Sulitnya Melawan Teror Asap

ASAP beracun, terutama di Sumatra dan Kalimantan, kerap dituai tanpa perlu benih ditanam. Itulah hasil panen kebakaran hutan dan lahan yang menjadi ritual setiap tahun kala kemarau tiba. Sebuah ritual memalukan, bukan membanggakan.

Memalukan karena dari tahun ke tahun peristiwa itu selalu terjadi tanpa bisa diatasi. Juga, amat memalukan, lantaran asap beracun itu selalu diekspor ke negara tetangga. Indonesia pun lantas dicap sebagai negeri yang tak becus mengelola lingkungan.

Selain memalukan, bencana asap itu juga memprihatinkan. Sebab, dampaknya sungguh luar biasa. Ia tak hanya menggerogoti perekonomian, tapi juga sudah merenggut korban jiwa manusia.

Kecelakaan baik di darat, laut, maupun di udara kerap terjadi. Karena asap, sekolah di sejumlah daerah terpaksa diliburkan. Jumlah mereka yang terkena penyakit infeksi saluran pernapasan akut terus meningkat dari tahun ke tahun baik di Sumatra maupun Kalimantan. Warga pun terpaksa menggunakan masker untuk beraktivitas.

Selain itu, jalur penerbangan maupun di darat dan laut morat-marit. Bahkan pesawat Mandala terjerembap di parit usai mendarat di Bandara Juata Tarakan, Kalimantan Timur, Selasa (3/10) lalu, gara-gara tebalnya kabut asap. Pemerintah pun lalu berencana menutup 160 bandara di Sumatra dan Kalimantan.

Haruskah jatuh korban jiwa lebih banyak baru persoalan bencana asap ditangani serius? Jawabannya tentu saja tidak. Pemerintah mestinya melakukan edukasi bagaimana memajukan tingkat pengetahuan masyarakat tentang cara-cara pembukaan lahan yang benar.

Sejak lama, baik petani, pemilik perkebunan, maupun pemegang HPH mencari jalan termudah dan murah untuk membuka lahan baru. Caranya, ya itu dengan melakukan pembakaran. Padahal, cara-cara seperti itu sudah tergolong primitif dan berisiko tinggi. Adalah kewajiban pemerintah mengubah pola berpikir primitif tersebut ke arah yang lebih inovatif.

Penanganan asap sepertinya tak pernah belajar dari pengalaman. Solusi tak pernah dan tak mau dicari. Minimnya alokasi dana dalam penanganan asap mencerminkan rendahnya sense of crisis. Padahal, dana pengelolaan hutan di Republik ini mencapai triliunan rupiah. Jangan-jangan dana itu masuk pundi-pundi pribadi, bukan terpakai untuk mencari solusi.

Kebakaran hutan adalah fakta ironis. Ironis bahwa kita punya banyak harta, yakni hutan, tetapi tak bisa merawat dan menjaganya. Pemerintah pun akhirnya pasrah. Pemerintah hanya bisa menunggu datangnya musim penghujan untuk memerangi teror asap yang mengganas itu. Ini artinya, kalau musim hujan terlambat datang, akan kian banyak yang menderita karena asap.

Media Indonesia, Sabtu, 07 Oktober 2006

Iklan

0 Responses to “Sulitnya Melawan Teror Asap”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 804,677 hits
Oktober 2006
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: