Korban tanpa Pelaku

IRONI terbesar dalam hukum dan keadilan di Indonesia adalah ini: korban kejahatan bertebaran di mana-mana dan kasatmata, tetapi pelakunya tidak pernah jelas. Korban terang benderang, sementara pelakunya gelap gulita. Kejahatan, termasuk korupsi, seperti angin. Mudah dirasakan, tetapi sulit ditangkap.

Ironi ini sekarang menampar lagi realitas kehidupan. Pollycarpus Budihari Priyanto yang divonis 14 tahun penjara oleh Pengadilan Tinggi Jakarta karena diyakini membunuh Munir, dinyatakan tidak terbukti oleh Mahkamah Agung. Polly hanya dinyatakan bersalah dalam kasus pemalsuan surat jalan.

Dengan vonis ini, maka siapa pembunuh pejuang hak asasi manusia Munir di atas pesawat Garuda pada 7 September 2004 dalam penerbangan ke Amsterdam, kembali ditelan kegelapan. Munir telah terkapar, tetapi pelaku, walaupun pasti ada, tidak kentara.

Selama proses persidangan Pollycarpus, upaya jaksa dan polisi mencari pembunuh Munir tersendat-sendat. Seperti ada benang putus yang memisahkan antara keyakinan dan bukti. Ada gelagat yang mengarah, tetapi di ujung sana terdapat jurang yang gelap.

Misteri dalam kasus Munir bisa saja terjadi karena memang sulit menemukan pelaku. Bisa saja Pollycarpus begitu lihai menyembunyikan bukti, tetapi bisa juga pelaku sesungguhnya licin seperti belut. Boleh jadi polisi melihat terang di sebelah timur, tetapi mengejar ke arah barat. Mungkin saja jaksa yang seharusnya menghadirkan saksi mahkota di persidangan, tetapi mengajukan saksi yang menyesatkan.

Munir tidak satu-satunya dark case dalam pencarian pelaku kejahatan. Kita masih ingat bagaimana kasus Marsinah yang juga tidak pernah ada pelakunya hingga saat ini. Juga kasus pembunuhan wartawan Udin di Yogyakarta yang masih gelap.

Berbeda dengan Munir yang rumit dalam pembuktian pelaku, Marsinah dan Udin sangat jelas. Tetapi polisi dan jaksa memilih jalan yang salah untuk mencari pelakunya. Pelaku berada di kiri, polisi mengejar ke kanan.

Kasus-kasus kejahatan yang tenggelam dalam misteri berpangkal pada elitisme power. Pihak-pihak yang memiliki power, yaitu yang berkuasa dan beruang, begitu elitis sehingga hukum pun berpihak kepadanya. Kalau seseorang atau sebuah lembaga memiliki derajat elitisme tinggi, mereka tidak bersalah dan tidak boleh disalahkan.

Hukum di negeri ini masih memperlihatkan watak yang amat korup. Hukum tidak berpihak kepada korban, tetapi pelaku. Karena korban yang meninggal tidak memberi benefit, sementara pelaku bisa mendatangkan keuntungan. Itulah yang menyebabkan pencarian terhadap pelaku kejahatan, termasuk pelaku korupsi, melahirkan kejahatan dan korupsi baru yang berlipat ganda. Inilah negeri dengan kejahatan masif, tetapi penjahatnya minim.

Media Indonesia, Jum’at, 06 Oktober 2006

Iklan

0 Responses to “Korban tanpa Pelaku”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 791,556 hits
Oktober 2006
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: