para pelaku sejarah lain saat peralihan kekuasaan 1998 juga berani menulis buku, seperti BJ Habibie. Jika ada yang menganggap buku Habibie punya kelemahan, memang harus ada buku lain sebagai tandingan. Buku yang ditulis dengan kejujuran. Bukan dengan motif untuk menghancurkan. Dan, kejujuran untuk mengungkap kebenaran sejarah itulah yang masih langka di Republik ini.


Blog Stats

  • 691,721 hits
Juli 2014
S S R K J S M
« Feb    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.