Laboratorium Kekerasan di Poso

Media Indonesia, Rabu, 04 Oktober 2006
SITUASI keamanan di Poso, Sulawesi Tengah, kian hari kian mengkhawatirkan. Mengkhawatirkan karena sejak meletus konflik pada 1998, daerah itu terus membara. Perseteruan demi perseteruan terus berlangsung dan korban terus berjatuhan tanpa bisa dicegah.

Dalam beberapa hari terakhir, setelah Fabianus Tibo, Dominggus da Silva, dan Marianus Riwu dieksekusi, wilayah penghasil cokelat, cengkih, dan padi itu kembali memanas. Sudah tujuh kali bom meledak. Polri pun menambah jumlah pasukan hingga 800 lebih personel dan status wilayah ditingkatkan menjadi siaga I.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa bara konflik bernuansa SARA itu terus menyala selama delapan tahun? Mengapa pemerintah belum juga berhasil menemukan solusi? Mengapa kedua pihak yang bertikai seolah enggan menciptakan perdamaian abadi? Apa yang mereka cari dengan upaya saling membenci dan menghancurkan? Ke mana perginya ketenteraman dan kedamaian?

Pemerintah memang telah melakukan banyak hal. Tetapi ketika bom dan kekerasan berdarah terus terjadi secara teratur, rakyat bertanya-tanya apakah pemerintah serius mengatasi masalah Poso? Jangan-jangan pemerintah sengaja membiarkan konflik terus membara.

Salah satu penyebabnya adalah karena pemerintah belum menyentuh benar akar persoalan. Logikanya, bila akar persoalan ditangani, solusi pun akan berjalan efektif. Perseteruan dan sengketa niscaya segera berakhir.

Nyatanya, Poso tetap membara hingga hari ini. Artinya, akar konflik masih tinggal dan api sengketa terus menyala. Sewaktu-waktu, letupan dan benturan akan kembali terjadi. Karena itu, sudah saatnya pemerintah menangani konflik Poso secermat-cermatnya.

Adalah tugas dan kewajiban pemerintah untuk melindungi seluruh rakyat dan segenap tumpah darah. Karena itu, ketidakberhasilan menyelesaikan konflik Poso berarti juga kegagalan pemerintah.

Jangan sampai pemerintah gagal menunaikan tugas konstitusional itu. Jangan pula Poso tidak terkendali. Karena kalau terus bergolak, Poso akan berubah menjadi laboratorium kekerasan. Laboratorium yang akan menyemai bibit-bibit perpecahan dan disintegrasi bangsa.

Terlihat bahwa bom-bom yang meledak di Poso disederhanakan. Ada yang mengatakan itu hanya ulah kelompok kecil. Ada pula yang menilai Poso terlalu dibesar-besarkan dalam skala nasional.

Bom adalah bom. Manusia yang mati karena bom harus dianggap sebagai persoalan besar. Karena itu, sudah saatnya pemerintah menunjukkan kesungguhan untuk menyelesaikan Poso. Kalau Aceh dan Ambon bisa, mengapa Poso tidak?

Itu memperlihatkan bahwa pemerintah bukannya tidak bisa, melainkan tidak mau menyelesaikan Poso. Tidaklah masuk akal negara yang memiliki semua instrumen preventif maupun represif tak mampu mengatasi konflik di Poso.

Iklan

0 Responses to “Laboratorium Kekerasan di Poso”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 787,802 hits
Oktober 2006
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: