Teroris Baru

Opini Majalah Tempo, 11 – 17 September 2006
TEROR bom akan datang pada bulan-bu­l­an berakhiran ”ber” ini? Bukan tan­pa alasan untuk mengkhawatir­kan­nya. Bom meremuk lantai parkir Bursa Efek Jakarta, mencabut nyawa se­puluh orang, melukai 90 orang, pada 13 September 2000. Pada malam Natal tahun itu juga sejumlah kota diamuk ledak­an bom, 16 orang tewas, hampir seratus cedera. Bom dengan korban terbesar di Indonesia meledak di Bali pada 12 Oktober 2002, merampas 202 jiwa dan melukai lebih dari 300 orang.
Pasti orang belum lupa, ledakan bom mobil bunuh diri di Kedutaan Australia di Jakarta, yang membunuh lima orang, terjadi pada 9 September 2004. Tahun 2005 hampir dianggap sepi bom kalau ledak­an besar tidak mampir lagi di Bali dan me­rebut 22 nyawa. Lagi-lagi kejadian itu pada bulan ”ber”, tepat­nya 1 Oktober.
Kelompok teroris mungkin punya alasan sendiri memilih bulan-bulan ini. Kenapa? Kita hanya bisa menduga. Mungkin karena pada 9 September 2001, kelompok Al-Qai­dah, dengan membajak dua pesawat terbang berbahan bakar pe­nuh, merontokkan menara kembar WTC di New York dan merebut 3.000 nyawa. Mungkin pagi celaka di jantung Amerika Serikat itu bagi komunitas tero­ris di segenap penjuru dunia menjadi semacam ”monumen” yang ha­rus ”diperingati” setiap tahun. Lima tahun tragedi 911 kem­bali melintas di kalender pekan lalu. Orang ramai se­akan menunggu yang buruk terjadi, dengan cemas, de­ngan ­takut.
Benar bahwa polisi terus bekerja mengusir rasa takut ini. Azahari, arsitek bom asal Malaysia yang diyakini ada di balik rangkaian ledakan selama ini, sudah ditewaskan pelor polisi dalam penyerbuan di Batu, Jawa Timur, November tahun lalu. Tapi sekondan utama Azahari, Noor Din M. Top, otak intelektual teror bom, belum juga dapat diciduk. Dari penyergapan polisi di Wonosobo, Jawa Tengah, pada April silam, lima bulan setelah Azahari tewas, diperoleh pengakuan bahwa Noor Din sudah berhasil membiakkan sel-sel baru, dengan pengikut muka-muka baru, yang mungkin lebih militan dan berbahaya.
Noor Din kabarnya masih berputar-putar di empat kota di Jawa Tengah. Percaya atau tidak, pola gerakannya mirip benar dengan patron besar terorisme, Usamah bin Ladin. Sejak Presiden Bush mengumandangkan perang melawan terorisme begitu menara WTC di New York roboh, seka­li­gus melakukan apa yang disebutnya strategi ”transformasi Timur Tengah”, yang terjadi malah sebaliknya: sel teroris bertumbuhan. Usamah memang tak pernah jelas hidup matinya, tapi orang keduanya, Ayman al-Zawahiri, ditengarai sudah mengembangkan sel-sel gerakan baru dari London sampai Lahore. Serangan Israel atas Hizbullah di Libanon ditaksir memper­cepat tumbuh suburnya anak-anak ran­ting kelompok bawah tanah yang sudah tak peduli siapa korban ”perang” yang dilancarkannya—argumen balik mereka: adakah bom Israel di Libanon bisa memilih korban tak bersalah?
Berbalas ”pantun” begini belum akan habis. Sama halnya dengan ”jihad” yang sudah jelas dilancarkan terhadap Amerika dan sekutunya. Tanpa perlu berdebat setuju atau tidak dengan definisi ”jihad” para pelaku itu, semangat melawan AS dan pendukungnya itu konon dipompa­kan dengan giat di Iran, Pakistan, Arab Saudi, sejumlah negara lain, dalam sel-sel tertutup yang terus merambat dan meluas, termasuk juga di negeri ini.
”Jihad” seolah membuat segalanya menjadi halal. De­ngan menempelkan stiker ”anti-Islam” pada Amerika, jaringan terorisme di negeri ini diyakini mendapatkan cukup amunisi untuk berkembang. Celakanya, negeri kita menye­diakan begitu banyak amunisi tambahan. Isu kemiskinan, korupsi, ketidakadilan, rendahnya pendidikan, konflik etnis dan agama, merupakan bahan bakar yang membuat tokoh seperti Noor Din Top seakan menemukan ”rumah besar”-nya di sini. Ide yang ditawarkan tokoh ini ternyata laku dan disambut banyak anak muda. Bahkan seorang sipir penjara di Bali manut pada perintah Imam Samudra, tokoh pe­ledakan bom Bali, untuk menyiapkan komputer jinjing di balik terali penjara.
Tidak mudah meredam aksi teroris itu, walaupun bukan tanpa jalan. Perlu usaha bersama melawan upaya Noor Din dan sekutunya memperluas jaringan—yang kabarnya kini memiliki kitab manual yang detail. Para ulama yang rasional bisa ambil bagian besar. Konsep semacam member gets member dalam ilmu pemasaran itu bisa ditangkal de­ngan gerakan penyadaran jihad yang semestinya dalam konteks negara aman seperti Indonesia ini. Menyadarkan satu orang yang terbujuk teroris mungkin sama dengan mempersempit satu langkah gerakan berbahaya itu.
Tentu saja polisi perlu lebih rigad bekerja pada bulan-bulan ”ber”ini. Kerja sama dengan tokoh masyarakat sampai tingkat RT dan RW perlu digalang untuk membarikade meluasnya jaringan teroris. Sementara itu pemerintah harus mempercepat pekerjaan besar jangka panjangnya: memberantas kemiskinan dan kebodohan. Tanpa itu, rakyat belum akan bebas dari rasa cemas dan takut, pada bulan ”ber-ber” atau bulan lainnya.

Iklan

0 Responses to “Teroris Baru”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 792,874 hits
September 2006
S S R K J S M
    Okt »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: