Akhirnya Putusan Diambil

Kompas, Jumat, 29 September 2006
Kita gunakan kata “akhirnya” karena keputusan itulah yang ditunggu banyak pihak. Kalaupun Presiden yang memutuskan, itu karena tingkat masalahnya berat.

Kasus lumpur panas di Porong, Jawa Timur, hari Jumat ini tepat empat bulan terjadi. Setiap hari keadaannya bukan menjadi tambah baik, tetapi justru sebaliknya. Volume lumpur panas yang keluar dari perut Bumi, yang semula hanya 50.000 meter kubik per hari, kini malah meningkat menjadi 125.000 meter kubik.

Dengan volume yang begitu besar, mustahil lumpur itu bisa dikelola di sekitar lokasi. Tanggul yang dibuat di kawasan sekitar 400 hektar di dekat sumber keluarnya lumpur sudah 10 kali jebol. Setiap kali tanggul itu jebol, satu desa harus menjadi korban.

Hasil kajian yang dilakukan banyak ahli, mulai dari Institut Teknologi Sepuluh November hingga ahli dari Norwegia, menunjukkan bahwa bencana ini tidak mungkin bisa dihentikan segera. Bahkan, lumpur tersebut diperkirakan akan terus keluar dalam periode yang lama, karena itu adalah fenomena mud volcano.

Karena tingkat bencana dan kedaruratan yang berat seperti itu, tidaklah mungkin hanya pihak pengelola yang mengambil keputusan. Sebab, harus kita sadari bahwa dampaknya pasti akan sangat luas sehingga sepantasnya apabila pemerintah yang harus mengambil keputusan.

Berulang kali kita sampaikan bahwa pilihan yang kita hadapi sekarang bukanlah antara baik dan buruk, tetapi antara yang buruk dan kurang buruk.

Sekarang keputusan itu telah diambil. Lumpur panas akan dialirkan ke Kali Porong dan dibuang ke laut. Daerah yang tergenangi lumpur dinyatakan sebagai daerah rawan bahaya yang tidak bisa lagi dihuni. Pemda diminta untuk merelokasi penduduk dan bukan hanya diberikan rumah tinggal, tetapi juga penghidupan.

Tugas kita bersama untuk mengawasi pelaksanaan pembuangan lumpur dan relokasi penduduk. Soal kerugian sudah pasti tidak bisa lagi dihindari. Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana kerugian itu bisa dibuat seminimal mungkin. Jangan sampai untuk jangka pendek persoalan memang terselesaikan, tetapi untuk jangka panjang menjadi persoalan lingkungan besar.

Yang dibutuhkan sekarang ini adalah sumbangan pemikiran yang positif. Sumbangan pemikiran yang bukan menambah soal, tetapi menyelesaikan soal.

Kita harus sepakat untuk mengatakan, tidak ada yang diuntungkan dengan bencana ini. Pihak Lapindo Brantas pasti merugi. Sebab, selain rusak nama baiknya, mereka sampai saat ini pun sudah mengeluarkan Rp 1 triliun dan masih harus membiayai penanganan selanjutnya. Lebih merugi lagi tentunya masyarakat yang terkena bencana, di mana mereka bukan hanya kehilangan rumah, tetapi juga kehilangan akar sejarahnya dan penghidupannya.

Konsentrasi kita sekarang terutama harus lebih tertuju kepada masyarakat yang menjadi korban itu. Mereka harus cepat dipulihkan kehidupannya karena mereka adalah korban langsung. Janganlah pengorbanan mereka ditambahi lagi dengan kontroversi yang tidak membuat kehidupan mereka menjadi lebih baik.

Iklan

0 Responses to “Akhirnya Putusan Diambil”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 804,627 hits
September 2006
S S R K J S M
    Okt »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: