Perampingan Parpol

Editorial Jawapos, Kamis, 14 Sept 2006,

Kalangan pimpinan partai besar di Jakarta selama sepekan ini melontarkan gagasan mengenai perlunya pengurangan jumlah partai politik (parpol) peserta pemilu.

Partai-partai besar seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Golkar memiliki pandangan kurang lebih serupa. Yakni, parpol peserta pemilu maksimal hanya delapan partai.

Hanya, cara-cara memangkas jumlah parpol peserta pemilu antara satu partai dan partai lain cenderung berbeda. Ada yang meminta agar pengurangan parpol diserahkan pada mekanisme alamiah. Artinya, biarkan mereka ikut pemilu. Tapi, jika terus-menerus tidak memperoleh dukungan pemilih yang signifikan, toh akhirnya parpol tersebut akan keluar dari jajaran peserta pemilu.

Partai besar lain meminta agar batas perolehan suara minimal dalam pemilu atau yang dikenal dengan electoral threshold (ET) sebagai syarat menjadi peserta pemilu berikutnya segera diberlakukan untuk Pemilu 2009.

Pembatasan jumlah parpol peserta pemilu pada dasarnya merupakan ikhtiar yang rasional. Tujuannya, persaingan antarpartai untuk memperoleh dukungan pemilih dalam pemilu benar-benar sehat dan ketat.

Dengan demikian, masyarakat pemilih lebih mudah memilih partai dan menyalurkan aspirasinya secara lebih tepat tanpa menghilangkan pluralisme dalam sistem multipartai di Indonesia.

Selama ini, pluralisme tersebut cenderung hanya diperlihatkan oleh banyaknya partai peserta pemilu, tanpa memperhatikan proses penyaluran kepentingan politik dan artikulasi secara tepat.

Memang, dengan banyaknya partai, bukan berati penyaluran kepentingan politik dan artikulasi berjalan keliru. Namun, karena terlalu banyak partai, pluralisme penyaluran kepentingan politik serta artikulasi itu menjadi bias. Tidak berjalan melalui wadah yang benar-benar fungsional.

Pada sisi keberadaan parpol, terlampau banyaknya parpol yang menjadi peserta pemilu sering tidak diikuti akuntabilitas dan transparansi dalam memperjuangkan kepentingan pemilih.

Partai-partai cenderung hanya menjadi alat mencari kekuasaan belaka, alat lobi, dan menjadi sarana bargaining melalui take and give kepentingan politik dengan cenderung tidak mengindahkan kepentingan pemilih serta platform parpol yang bersangkutan.

Pada celah itulah terjadi peluang penyalahgunaan kekuasaan politik dan demoralisasi ideologi partai. Lantas, dari situ pula, muncul peluang partai menjadi alat untuk berkorupsi.

Simak saja pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) di berbagai daerah. Partai begitu mudah menjadi kendaraan politik bagi calon kepala daerah -bupati, wali kota, atau gubernur. Tapi, karena dalam menyediakan diri menjadi kendaraan politik tidak mengindahkan ideologi dan platform-nya, partai-partai sering pula menjadi alat politik uang.

Memang, tidak dengan sendirinya pembatasan jumlah parpol peserta pemilu lantas bisa melenyapkan korupsi dan politik uang. Namun, setidaknya, desakan transparansi dan akuntabilitas relatif bisa diharapkan.

Meski demikian, pembatasan jumlah parpol peserta pemilu tidak bisa dipaksakan begitu saja. Banyaknya parpol merupakan cermin hak masyarakat untuk bebas berpolitik dan berserikat.

Karena itu, biarlah masyarakat pemilih yang diberi kebebasan untuk memangkas jumlah melalui hak memilih partai dan hak untuk tidak memilih partai dalam pemilu.

0 Responses to “Perampingan Parpol”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 779,656 hits
September 2006
S S R K J S M
    Okt »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: