Masihkah Terus Berdebat

Tajuk Kompas, Selasa, 19 September 2006
Kekesalan masyarakat Desa Mindi dan Desa Pejarakan menyusul jebolnya tanggul penahan lumpur di Porong, Sidoarjo, tentunya sangat bisa kita pahami.

Keprihatinan yang sebelumnya dialami warga dari empat desa lain yang menjadi korban semburan lumpur panas akhirnya mengena kepada mereka juga. Dengan 50.000 meter kubik lumpur panas yang terus keluar setiap hari dari perut Bumi, hanya soal waktu semburan itu akan berdampak bagi lebih banyak lagi warga.

Setelah lewat 110 hari semburan itu terjadi, setidaknya ada sekitar 5,5 juta meter kubik lumpur yang terkumpul di kawasan itu. Tanggul-tanggul memang sudah dibangun untuk menahan sementara lumpur itu agar tidak menyebar semakin jauh.

Namun, berulang kali para ahli mengingatkan, dengan berat jenis air lumpur yang lebih besar dari berat jenis air, maka daya rusaknya semakin tinggi. Karena itu, hanya tinggal persoalan waktunya saja tanggul-tanggul yang tingginya sampai lima meter itu akan jebol.

Itulah yang berulang kali kemudian dialami oleh warga di Sidoarjo. Setiap kali tanggul jebol, maka air lumpur yang begitu besar volumenya tidak tertahan menerjang semakin banyak rumah penduduk.

Berbagai upaya untuk menghentikan sumber luapan lumpur bukan tidak dilakukan. Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengungkapkan, ahli dari empat negara sudah turun tangan untuk menghentikan sumber luapan. Namun, upaya itu tidaklah mudah, bahkan kesulitan baru kini dihadapi karena wilayah yang akan dijadikan tempat untuk membangun relief well (sumur bantuan) kini juga mulai terendam lumpur.

Dengan kondisi seperti itu, maka ancaman terhadap kehidupan penduduk belum akan berakhir. Sepanjang lumpur panas itu dibiarkan di tempatnya sekarang, maka bahaya akan terus mengancam. Ketegangan dan ketidaktenteraman seperti itulah yang pantas membuat warga kesal dan kemudian melampiaskannya.

Pertanyaannya, apa yang bisa kita lakukan? Yang pertama harus dilakukan adalah mengakhiri ketidakpastian dan ketidaktenteraman. Walaupun bukan pilihan yang baik, namun tetap lebih manusiawi untuk membuang air lumpur ke sungai atau ke laut. Tentunya agar tidak berdampak lebih buruk, kita mintakan untuk dilakukan pengolahan terhadap lumpur terlebih dulu.

Kita tentunya tidak bisa membiarkan masyarakat menjadi korban. Apalagi sampai timbul rasa saling curiga, tidak percaya di antara masyarakat, karena masing-masing mencoba untuk selamat dari bencana lumpur.

Jangan biarkan masyarakat akhirnya terjebak dalam konflik horizontal. Kehidupan yang mengimpit jangan ditambah lagi dengan persoalan sosial yang berat.

Tentu kita tidak menutup mata terhadap tuntutan agar proses hukum ditegakkan dalam kasus semburan lumpur panas ini. Namun, langkah itu kita tempuh setelah persoalan ancaman terhadap kehidupan penduduk bisa kita tangani.

Sejauh ini kita menangkap maksud baik dari pihak Lapindo Brantas. Dana sekitar Rp 1 triliun yang sudah mereka keluarkan merupakan bukti tanggung jawab.

Iklan

1 Response to “Masihkah Terus Berdebat”


  1. 1 Adhi. Wicaksana Oktober 31, 2006 pukul 4:26 pm

    Penanganan kasus Lapindo mestinya juga difokuskan kepada masyarakat (korban). Media massa mestinya juga harus adil memberitakan penanganan soal teknis dengan bagaimana mengganti kerugian korban secara adil.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 799,163 hits
September 2006
S S R K J S M
    Okt »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: