Kisruh Telkom Jangan Dibiarkan

Koran Tempo, Senin, 02 Oktober 2006

Surat Dewan Komisaris PT Telkom kepada Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara menunjukkan ada masalah di perusahaan telekomunikasi terbesar Indonesia itu. Surat itu meminta Menteri Negara BUMN Sugiharto mencopot Direktur Utama Arwin Rasyid karena dinilai tidak cocok lagi memimpin Telkom–perusahaan yang sudah menjual saham di pasar domestik dan internasional. Setelah surat itu bocor, publik tahu bahwa komisaris dan direksi–termasuk wakil direktur utama–sudah tak lagi sejalan dengan Direktur Utama.

Komisaris menilai operasional perusahaan secara fundamental mengkhawatirkan, meskipun kinerja keuangan meningkat. Ini bisa dilihat dari realisasi belanja modal yang terus menurun. Arwin dinilai sering jalan sendiri, mengabaikan direksi yang lain dan komisaris.

Problem internal lazim terjadi di perusahaan mana pun. Hanya karena menyangkut perusahaan negara dan publik sepenting Telkom, urusan jadi gawat. Ada kepentingan masyarakat dan pemegang saham yang dipertaruhkan. Usaha mencapai kepentingan pemegang saham, yaitu meraih laba sebesar-besarnya, bisa terganggu.

Rakyat banyak sebagai pemangku kepentingan (stakeholder) juga punya interes. Jika laba Telkom meningkat, masyarakat secara tidak langsung akan diuntungkan karena pemerintah akan mendapat dividen yang makin besar. Akibatnya, setoran ke anggaran pendapatan dan belanja negara juga meningkat. Selain itu, orang ramai mendambakan pelayanan terbaik dari Telkom.

Kepentingan stakeholder ini harus diselamatkan. Perselisihan komisaris dengan direktur utama harus dihentikan. Jika pilot dan kopilot tak sejalan, dampaknya bisa gawat: keputusan-keputusan penting akan tertunda, rencana perusahaan bisa tidak berjalan, dan pada ujungnya kinerja Telkom akan melorot.

Tugas Menteri Negara BUMN untuk menyelesaikannya karena anggota dewan komisaris seakan sudah “lempar handuk”. Menteri Sugiharto tidak bisa lagi menunggu. Setidaknya, pemerintah perlu menggelar rapat umum pemegang saham.

Hal lain yang harus dibereskan adalah saluran komunikasi yang macet. Kita tahu persoalan ini mencuat melalui saluran yang tidak semestinya. Padahal segala hal yang menyangkut perusahaan publik seharusnya diketahui pemegang saham publik, terutama yang minoritas. Kelompok pemegang saham publik ini mesti dipastikan mendapat informasi paling awal atas apa yang terjadi di Telkom, terutama menyangkut kinerja direksi dan komisaris. Dalam kasus ini, justru pemerintah sebagai pemegang saham mayoritas yang mendapat informasi lebih dulu daripada pemegang saham publik–yang hampir semuanya investor asing.

Telkom, sebagai salah satu ikon Bursa Jakarta yang juga sudah listed di Bursa New York, mestinya berada di baris terdepan dalam soal keterbukaan informasi. Otoritas bursa di Jakarta, yang sampai pekan lalu mengaku belum tahu soal ini, perlu segera menelisiknya. Menteri BUMN dan Bursa Jakarta tidak boleh membiarkan masalah ini berlarut-larut.

Iklan

1 Response to “Kisruh Telkom Jangan Dibiarkan”



  1. 1 foradil Lacak balik pada Februari 3, 2007 pukul 8:28 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 791,663 hits
Oktober 2006
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: