Amuk Massa di Bangka Belitung

AMUK massa meledak di Bangka Belitung. Provinsi baru di wilayah Sumatra itu menjadi bergelora dalam agresivitas kekerasan. Dua ribu lebih demonstran merusak kantor gubernur dan menghancurkan beberapa kendaraan berpelat merah. Polisi yang jumlahnya terbatas tak berdaya. Mereka lari tunggang-langgang menyelamatkan diri.

Aksi kekerasan itu merupakan lanjutan dari demonstrasi massa di provinsi itu yang digelar di depan kantor polda sehari sebelumnya. Mereka marah karena polisi menutup tiga peleburan timah swasta yang merupakan sumber penghasilan rakyat. Polisi beralasan legalitas usaha peleburan swasta itu bermasalah dan diduga merusak lingkungan serta berpotensi merugikan negara sebesar Rp8 triliun.

Kita sedih karena kekerasan kini betapa mudahnya terjadi di negeri ini. Demonstrasi yang merupakan ekspresi kebebasan sebuah negara demokrasi sering kali berubah menjadi anarkistis. Anarkisme sering membayang menjadi kecemasan setiap ada pengerahan massa.

Tawar-menawar antara hidup tertib sesuai aturan negara di satu pihak dan kebiasaan berusaha tanpa regulasi bagi para pelaku bisnis di Bangka Belitung di lain pihak, memang belum bertemu. Dua pandangan itu masih berada dalam ekstremitas yang jauh. Kita pastilah bergembira jika rakyat bisa mempunyai sumber nafkah yang melimpah dari bumi yang kita miliki. Tetapi, kita pastilah amat bersedih jika demi nafkah, bumi kita rusak.

Kita tak hendak mencari siapa yang salah dalam amuk massa di Bangka Belitung. Sebab, dalam teori mana pun manakala asap dapur terganggu, massa bisa melakukan apa saja. Terlebih lagi mereka telah melakukan penambangan timah puluhan tahun. Timah memang bagian dari ladang kehidupan masyarakat Bangka Belitung yang telah turun-temurun dari generasi ke generasi.

Ke depan, kita harus mencari cara terbaik bagaimana mengatasi persoalan tanpa harus menimbulkan problem baru. ‘Menangkap ikan jangan sampai airnya keruh’ adalah pepatah lama yang belum ketinggalan zaman untuk kita amalkan. Ini memang tidak mudah, tetapi kita harus terus mencobanya.

Mendukung kegiatan usaha adalah tugas pemerintah yang paling utama. Demikian pula perusahaan pengolahan timah hasil penambangan inkonvensional yang dilakukan rakyat. Tetapi jika pengelola perusahaan itu dengan sadar tidak mau membayar royalti atau pajak kepada negara dan lain-lain, ini jelas perilaku yang menyalahi aturan berusaha. Negara kecolongan lebih dari Rp8 triliun. Perilaku para pengusaha ‘nakal’ seperti inilah yang harus dikikis.

Kita sangat setuju dengan pernyataan Kapolda Bangka Belitung. Di satu sisi pengusaha nakal harus ditertibkan. Destruksi amuk massa tidak boleh dimaklumi. Tetapi di sisi lain, rakyat masih diperbolehkan melanjutkan penambangan.

Media Indonesia, Minggu, 08 Oktober 2006

Iklan

0 Responses to “Amuk Massa di Bangka Belitung”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 788,198 hits
Oktober 2006
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: