Harga Buku yang Lebih Terjangkau

Media Indonesia Minggu, 24 September 2006
PEMERINTAH dan DPR tengah membuat terobosan agar khazanah perbukuan kita lebih bergairah. Upaya itu dilakukan melalui Rancangan Undang-Undang (RUU) Perbukuan. Harapannya, dengan RUU itu, harga buku akan menjadi jauh lebih murah, jauh lebih terjangkau, sehingga minat baca masyarakat dapat lebih meningkat.

Untuk menunjang misi itu, dalam RUU Perbukuan digagas kemungkinan agar pemerintah dapat membeli hak cipta (copy right) naskah buku dari penulis. Naskah itu kelak dimasukkan ke situs web. Di situs web itulah, semua orang dapat mengambil, mencetaknya, tanpa harus meminta izin dari penulis maupun Depdiknas. Bahkan, tanpa harus membeli bukunya di toko buku.

Tentu, terobosan yang menggembirakan, yang datang pada saat yang tepat. Yaitu, pada saat masyarakat terus mengeluh soal mahalnya harga buku. Pada saat biaya pendidikan kian tidak terjangkau. Dan pada saat itu, pemerintah datang dengan solusi, mencoba meringankan beban rakyat.

Yang kita harapkan ialah niat baik itu berjalan efektif di lapangan. Kita tidak ingin upaya luhur itu justru menambah anomali dalam sistem perbukuan nasional. Sehingga persoalan perbukuan yang sudah sangat kompleks menjadi bertambah rumit.

Harus dipikirkan benar agar pembelian hak cipta naskah buku tidak merusak sistem yang telah saling menopang. Dari penulis, penerbit, percetakan, hingga distribusi. Juga harus diupayakan agar tidak sekadar indah saat masih dalam gagasan, tetapi tidak membawa kemaslahatan setelah diterapkan.

Naskah yang dibeli hak ciptanya, katakanlah, sudah dimuat dalam situs web. Masyarakat boleh mengambilnya. Lantas, berapa banyak rakyat yang bisa memanfaatkannya terkait dengan jumlah melek internet? Akankah biaya mencetak naskah itu lebih murah daripada harga buku? Bagaimana dengan harga kertas yang mahal? Bagaimana bila ada yang mencetak naskah itu menjadi buku dan menjualnya ke pasar?

Harus dipikirkan pula jenis buku apa saja yang akan dibeli hak ciptanya. Misalnya, buku yang belum pernah terbit, buku yang pernah terbit tetapi tidak ada di pasar, atau buku yang sudah terbit dan masih ada di pasar. Karena keputusan itu akan berdampak kepada banyak kepentingan terkait.

Banyak masalah yang belum terjawab, tetapi upaya untuk membuat harga buku lebih murah harus didukung. Sebab, buku adalah sumber ilmu. Bila harga buku terjangkau, kita berharap minat baca dapat dipacu lebih meningkat. Bila minat baca meningkat, akan meningkat pula kualitas sumber daya manusia kita. Karena itu, kelak pemerintah harus meningkatkan efektivitas dan efisiensi proyek ini dari hulu sampai hilir sehingga cita-cita luhur itu benar-benar menjadi kenyataan di tingkat rakyat.

Jangan sampai niat luhur itu sekadar menjadi wacana. Jangan pula iktikad baik itu berkembang menjadi kerumitan baru. Karena, alih-alih membuat harga buku menjadi murah, kita khawatir, pola itu hanya akan melahirkan sistem perbukuan yang murahan.

Iklan

0 Responses to “Harga Buku yang Lebih Terjangkau”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 791,663 hits
September 2006
S S R K J S M
    Okt »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: