Aibkah Bicara Kemiskinan

Kompas, Kamis, 28 September 2006
Pertanyaan ini kita angkat untuk menanggapi pernyataan Sekretaris Jaringan Solidaritas Busung Lapar, Sri Palupi. Ia merasa kemiskinan itu disembunyikan.

Pada era citra baik itu begitu pentingnya, memang cerita kemiskinan seakan menjadi sebuah aib. Apabila ada cerita tentang kemiskinan, tentang anak balita bergizi buruk, seakan merupakan gambaran kegagalan pembangunan. Lalu seakan semua itu menjadi kesalahan dari pemerintah sehingga harus ditutup-tutupi.

Padahal, seperti disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di depan KTT Nonblok di Havana, Kuba, kemiskinan adalah sebuah realitas. Itu menjadi sebuah fenomena di seluruh dunia. Hal itu tidak cukup hanya dikeluhkan, tetapi harus diselesaikan karena akan menjadi sumber rasa putus asa, yang pada gilirannya bisa memancing timbulnya aksi kekerasan.

Dengan latar belakang itu pulalah, peringatan yang disampaikan dr Tb Rachmat Sentika dari Satuan Tugas Perlindungan Anak tentang jumlah anak balita bergizi buruk di Indonesia yang mencapai 2,3 juta jiwa tidak perlu ditanggapi secara defensif. Justru menjadi tugas kita bersama untuk mencari tahu apa yang menjadi penyebab peningkatan jumlah penderita gizi buruk sampai mencapai 500.000 orang dalam waktu setahun.

Dari hasil evaluasi sementara terungkap, betapa tidak berjalannya pos pelayanan terpadu (posyandu). Hal itu bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, dalam hal ini Departemen Kesehatan, tetapi juga pemda.

Inilah yang selalu kita persoalkan dengan otonomi daerah. Pendelegasian wewenang kepada daerah untuk mengelola dirinya lebih banyak diambil kekuasaannya saja, sementara tanggung jawab untuk memikirkan rakyat, menyelenggarakan pembangunan, terbengkalai.

Konsep posyandu dan juga pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) sudah berjalan sejak 1982. Sejak kita memulainya, memang tidak berarti semua berjalan mulus, tetapi sekarang ini semakin tidak terurus dan tidak dianggap sebagai konsep yang baik untuk memberdayakan kesehatan masyarakat, terutama mereka yang hidup miskin. Akibatnya, mereka seakan dibiarkan sendiri dan akibatnya kita rasakan sekarang ketika jumlah penderita gizi buruk semakin meningkat. Yang sangat kita takutkan mereka itu kemudian menjadi generasi yang hilang.

Padahal, jujur harus kita katakan, secara konseptual baik posyandu maupun puskesmas sangatlah ideal dan mulia. Buktinya, konsep kesehatan masyarakat itu dipakai oleh negara-negara tetangga kita dan bahkan diterapkan dengan pengembangan yang lebih sempurna.

Kita tidak perlu lari dari kenyataan. Kita tidak perlu malu pula bahwa kemiskinan ada di sekitar kita. Semua ini bukan salah satu orang, tetapi sekali lagi krisis keuangan yang melanda negeri ini tahun 1998 membuat keadaan kita sangat terpuruk. Kita sudah berupaya keras untuk bisa bangkit, tetapi belum berhasil.

Sekarang yang dibutuhkan adalah rencana kerja untuk memperbaiki keadaan ini. Bagaimana kita bisa sungguhsungguh mengentaskan rakyat dari kemiskinan dan mencegah lebih banyak lagi anak balita yang mengalami gizi buruk, agar tidak ada generasi yang hilang.

Iklan

0 Responses to “Aibkah Bicara Kemiskinan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 791,557 hits
September 2006
S S R K J S M
    Okt »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: