Jangan Sandera Dana Bantuan

Tajuk Republika Selasa, 19 September 2006 Hari ini Sidang Tahunan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) digelar. Pertemuan dua lembaga dunia yang selama ini memberikan bantuan dana pembangunan negara-negara berkembang juga negara miskin itu, mestinya memberikan harapan bagi pengurangan penduduk miskin. Namun, yang terjadi malah sebaliknya.

Presiden Bank Dunia, Paul Wolfowitz, melontarkan sebuah gagasan baru terkait perubahan kerangka kerja Bank Dunia. Selama ini bantuan berupa pinjaman lunak diberikan berdasarkan proyek-proyek yang dibutuhkan sebuah negara (baik kesehatan, pendidikan, dan semacamnya). Konsep baru yang dilontarkan Wolfowitz tak lagi seperti itu.

Dana bantuan, baik untuk program pengentasan kemiskinan, pendidikan, maupun kesehatan, hanya akan diberikan jika negara bersangkutan memperlihatkan kemajuan, sesuai takaran (standar) Bank Dunia, dalam pelaksanaan kebijakan antikorupsi. Artinya, jika Bank Dunia menilai pelaksanaan kebijakan antikorupsi di sebuah negara kurang memuaskan, maka dana bantuan, termasuk untuk pengentasan kemiskinan, tak akan diberikan. Kabarnya gagasan ini sudah diterapkan di Kenya, India, Bangladesh, dan Kamerun.

Konsep pemberian bantuan disertai prasyarat seperti itu memang terkesan bergaya khas Amerika Serikat (AS). Pasalnya, memang hanya AS-lah yang sepenuhnya mendukung konsep tersebut. Tapi tidak negara lain. Inggris malah mengancam tak akan memberikan donor bagi Bank Dunia jika gagasan baru kerangka kerja Bank Dunia tadi diberlakukan. Prancis, Jerman, dan Belanda bahkan juga merasa khawatir dengan gagasan tadi.

Sepintas gagasan ‘menyandera’ dana bantuan demi mengikis korupsi memang menguntungkan bagi pemberantasan korupsi, terutama di negara berkembang maupun negara miskin. Namun sesungguhnya, dengan cara seperti itu, Bank Dunia justru memperlambat pengentasan kemiskinan, bahkan mungkin malah menambah.

Siapa pun, di negara manapun, sudah sepantasnya menabuh genderang perang terhadap korupsi. Dana bantuan, apalagi yang bersifat pinjaman, perlu dikontrol secara ketat sehingga benar-benar jatuh ke program yang membutuhkan, dan bukan ke kantong-kantong pribadi penguasa. Tapi, pemberantasan korupsi jelas bukan pekerjaan sehari dua hari. Sulit rasanya membayangkan pembangunan dan pengentasan kemiskinan sebuah negara harus terhenti demi menunggu negara tersebut bebas korupsi.

Jadi, sudah selayaknya semua pihak tidak berpaling dari upaya-upaya pengentasan kemiskinan dunia, sesulit apa pun situasi dan kondisinya. Dana bantuan program kesehatan, pendidikan, juga proyek infrastruktur, tidak seharusnya dijadikan ‘sandera’, dan baru dibebaskan setelah sebuah negara secara sepihak dinilai bebas korupsi. Dengan gagasan ini, seolah-olah kita sedang menghukum orang-orang dan penduduk miskin atas kesalahan (korupsi) yang dilakukan pejabat-pejabat pemerintahan atau kalangan penguasa.

Sungguh itu sebuah gagasan yang sama sekali tidak fair. Dan Indonesia, yang kini memiliki menteri keuangan terbaik Asia 2006 versi Emerging Market, dan menteri keuangan of the year 2006 versi Euromoney, sepatutnyalah menolak keras gagasan kerangka kerja baru Bank Dunia ini. Upaya-upaya memberantas korupsi dan pengentasan kemiskinan sebaiknya bisa berjalan bersamaan, dan bukan menjadi prasyarat bagi salah satunya.

Bank Dunia dan IMF harus mampu menempatkan diri dalam posisi yang tepat di antara negara-negara donor dan penerima bantuan di seluruh dunia. Bukan bertindak bagai juri, apalagi hakim.

Iklan

0 Responses to “Jangan Sandera Dana Bantuan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 792,980 hits
September 2006
S S R K J S M
    Okt »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: