Kontroversi Buku Habibie

Kompas, Senin, 02 Oktober 2006

Perbedaan pendapat yang berkembang sebagai kontroversi sekitar buku mantan Presiden BJ Habibie berlanjut. Reaksi dan pendapat pro-kontra muncul.

Buku berjudul Detik-detik yang Menentukan, Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi menjadi best seller. Perbedaan pendapat yang bernada kontroversi wajar dan masuk akal karena para pelaku masih hidup dan masalahnya menentukan sejarah serta mengundang pendapat dan sikap pro-kontra. Amatlah perlu kita, masyarakat apalagi para pelaku sejarah, bersikap dewasa.

Buku-buku sekitar peristiwa “G30S PKI”, karya-karya ilmuwan luar negeri, juga mengundang pendapat, interpretasi, serta sikap pro-kontra. Namun, karena sebagian pelakunya telah tiada, kontroversi tidak setajam buku karya Habibie. Kurang vokal dan tajamnya kontroversi mungkin juga karena peristiwa “G30S PKI” kecuali sudah lama juga kuat dimensi kelompoknya.

Peristiwa-peristiwa bersejarah, yakni peristiwa yang mempunyai pengaruh terhadap perkembangan perikehidupan kita sebagai bangsa dan negara, memang sebaiknya ditulis. Demikianlah tradisi bangsa-bangsa yang juga semakin merupakan tradisi kita. Sejarah adalah guru bagi kehidupan kita bersama bahkan perikehidupan bersama bangsa-bangsa dan masyarakat internasional.

Kejadian sejarah, apalagi yang makna sejarah alias pengaruhnya besar dan menentukan, mengandung dua sikap dasar dan dua dimensi, yakni dimensi obyektif dan dimensi subyektif. Kelengkapan obyektivitas fakta-faktanya saja ada unsur dan dimensi subyektif, apalagi interpretasi dan pendapat yang dihasilkannya.

Pemahaman hal itu sengaja kita kemukakan, kecuali memang begitulah duduknya perkara, juga untuk membentuk penilaian yang berbeda secara proporsional. Termasuk proporsional dalam memahami serta mengendalikan kontroversi.

Perbedaan pendapat mudah berkembang sebagai kontroversi yang emosional manakala kejadian dan interpretasi atas kejadian tersebut melibatkan orang-orang yang memiliki pribadi-pribadi kuat serta materinya menyangkut hal-hal yang sensitif. Kiranya hal-hal itu sedang kita saksikan dan kita alami dalam perbedaan pendapat dan kontroversi sekitar buku karya mantan Presiden Habibie.

Sikap hati-hati alias caveat itu kita kemukakan karena, menurut pengamatan, dalam proses transformasi ke sikap pemahaman serta budaya demokrasi, kita masih harus melalui proses yang rawan. Kita sikapi dan kita usahakan terutama oleh pihak-pihak yang langsung terlibat agar perbedaan sikap, kontroversi, serta cara kita menyikapi tidak menimbulkan efek samping, yakni terbukanya kembali “luka-luka lama”. Pemahaman dan cara yang bebas, terbuka, kritis, obyektif, dan ilmiah diusahakan agar tidak membangkitkan beragam efek sampingan. Barangkali caveat ini terasa berlebihan untuk berbagai pihak, tetapi kita kemukakan dengan maksud baik, agar kebajikan lama berlaku “kena ikannya, tanpa membuat air semakin keruh”. Diambil pengalaman dan pelajarannya yang cerdas, arif, dan bijak tanpa disertai efek-efek sampingan.

Iklan

0 Responses to “Kontroversi Buku Habibie”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 787,818 hits
Oktober 2006
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: