Jawara Adhyaksa

Tajuk Rencana Republika, Kamis, 14 September 2006
Hari-hari terakhir ini, kita diperlihatkan sebuah tontonan yang sama sekali tak menarik. Justru memalukan. Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh saling bersilang kata di media massa dengan Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Rusdi Taher. Tak hanya itu, mereka juga berebut pengaruh di DPR. Mereka mengira bahwa semua tindakan itu akan mempercantik wajah mereka. Justru sebaliknya: Makin hitam. Mereka mengira akan timbul simpati publik. Justru sebaliknya: Memuakkan.

Awalnya adalah kasus narkoba di Jakarta Barat. Ada perbedaan tuntutan yang dilakukan jaksa terhadap dua terdakwa. Hariono Agus Cahyono yang didakwa sebagai bandar cuma dituntut tiga tahun (di berkas tuntutan sebetulnya tertulis enam tahun), sedangkan Ricky Candra yang menjadi kurir dituntut seumur hidup. Hakim pun memvonis sesuai tuntutan saja. Padahal mereka didakwa atas kepemilikan 50 ribu kilogram shabu-shabu dan 70 ribu butir ekstasi. Yang menarik, jumlah barang bukti shabu-shabu berkurang menjadi 34 kg.

Akibatnya para pihak terkait diperiksa Majelis Kehormatan Kejasaan Agung. Dari empat jaksa penuntut umum, dua orang dipecat, dan dua orang lagi dibebaskan dari jabatan fungsional. Adapun Asisten Pidana Umum Kejati DKI ditarik ke Kejaksaan Agung dan Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Barat terkena hukuman penundaan gaji selama setahun. Sedangkan Rusdi kena bagian dicopot dari jabatannya. Rusdi pun melawan.

Rusdi mengatakan bahwa dirinya dari awal tak setuju terhadap tuntutan tersebut, namun karena ia sedang pergi ke Beijing, Cina, ia tak bisa mengontrolnya. Nah! Selanjutnya ia pun membeberkan –jika benar– apa yang sebetulnya menjadi aib dirinya dan juga korp kejaksaan. Menurutnya, pimpinan di Kejaksaan Agung beberapa kali melakukan intervensi kasus yang sedang mereka tangani. Di antaranya adalah kasus eks Bandara Kemayoran, kasus KPUD DKI, dan kasus Pemimpin Redaksi Rakyat Merdeka.

Bola kemudian bergulir ke DPR. Para anggota dewan yang terhormat memanggil Jaksa Agung dan Rusdi untuk dikonfrontir. Namun, sebagai pimpinan, Abdul Rahman Saleh tak memberi izin Rusdi untuk hadir. Rusdi tetap nongol di DPR, walaupun tak berkesempatan untuk konfrontasi langsung di ruang sidang.

Sebetulnya, hukuman untuk para jaksa itu masih terlalu ringan. Mereka tak terkena sanksi pidana. Mestinya mereka disidik karena bisa jadi ada unsur penyuapan. Toh, walaupun dihukum ringan, mereka tetap tak malu dan justru melawan. Sedangkan apa yang diungkapkan Rusdi soal tuduhan intervensi oleh pimpinan untuk sejumlah kasus lain justru memperlihatkan makin bopengnya wajah Korp Adhyaksa. Memang, betapa rusaknya mereka. Mestinya mereka malu pada polisi yang kini sedang giat menangkapi para bandar, pengedar, dan pemakai narkoba. Hasil kerja polisi yang bersusah payah menangkap, malah kemudian dijadikan ladang bisnis.

Apa yang sedang diperlihatkan para koboy penegak hukum itu sebetulnya hanya puncak dari gunung es dalam rimba keculasan aparat dalam menegakkan keadilan. Istilah mafia peradilan bukanlah isapan jempol.

Iklan

1 Response to “Jawara Adhyaksa”


  1. 1 www.daftarsbobetonlinebos.blogspot.com Juli 21, 2016 pukul 7:46 am

    Quality content is the secret to invite the users to pay a visit the web site, that’s what this website is providing.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 804,679 hits
September 2006
S S R K J S M
    Okt »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: