PDB dan Peradaban

Editorial Media Indonesia, Rabu, 13 September 2006
PERADABAN moderen rupanya berkorelasi dengan tingkat pendapatan negara dan perorangan. Semakin tinggi produk domestik bruto (PDB) dan pendapatan per kapita semakin tinggi pula tingkat peradabannya. Karena benturan peradaban sesungguhnya tidak terjadi antara Islam (Timur) dan Barat (kapitalis) tetapi antara peradaban kaya dan peradaban miskin.

Inilah pendapat mantan presiden BJ Habibie ketika berpidato di depan rapat senat terbuka luar biasa Universitas Hassanuddin di Makassar akhir pekan lalu. Oleh Unhas, Habibie dianugerahi gelar Doctor honoris causa karena pemikirannya di bidang teknologi dan peradaban.

Benturan peradaban yang ditarik ke dalam wilayah yang sangat luas, cenderung menyeret suatu bangsa untuk melupakan permasalahan di dalam negerinya sendiri. Globalisasi, terorisme internasional, dan kejahatan kapitalisme, telah menyibukkan negara dunia ketiga sedemikian hebat sehingga melupakan tugas negara terpokok yaitu menyejahterakan rakyatnya. Indikator kesejahteraan adalah tingkat pendapatan.

Seringkali kita lebih sibuk dengan persoalan-persoalan lain yang disodorkan negara-negara besar. Negara-negara yang telah terbukti memiliki agenda meningkatkan PDB dan meningkatkan pendapatan per kapita mereka, tidak jarang melalui penghisapan sumberdaya kita.

Kita misalnya lebih sibuk mengurusi isu terorisme tetapi lalai dalam mengurus kepentingan perdagangan kita dalam konteks Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Saat negara-negara besar mempertahankan proteksi dan subsidi, kita sudah menanggalkan hampir semua perlindungan dan dukungan bagi bangkitnya ekonomi rakyat kita.

Kita pun menjadi salah satu negara paling liberal dalam ekonomi dan perdagangan dibandingkan negara-negara pengusung liberalisme itu sendiri. Hasilnya, PDB dan pendapatan per kapita mereka kian meningkat, sedangkan sumberdaya kita makin terhisap akibat ketiadaan daya tahan nasional.

Dalam kaitan ini, lebih baik kita memfokuskan diri pada hal-hal yang relevan dengan peningkatan PDB dan pendapatan per kapita. Kita harus lebih cermat dan tidak boleh terjebak dalam mengelola isu terorisme, perdagangan bebas, dan liberalisme.

Kita juga tidak boleh lalai dalam menghadapi perang moderen, perang peradaban. Karena, perang dan benturan peradaban yang sesungguhnya, telah terjadi. Seperti dikatakan Habibie, bukan terjadi antara Barat dan Islam, melainkan antara peradaban kaya dan peradaban miskin.

Dari titik krusial ini kita mendorong Pemerintah memiliki agenda lebih serius dan terintegrasi. Khususnya dalam memberantas kemiskinan, mengatasi kebodohan dan keterbelakangan, melawan dominasi dan penindasan, serta meningkatkan kesejahteraan dan keadilan.

Pejabat negara boleh saja mengumbar retorika mengenai terorisme, liberalisme, unilateralisme, dan perdamaian dunia. Tetapi mereka tidak boleh lupa bahwa peningkatan kesejahteraan dan keadilan rakyat Indonesia adalah tugas utama mereka, di atas segalanya.

Iklan

0 Responses to “PDB dan Peradaban”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 792,874 hits
September 2006
S S R K J S M
    Okt »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: