Bank Dunia

Tajuk Pikiran Rakyat Kamis, 21 September 2006

Pemerintah melalui Menkeu Sri Mulyani minta Bank Dunia bekerja sama dalam investigasi dan mencari solusi bersama.

PERTEMUAN tahunan Bank Dunia dan Dana Moneter International (IMF) yang tengah berlangsung di Balai Sidang Suntec Singapura, tidak luput dari perhatian kita. Pasalnya, peran dan pengaruh kedua lembaga internasional ini kepada kita selama ini cukup besar. Apalagi, akibat peran dan pengaruhnya itu pula, kerap menimbulkan kontroversial karena telah menembus batas-batas kedaulatan negara.

Peran IMF di Indonesia boleh jadi lebih dulu populer dibandingkan dengan Bank Dunia. Hal itu terutama terkait dengan upaya membangun kembali perekonomian kita pascakrisis moneter tahun 1998. Saat itu, IMF menetapkan sejumlah persyaratan yang dikenal sebagai Letter of Intent (LoI) kepada pemerintah kita yang terkesan sangat inferior, tak bisa berkutik. Kini popularitas Bank Dunia di mata kita juga sedang menanjak.

Seperti tidak mau kalah dengan IMF, Bank Dunia dalam beberapa bulan terakhir telah mem-blow up adanya praktik korupsi di Indonesia atas dana bantuannya di dua projek. Masing-masing, Projek Transportasi Daerah untuk Indonesia Timur (Eastern Indonesia Regional Transport Project – EIRTP), dan Projek Infrastruktur Jalan Strategis (Strategic Roads Infrastructure Project – SRIP).

Dalam pernyataannya, Bank Dunia mengaku telah menyelesaikan penyelidikan atas bukti-bukti yang ditemukan pada perusahaan konsultan dalam pelaksanaan EIRTP dan persiapan SRIP. Bukti itu berupa pemberian fasilitas dan sarana gratis sekira 300.000 dolar AS kepada pejabat-pejabat Departemen Pekerjaan Umum. Sedangkan, nilai pelaksanaan kontrak dan persiapan kedua projek itu sebesar 6 juta dolar AS.

Pernyataan Bank Dunia itu tentu cukup menohok kita. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati telah meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), dan Menteri Pekerjaan Umum untuk mengambil tindakan guna penyelidikan tersebut.

Di sisi lain, pada acara pertemuan tahunan Bank Dunia-IMF ini, pemerintah mempertanyakan langkah Bank Dunia terutama menyangkut proses investigasi atas kasus korupsi tersebut. Pemerintah melalui Menkeu Sri Mulyani minta Bank Dunia bekerja sama dalam investigasi dan mencari solusi bersama. Karena pada dasarnya, pemerintah berkomitmen memberantas korupsi. Dengan kerja sama ini, diharapkan sesuatu yang telah dikorupsi bisa dilacak dan dikembalikan.

Untuk itu, pemerintah juga minta agar Bank Dunia bisa lebih terbuka dalam menyelesaikan kasus-kasus korupsi dan tidak hanya mem-blow up pemberitaannya saja, tetapi implementasi penyelesaiannya sangat diperlukan.

Kita berharap agar Bank Dunia juga tidak cuci tangan atas kasus-kasus seperti itu. Seperti yang disampaikan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), seharusnya lembaga internasional itu mau berbagi tanggung jawab terhadap utang yang telah dikorupsi. Alasannya, Bank Dunia tahu tentang praktik itu, karena terlibat langsung dalam setiap tahap perencanaan sampai pelaporan projek. Komitmen pemerintah memang harus dibarengi dengan kesungguhan dan dukungan semua pihak. Apalagi, jika kasus- kasus itu melibatkan elite pemerintah, pengusaha besar, dan pihak-pihak berpengaruh.***

Iklan

0 Responses to “Bank Dunia”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 792,874 hits
September 2006
S S R K J S M
    Okt »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: