Menunggu Kejujuran Sejarah

Media Indonesia, Jum’at, 29 September 2006
PERALIHAN kekuasaan pada Mei 1998 menjadi salah satu tonggak sejarah penting Indonesia. Penting, lantaran pergantian kekuasaan dari HM Soeharto kepada penggantinya, BJ Habibie, berlangsung tanpa harus banyak meminta korban jiwa manusia. Selain itu, peristiwa tersebut menjadi pintu masuk ke alam demokrasi, lepas dari kekuasaan otoriter yang sebelumnya membelenggu negeri ini.

Fakta sejarah itulah yang ditulis BJ Habibie dalam bukunya Detik-Detik yang Menentukan, Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi. Buku itu diluncurkan penulisnya Kamis (21/9) lalu.

Tentu saja fakta-fakta sejarah yang diungkap mantan Presiden RI itu tak harus memiliki kebenaran seratus persen. Sebab, memang tak ada sejarah di dunia ini yang punya kebenaran mutlak. Sejarah biasanya tetap mengandung misteri. Tapi, bagaimanapun terbitnya buku itu menjadi keberanian tersendiri buat seorang bernama BJ Habibie.

BJ Habibie berani menulis sejarah ketika para pelakunya masih hidup dan dia sendiri tak lagi berkuasa. Sebagai wakil presiden dan penerima kekuasaan saat itu, dia menjadi bagian dalam fakta sejarah. Ia menjadi pelaku sejarah.

Dalam spektrum kekuasaan otoriter, sejarah umumnya ditulis bukan untuk menunjukkan kebenaran, melainkan untuk menjadikan sejarah sebagai pembenaran sejarah. Itulah yang terjadi ketika masa Orde Lama dan Orde Baru berlaku. Sejarah kemudian menjadi persoalan sudut pandang dan kepentingan. Sejarah untuk kekuasaan. Akibatnya, banyak fakta (sejarah) yang ditutup-tutupi, dihilangkan, bahkan dijungkirbalikkan. Sejarah G-30-S/PKI, misalnya, hingga kini masih mengandung kontroversi.

Buku BJ Habibie ditulis ketika pintu demokrasi telah terbuka lebar. Fakta-fakta yang diungkap tentu saja sebatas pancaindra yang dimiliki Habibie. Dan, fakta tersebut belum tentu benar di mata pelaku sejarah lainnya. Itulah yang lantas menimbulkan kontroversi dan perdebatan.

Mantan Panglima Kostrad Letjen Prabowo Subianto, sebagai salah satu pelaku sejarah ketika itu, membantah sebagian fakta yang ditulis Habibie. Prabowo, dalam buku itu, dikesankan berseberangan dengan Habibie dan diduga akan melakukan kudeta. Prabowo diberi label negatif dalam buku tersebut.

Sejarah memang terkadang mengandung patologi. Ia kerap menisbikan dan menghancurkan peran pelaku sejarah. Namun, sejarah juga merupakan pergulatan tesis dan antitesis untuk mencari kebenaran. Karena itu, jika ada fakta-fakta sejarah yang disimpangkan, menjadi sebuah kewajiban bagi pelaku sejarah lainnya untuk meluruskan sejarah itu.

Kita berharap Prabowo dan para pelaku sejarah lain saat peralihan kekuasaan 1998 juga berani menulis buku, seperti BJ Habibie. Jika ada yang menganggap buku Habibie punya kelemahan, memang harus ada buku lain sebagai tandingan. Buku yang ditulis dengan kejujuran. Bukan dengan motif untuk menghancurkan. Dan, kejujuran untuk mengungkap kebenaran sejarah itulah yang masih langka di Republik ini.

Iklan

0 Responses to “Menunggu Kejujuran Sejarah”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 799,163 hits
September 2006
S S R K J S M
    Okt »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: