Jakarta Gelap

Editorial Media Indonesia Selasa, 19 September 2006

SEPARUH hari lebih Jakarta kemarin beraktivitas tanpa listrik. Jakarta gelap! Akibatnya, seperti yang sudah-sudah, kemacetan dan kesemrawutan terjadi di mana-mana. Sudah barang pasti seluruh kegiatan warga Jakarta yang amat bergantung dengan energi listrik menjadi kalang kabut.

Kerugian ekonomi sudah di depan mata. Sebab, transaksi di seluruh institusi yang menggunakan listrik pastilah terganggu. Perbankan, rumah-rumah sakit, toko-toko, pusat-pusat pelayanan masyarakat di kantor-kantor pemerintah, hanya bisa pasrah. Sebab, kalaupun ada genset, belum tentu langsung bisa dioperasikan. Celakanya lagi, belum tentu juga seluruh gedung dan perkantoran mempunyai genset.

Contoh gelap yang terang-benderang itu di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Rapat kerja yang tengah terjadi akhirnya ditunda dan dilanjutkan lain waktu. Itu menyedihkan karena gedung penting sekelas Dewan Perwakilan Rakyat tidak mempunyai genset. Itu konyol.

Jakarta bukan kali ini saja dilanda pemadaman listrik. Itu sudah terjadi berkali-kali. Juli lalu, misalnya, ibu kota negara juga kacau karena listrik padam selama delapan jam. Itu terjadi karena pembangkit listrik Muara Tawar, Jakarta Utara, kekurangan bahan bakar minyak. Sebuah cerita lama yang memalukan, yakni buruknya manajemen antisipasi. Adalah konyol sebuah pembangkit tenaga listrik yang amat vital untuk penerangan Jakarta bisa kehabisan bahan bakar.

Kegelapan Jakarta kali ini akibat terganggunya saluran transmisi di gardu Gandul, Cinere, Depok. Namun, itu diperparah dengan berhenti beroperasinya PLTU Muara Karang. Implikasinya pun sungguh amat serius.

Kita paham, rasio ketersediaan listrik di Indonesia memang sangat rendah. Baru sekitar 52% penduduk Indonesia yang menikmati energi itu. Sebuah angka yang jauh di belakang jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga yang melebihi angka 80%. Apa boleh buat, Perusahaan Listrik Negara (PLN) hanya mampu menyediakan 1 juta sambungan dari 2 juta permintaan (sambungan) setiap tahunnya.

Tetapi, apa pun ceritanya kota besar seperti Jakarta, sebagai pusat pemerintahan dan pusat bisnis, harusnya bebas pemadaman. Artinya, harus ada manajemen antisipasi yang berlapis-lapis agar Jakarta tetap menyala.

Kita khawatir, jika kini gedung dewan mengalami mati listrik, bukan mustahil suatu saat Istana Presiden dan Istana Wakil Presiden juga mengalami hal yang sama. Jika genset otomatis bekerja, ini tidak masalah, tetapi jika ngadat? Dengan kondisi benderang saja istana pernah kehilangan laptop karena ulah pencuri, bagaimana jika listrik padam?

Krisis listrik kini sungguh amat mengkhawatirkan. Jika Jakarta saja sering mengalami kegelapan, kita bisa membayangkan kondisi daerah. Ini sungguh memalukan. Hasil kerja sebuah perusahaan negara bernama PLN ternyata belum beranjak jauh. PLN tidak mengalami proses tumbuh yang bisa menjawab tantangan peradaban modern.

Iklan

0 Responses to “Jakarta Gelap”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 791,663 hits
September 2006
S S R K J S M
    Okt »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: