Audit Penanganan Lumpur Lapindo

Editorial Koran Tempo, Rabu, 13 September 2006

Langkah tepat bila pemerintah mengambil alih penanganan semburan lumpur panas di ladang pengeboran gas PT Lapindo Brantas Inc., Sidoarjo. Semburan ini sudah berlangsung sejak lebih dari tiga bulan lalu. Setiap hari 50 ribu meter kubik lumpur mengalir deras. Sampai sekarang, enam desa dengan 8.236 warganya harus mengungsi. Ini belum termasuk lumpuhnya jalan tol, juga tidak beroperasinya puluhan pabrik dengan ribuan tenaga kerja akibat rendaman lumpur. Dan yang lebih buruk, tak seorang pun bisa memastikan kapan lumpur panas itu berhenti menyembur.

Dengan besaran kerusakan seperti itu, bencana lumpur Lapindo memang tak bisa lagi ditangani hanya oleh pihak PT Lapindo atau pemerintah lokal. Karena itu, kita berharap setelah dua hari lalu pemerintah pusat memutuskan membentuk tim dan mengambil alih penanganan bencana ini, langkah meminimalisasi kerusakan bisa lebih terkoordinasi dan efektif.

Meski demikian, ada beberapa hal yang harus dicermati dari keputusan pemerintah itu. Pertama, pemerintah menegaskan bahwa seluruh biaya penanggulangan dan rehabilitasi–termasuk rehabilitasi sosial–tetap menjadi tanggung jawab Lapindo. Dengan kata lain, meski pemerintah menangani langsung, semua biaya yang timbul akan dibayar oleh Lapindo.

Belum jelas seperti apa ketentuan ini akan dijalankan nantinya. Apakah pemerintah menalangi lebih dulu lalu menagih ke Lapindo? Apakah publik bisa memastikan bahwa benar semua biaya itu atas tanggungan Lapindo, bukannya sebagian ternyata keluar dari pemerintah?
Klausul inilah yang harus diperjelas sejak awal. Publik harus memiliki akses untuk bisa memastikan bahwa yang terjadi bukannya “pelimpahan tanggung jawab” dari Lapindo ke pemerintah. Karena itu, seluruh biaya penanggulangan semestinya bisa diaudit oleh lembaga independen dan diumumkan ke publik.

Soal kedua adalah kejelasan sampai kapan Lapindo harus bertanggung jawab. Ketua tim, Basuki Hadi Mulyono, mengakui, keberhasilan menutup lumpur hanya 10 persen. Sebuah perkiraan yang realistis, karena para ahli geologi pun pesimistis semburan itu bakal bisa dihentikan.

Implikasi dari kemungkinan itu, solusi terhadap persoalan ini adalah solusi jangka panjang, terutama menyangkut kerusakan lingkungan bila lumpur memang akan dialirkan ke laut. Pertanyaan yang muncul, apakah Lapindo bebas dari tanggung jawab terhadap kerusakan lingkungan, yang mungkin saja baru terasa bertahun-tahun kemudian? Atau ini menjadi tanggung jawab pemerintah?

Bencana lumpur Lapindo ini memang tak bisa diperlakukan seperti bencana alam biasa. Dalam kasus bencana alam normal–tsunami, gempa, dan banjir–faktor alam sangat dominan. Dan dalam kasus begini, tanggung jawab penuh memang ada pada pemerintah, yang harus membantu korban bencana. Sebaliknya, kasus lumpur Lapindo tak bisa dianggap sebagai bencana alam biasa karena dominannya faktor

11 Responses to “Audit Penanganan Lumpur Lapindo”


  1. 1 Christian November 23, 2006 pukul 8:37 pm

    bagaimaan cara pemerintah turun tangan dalam pemberantasan lumpur lapindo itu sendiri??? sedangkan lumpur semakin lama akan semakin membahayakan masyarakat di sekitar terjadinya luapan lumpur itu sendiri??

  2. 2 uus Desember 6, 2006 pukul 7:55 pm

    saya tidak setuju, karena ada berbagai alasan. kalau kasus lapindo harus dialihkan kepada pemerintah ini justru akan jadi bumerang kepada pemerintah sendiri karena ini akan mengakibatkan pada membengkaknya APBD pemerintah dan ujung-ujung rakyat yang akan menjadi korban dari kaum-kaum kapitalis. berarti ini semua tidak ada bedanya dengan masa penjajahan dimana rakyat selalu ditindas

  3. 3 pemerhati Desember 23, 2006 pukul 6:50 am

    jangan seperti itulah pemerintah sayang!!!!!!!!jangan mau di bodohi lgi oleh segelintir kepentingan orang2 yg jago bersilat lidah dlm hal politik,yah u know lah siapa orangnya(Aburizal Bakrie,dkk)…
    pemerintah jangan sok menjadi pembela kebenaran krn sampai saat ini kebenaran yg mana yg mau ditunjukan?biarkan sekali-kali Bakrie merasakan sebuah TANGGUNG JAWAB moral thp masyarakat!!!karena selama ini yg Duit mmg banyak tapiiiii,sekali-kali donk beri pada org yg berkepentingan and memerlukan…
    ayo donk pemerintah,tunjukan Integritas anda di depan Rakyat mu ini!!!

  4. 4 GISATA Januari 1, 2007 pukul 5:29 am

    saya rasa memang bagaimana lagi kalau lumpur lapindo tidak sibuang di kali porong. apalagi melihat dampak yang ditimbulkan dari bancir lumpur. mencari solusi untuk menyumbat semburan lumpur memang diperlukan. perkarkan anda melihat sebuah film tentang meledakanya gunung whelsire yang menyebabkan merembesnya larva dai dalam tanah menuju perkotaan. awalnya larva tersebut dicoba untuk dibekukan. tetapi, karena terlalu banyaknya larva yang ada dan melingkupi wilayah luas maka akhirnya larva tersebut dialirkan kelaut. tapi, memang sampai beberapa waktu akan terasa merugikan. intinya, bagaimana kalau pemerintah masih mencari upaya kembali agar lumpur tersebut tidak dibuang di kali porong. terimakasih

  5. 5 Stepanus Kemis Januari 26, 2007 pukul 6:17 pm

    Saya turut prihatin dengan bencana lumpur panas Lapindo, kalau mau kasih inputan tentang teknis penanggulangan sumur lapindo brantas sebaiknya dikirim kemana? siapa tau bisa membantu.
    Kalau boleh saya dikirim alamat email team penanggulangan lumpur panas ke email saya. Mudah-mudahan bencana yang berkepanjangan ini cepat teratasi. (salam, kemis)

  6. 6 syahraz Februari 11, 2007 pukul 11:08 pm

    silakan kunjungi http://lapindo.topcities.com dan jangan lupa isi buku tamunya

  7. 7 syahraz Februari 11, 2007 pukul 11:09 pm

    Kalau mas stephanus mau email ke timnas silakan ke timnas-lusi@yahoogroups.com

  8. 8 ee_dha^^ Maret 26, 2007 pukul 12:16 pm

    lumpur lapindo emang bener2 menghardik para korban, apalagi anak yatim.PIKIRKAN NASIB MEREKAAA!!!!!!!!!!

  9. 9 audithink Mei 18, 2007 pukul 9:22 pm

    Hi..your blog is very cool, i love it
    if you have time..please visit to my site at www dot audithink dot com
    nice to know you

    regards,
    fatur
    e-mail : fatur_im2@yahoo.com
    http://www.audithink.com/
    your audit knowledge center

  10. 10 STOP HOT MUD LAPINDO Juli 16, 2007 pukul 2:53 pm

    Bismillah. Seorang rekan (yang tidak mau dipublikasikan namanya) minta pertolongan saya untuk menyampaikan info ini melalui internet. Beliau mengaku memiliki sebuah cara (alat) yang diharapkan dapat menghentikan semburan lumpur panas di sidoarjo (lapindo), adapun syarat-syarat pemasangannya akan dijelaskan lebih lanjut secara langsung. Sebelumnya mohon ma’af karena saya pribadi juga tidak dapat memberikan penjelasan lebih lanjut tentang cara kerjadari alat tersebut. Menurut beliau, alat tersebut berbentuk besi kuningan sepanjang 1 meter yang harus ditanamkan pada radius sekitar 500 meter dari pusat semburan. Wallahualam bi shawab. Tidak ada salahnya untuk mencoba kan? apalagi dengan niat untuk kebaikan ummat, dan tugas saya untuk menyampaikan amanah juga bisa saya tunaikan. Insyaallah. Demikiannlah saya sampaikan amanah ini, bila anda tertarik dan berniat untuk menanggapi lebih lanjut, silahkan menyampaikan melalui email. stophotmud@gmail.co.id. Wassalam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 780,018 hits
September 2006
S S R K J S M
    Okt »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: