Berdebat Lewat Buku

Koran Tempo, Jum’at, 29 September 2006Inilah salah satu keelokan demokrasi. Semua orang leluasa berpendapat. Pejabat juga bebas menjelaskan kebijakan yang diambil secara terbuka. Bahkan, ketika sudah tidak berkuasa, ia masih bisa membeberkan segala kebijakan yang pernah dilakukan.
Teladan yang baik diberikan oleh Bacharuddin Jusuf Habibie, presiden ketiga Republik Indonesia. Lewat buku Detik-detik yang Menentukan yang diluncurkan pekan lalu, ia membeberkan drama politik setelah Soeharto lengser pada 21 Mei 1998. Hampir semua pengakuannya menarik, termasuk proses pencopotan Letnan Jenderal Prabowo Subianto dari Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat.
Habibie menuturkan, pada hari kedua memerintah, ia mendengar adanya gerakan pasukan Kostrad di luar koordinasi Panglima ABRI Wiranto. Akhirnya, ia meminta Wiranto segera mencopot jabatan Prabowo. Habibie juga menggambarkan bagaimana menantu Soeharto ini kemudian datang ke kantor presiden, mempertanyakan kebijakan ini. Sebuah kisah yang amat berguna bagi sejarawan, ilmuwan politik, juga khalayak umum.
Kemarin Prabowo menggelar konferensi pers menanggapi kesaksian Habibie. Langkah ini juga bagus. Tidak jadi masalah, ia mengungkap penjelasan berbeda. Sejarawan akan bisa memilih kesaksian yang mendekati kebenaran. Pengakuan dari saksi lain dan bukti tambahan bisa dipakai untuk mengujinya.
Kisah itu sebenarnya pernah diungkap Habibie setahun setelah ia menjadi presiden. Ketika hal itu dibeberkan di media, kontroversi pun muncul lantaran Prabowo membantahnya. Jika kini Habibie memuat hal itu dalam bukunya, berarti ia tetap kukuh pada kesaksiannya.
Dalam bukunya, Habibie juga menuturkan, ketika menyusun kabinet pada 22 Mei 1998, ia sempat menerima surat dari Jenderal Besar A.H. Nasution. Dalam surat yang dibawa dua perwira militer itu, Nasution menyarankan dia mengangkat Jenderal Subagyo Hs. menjadi Panglima ABRI dan Letjen Prabowo Subianto sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat. Tapi Habibie tak mengabulkan keinginan ini dan mempertahankan Jenderal Wiranto sebagai Panglima ABRI.
Diungkapkan pula kontaknya dengan Soeharto terputus begitu Habibie menggantikan dia sebagai presiden. Hanya sekali komunikasi terjalin. Itu pun melalui telepon, yakni 8 Juni 1998, pada hari ulang tahun ke-77 Soeharto. Sikap si mentor yang menjauhi dirinya ini masih menjadi pertanyaan Habibie hingga kini.
Alangkah baiknya jika tokoh lain juga berani membeberkan kesaksiannya. Ini akan membuat perjalanan sejarah politik negeri ini bisa dibaca secara jelas oleh anak-cucu kita kelak. Habibie sudah memulai. Prabowo telah menanggapi. Wiranto pun pernah mengungkap kesaksiannya tentang drama politik pada 1998 lewat buku. Mumpung masih hidup, Soeharto juga amat perlu membuat buku.
Semakin banyak bekas pejabat yang terbuka, semakin terkuak sisi-sisi gelap sejarah politik kita. Semua orang juga bisa belajar bagaimana peliknya mengelola negara sesuai dengan garis konstitusi. Dan ini bagus bagi perkembangan demokrasi.

0 Responses to “Berdebat Lewat Buku”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 779,656 hits
September 2006
S S R K J S M
    Okt »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: