Munir Minum Racun Sendiri?

Majelis hakim kasasi kasus pembunuhan Munir, kemarin (4/10), membuat keputusan mengejutkan. Mereka menyatakan Pollycarpus Budihari Priyanto tak terbukti melakukan pembunuhan berencana terhadap tokoh hak asasi manusia tersebut. Namun, majelis hakim menyatakan bahwa terdakwa terbukti telah menggunakan dokumen palsu untuk bisa terbang dalam pesawat yang sama dengan Munir. Karena itu, mereka hanya memvonis terdakwa dengan hukuman dua tahun penjara. Putusan kasasi Mahkamah Agung (MA) ini berbeda dengan putusan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat pada 12 Desember 2005. Saat itu majelis hakim memutuskan bahwa Pollycarpus terbukti melakukan pembunuhan berencana. Ia divonis telah memasukkan racun arsenik ke dalam mi goreng yang disantap Munir dalam penerbangan menuju Singapura. Karena itu, hakim memvonis terdakwa dengan hukuman 14 tahun penjara. Di tingkat banding, di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, majelis hakim mengeluarkan putusan yang sama dengan PN Jakarta Pusat. Namun, di tingkat ini muncul dissenting opinion (pendapat yang berbeda). Seorang hakim menyatakan bahwa Pollycarpus tak terbukti membunuh dan hanya terbukti menggunakan surat palsu.

Dalam amar putusannya, majelis hakim kasasi menyatakan bahwa tak ada saksi dan tak ada bukti yang memperkuat dakwaan bahwa Pollycarpus telah melakukan pembunuhan. Meski mereka membebaskan terdakwa dari dakwaan pembunuhan, majelis hakim tak meminta polisi untuk membuka kembali kasus ini hingga ditemukan siapa pembunuh sebenarnya.

Salah seorang hakim majelis kasasi, Artidjo Alkostar, membuat dissenting opinion. Menurutnya, Pollycarpus terbukti melakukan pembunuhan berencana dan seharusnya dia dihukum seumur hidup, sesuai tuntutan jaksa. Ia juga setuju dengan PN Jakarta Pusat yang menggunakan metode ‘aposteori’. Suatu metode pembuktian suatu akibat dengan mencari petunjuknya sehingga ditemukan sebabnya. Ia setuju dengan alasan hukum (legal rational) PN Jakarta Pusat yang menentukan adanya hukum kausalitas antara kematian Munir dan perbuatan Pollycarpus. Metode itu bisa mengabaikan ketiadaan saksi asal ada petunjuk yang jelas.

Dalam persidangan sebelumnya maupun pengakuan berbagai pihak di media massa muncul kesaksian ihwal hubungan telepon antara Pollycarpus dan seorang petinggi negara. Juga hubungan telepon antara terdakwa dan korban maupun dengan rekan Munir. Semua itu mengarah pada kecurigaan bahwa ada misteri terhadap semua tindakan terdakwa. Namun hingga kini, mejalis hakim tak pernah menghadirkan petinggi negara tersebut di persidangan. Terhadap dua pramugari yang menyajikan makanan untuk Munir pun tak kunjung ada kelanjutannya.

Ketidakpuasan yang luar biasa telah mengemuka ketika kasus pembunuhan Munir ini hanya berhenti di tingkat Pollycarpus. Publik tak percaya bahwa kasus ini tak memiliki desain yang lebih besar dan tak memiliki tersangka yang jauh lebih berkuasa. Kini, setelah putusan majelis kasasi, sesuatu yang lebih luar biasa terjadi. Pollycarpus tak terbukti melakukan pembunuhan. Bisa saja putusan ini benar. Namun, apa pun, ini sebuah kegagalan aparat penegak hukum. Gagal menemukan kebenaran. Tak hanya kegagalan hakim, tapi juga kegagalan polisi dan jaksa. Mereka tak membuat skala para pihak yang terlibat secara lebih luas.

Kita patut bermenung. Betapa nyawa manusia di bumi Indonesia tak memiliki arti. Betapa sesanti bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang beradab dan bermartabat hanyalah omong kosong. Hukum dan aparatnya hanya subordinasi sebuah kuasa.

Selama ini kita pun telah membiarkan segala ketidakadilan terjadi begitu saja. Kita melupakannya dengan alasan kita sibuk dengan banyak masalah lainnya yang konon lebih mendasar. Sebetulnya adalah kita tak cukup punya fondasi yang benar dan kokoh — yang goyah manakala hukum tak tegak, ketika kemanusiaan dilecehkan, ketika ketidakadilan dikoyak.

Kita harus mengkaji konsep dan penerapan doktrin kejuangan, doktrin kerakyatan, dan doktrin kebangsaan kita. Karena kita lebih kukuh untuk mengagulkan kelompok: etnis, korp, agama. Kita sering bergairah dengan mengabaikan semua doktrin itu. Sehingga, korupsi dan despotisme bisa ditutup atas nama korp, kelompok. Yang di ujungnya adalah untuk diri sendiri. Kita berharap, pada akhirnya kasus pembunuhan Munir menemukan jalan terangnya. Karena tak mungkin Munir harus repot-repot menelan arsenik di atas pesawat.

Republika, Kamis, 05 Oktober 2006

Iklan

3 Responses to “Munir Minum Racun Sendiri?”


  1. 1 Agustinus Doo Februari 29, 2008 pukul 4:27 pm

    KETIDAKADILAN YANG DILAKUKAN SEWENANG-WENANG OLEH PEJABAT NEGARA DI DUNIA INI PANTAS DI MUSNAHKAN. KITA HARUS MENINJAU KEMBALI SEJARAH DI MANA BEBERAPA ORANG MENJADI KESATRIA BERANI MISKIN DEMI MEMBELA KEBENARAN DAN KEADILAN SEPERTI BUDHA GAUTAMA, YESUS KRISTUSN, MAHADMA GANDHI, DLL.
    MUNIR ADALAH SALAH SATU SOSOK YANG MEMBELA KEBENARAN DAN KEADILAN DI DUNIA INDONESIA SEPERTI TOKOH-TOKOH DI ATAS. PASTI SAJA BAHWA MUNIR DI BENCI OLEH BANYAK KALANGAN TERUTAMA KALANGAN PEJABAT, KONGLOMERAT, DAN KAUM KAPITALIS. INI ALASANNYA KARENA DIA DENGAN BERANI MENGUNGKAP SEMUA TINDAKAN SEMENA-MENA YANG DILAKUKAN OLEH KAUM-KAUM INI.
    PASTI JUGA BAHWA KAUM-KAUM KALANGAN PEJABAT, KONGLOMERAT, DAN KAUM KAPITALIS MEMFASILITASI PREMAN-PREMAN DENGAN BAYARAN YANG CUKUP MAHAL. OLEH KARENA ITU KITA SAMA-SAMA BERUPAYA AGAR KASUS KEMATIAN MUNIR DAPAT TUNTASKAN DARI PANGKAL SAMPAI UJUNG. INI BERARTI BAHWA KEADILAN DALAM PEMBELAAN HUKUM TAMPAK JELAS.
    SEMOGA PARA PEMBELA HUKUM DIBERKATI DAN DIPIMPIN OLEH YANG MAHA KUASA. SEKIAN.

    • 2 Agustinus Doo, S.Pd Februari 25, 2011 pukul 10:00 am

      Di memori ingatanku masih teringat berita terheboh di dunia Indonesia yaitu tentang kematian sang kesatria Munir Fuady.
      Kematian tragis bang Munir sampai saat ini kami di Papua masih belum jelas siapa otak pembunuh sampai orang yang melakukan tindakan pembunuhan. Kalau memang begitu yang dikatakan Saudara Halim itu terbukti bahwa hukum di Indonesia telah dari awal mengalami kemandulan dan impotensi yang bakal tidak meneruskan keturunan hukum yang benar.

  2. 3 halim Maret 2, 2008 pukul 5:51 am

    Intinya adalah HUKUM telah mengalami kemandulan dan impotensi berat,tapi belum mencapai titik permanen. Karena itu mari kita anjurkan dan kita dorong terus agar sang HUKUM ini mau berobat entah itu kedokter atau kedukun yg penting bagi kita adalah agar sang HUKUM kembali perkasa dan jantan lagi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 792,910 hits
Oktober 2006
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: