Kita yang Tentukan Ekonomi

Tajuk Kompas Kamis, 21 September 2006Kesan yang disampaikan Menkeu Sri Mulyani Indrawati pada Pertemuan IMF dan Bank Dunia sangat tegas. Lembaga keuangan dunia itu jangan terus mendikte.

Pernyataan yang sangat terang benderang itu sangat dinantikan banyak pihak, terutama negara-negara berkembang. Sejauh ini tidak ada pejabat resmi yang mau berterus terang seperti itu. Bahasa yang dipakai terlalu bersayap sehingga tidak cukup dimengerti apalagi oleh lembaga seperti IMF dan Bank Dunia yang tidak mau peduli terhadap berbagai kritikan yang disampaikan.

Peraih Nobel Ekonomi Joseph Stiglitz, yang pernah bekerja pada lembaga itu, sudah menuliskan dalam banyak bukunya tentang kekeliruan yang dilakukan IMF. Betapa peran yang seharusnya dijalankan untuk menjaga kestabilan ekonomi dunia ditumpangi oleh berbagai kepentingan. Yang paling menonjol dan terus didengungkan adalah soal demokratisasi.

Kita tidak menentang atau tidak mendukung demokrasi. Hanya saja harus diingat bahwa demokrasi bukanlah sebuah sistem yang sempurna. Ia hanyalah yang terburuk kedua, second worst, dari sistem lain yang ada. Karena bukan sistem yang sempurna, janganlah hal itu dilakukan secara cepat dan seketika.

Pengalaman di banyak negara menunjukkan, karena kepentingan politik lebih besar daripada penataan ekonominya, kondisi ekonomi dari negara yang dibantu justru semakin buruk setelah didatangi orang-orang IMF. Itulah yang juga dirasakan oleh kita sekarang ini, yakni ekonomi tidak pernah bisa pulih, malah angka kemiskinan dan pengangguran meningkat.

Penjelasan Menkeu semakin menegaskan bahwa pada akhirnya kita sendirilah yang harus menata ekonomi. Karena itu, janganlah kita hanya manggut-manggut ketika tim ekonomi dari luar negeri itu datang ke sini. Selain kualifikasinya yang tidak lebih hebat daripada ahli ekonomi kita, bagaimana dalam waktu satu-dua minggu mereka memahami akar persoalan ekonomi kita.

Sekarang ini saatnya bagi kita untuk menentukan sendiri arah pembangunan perekonomian kita. Bukan berarti kita menutup diri dan tidak mau mendengar masukan dari orang lain, apalagi dikatakan xenophobia, tetapi kitalah yang harus mengambil keputusan terhadap nasib diri kita. Orang asing boleh memberikan pandangan, tetapi keputusan akhir harus ada pada kita.

Tentang arah pembangunan ekonomi negara ini, banyak ahli sebenarnya sudah menetapkannya. Terakhir, misalnya, rumusan itu dibuat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia setelah mereka berkongres di Manado. Persoalannya, kita sering kali lebih kagum kepada orang-orang asing daripada bangsa sendiri. Akibatnya, rumusan sebaik apa pun akhirnya hanya disimpan di dalam laci.

Sekarang beranikah kita tidak hanya berbicara, tetapi menetapkan arah pembangunan ekonomi itu berdasarkan apa yang memang hendak kita kerjakan. Tugas Menkeu Sri Mulyani untuk menyampaikan ke dalam, menyampaikan kepada kabinet bahwa cukuplah sudah kita mendengar konsep-konsep dari luar. Sekarang saatnya bagi kita untuk menentukan nasib kita sendiri dalam membenahi berbagai persoalan ekonomi.

Iklan

0 Responses to “Kita yang Tentukan Ekonomi”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 787,792 hits
September 2006
S S R K J S M
    Okt »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: