Parsel dan Stigma Korupsi

Bisnis parsel di tanah air pernah berjaya. Bisnis ini sempat tercoreng ketika muncul sejumlah parsel yang ternyata berisi bom pada Natal tahun 2000 lalu. Namun saat itu bisnis parsel masih tetap bagus. Dalam tiga tahun terakhir, bisnis ini terpuruk berat. Pasalnya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melarang pejabat menerima parsel karena menganggap itu bagian dari upaya penyuapan pejabat penyelenggara negara. Imbauan itu menjadi efektif karena pada saat bersamaan upaya pemberantasan korupsi sedang gencar-gencar dilakukan. Tentu saja tidak ada pejabat yang ingin tersandung gara-gara menerima parsel dari rekanannya. Secara tak sengaja pula, imbauan itu sekaligus memberi stigma bahwa pemberian parsel kepada pejabat merupakan bagian dari tindakan korupsi.

Maka, tidak ada yang berani menerimanya. Bukankah nekat namanya bila masih berani menerima parsel? Bisa- bisa parsel yang diterima itu dianggap sebagai “bukti” korupsi.

Stigma korupsi yang dilekatkan pada parsel telah membuat bisnis parsel jatuh. Para pelaku bisnis parsel yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Parsel Indonesia (APPI) melakukan aksi unjuk rasa di Gedung KPK awal pekan ini. APPI menuntut agar KPK mencabut imbauan pelarangan pemberian parsel kepada pejabat.

Pasar utama bisnis parsel memang para pejabat atau mereka yang mempunyai kekuasaan. Anak buah, rekanan bisnis berlomba-lomba memberikan parsel kepada pejabat atau atasannya pada saat menjelang hari raya atau kesempatan istimewa lainnya.

Diduga, pemberian itu mempunyai maksud tertentu seperti agar proyek bisa jatuh ke tangan pemberi parsel. Sebenarnya, hal ini sudah bukan rahasia lagi. Seseorang memberi parsel kepada pe- jabat tentu ada maunya. Ibarat kata pepatah, ada udang di balik batu.

Apalagi dalam sejarah bangsa kita, kebiasaan pejabat mendapat parsel bukan baru kemarin. Dulu namanya bukan parsel. Parsel adalah kata bahasa Inggris, yakni parcel yang diserap bahasa Indonesia.

Bangsa kita mempunyai kata khusus untuk parsel itu, yakni upeti. Namun kata upeti itu terasa kurang santun lagi karena nuansa penyuapan sangat kental dalam makna kata itu. Maka dicarilah kata asing yang terdengar lebih menarik dan jauh dari nuansa penyuapan, yakni parsel.

Imbauan KPK agar pejabat tidak menerima parsel sudah betul. Itu adalah langkah pertama mencegah kolusi yang biasanya selalu berbuah tindak korupsi. Bila negara ini ingin memerangi korupsi, maka segala upaya pencegahan harus dilakukan.

Menangkap para pelaku tentu bagus. Namun akan lebih bagus lagi adalah mencegah agar tidak sampai terjadi tindak korupsi. Dan, salah satu jalannya adalah melarang para pejabat menerima parsel atau berbagai hadiah lainnya.

Imbauan KPK untuk tidak menerima parsel tadi merupakan langkah kecil yang artinya besar. Imbauan itu hendaknya tidak dibaca untuk mematikan bisnis parsel. Bisnis parsel adalah suatu usaha yang halal. Persoalannya, pasar mereka yang selama ini para pejabat kini mulai hilang.

Persoalan korupsi di negara kita sangat kompleks. Selain berkaitan hukum yang tidak dilaksanakan dengan tegas, juga menyangkut kebiasaan yang berlangsung berabad-abad. Para pemimpin kita pada masa lalu sudah biasa menikmati upeti.

Pemberian upeti ini terus berlanjut sesuai dengan tuntutan zaman dan salah satu bentuk upeti yang paling kasat mata saat ini adalah pemberian parsel kepada pejabat.

Jalan korupsi tentu tidak hanya parsel. Masih banyak jalan lain. Kalau satu jalan menuju tindak korupsi itu bisa ditutup, kenapa tidak. Tugas KPK tidak hanya menangkap para pelaku korupsi, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah mencegah. Imbauan tadi salah satu jalannya.

Imbauan itu bisa ditaati, bisa tidak. Namun imbauan itu menjadi efektif karena upaya pemberantasan korupsi sedang digalakkan. Kita tidak membenci usaha parsel. Yang kita khawatirkan orang memanfaatkan parsel untuk berkolusi, melakukan tindak korupsi.

Suara Pembaruan, 10 Okt 2006

Iklan

2 Responses to “Parsel dan Stigma Korupsi”


  1. 1 Irvany Ikhsan April 22, 2007 pukul 10:08 pm

    Budaya parsel adalah budaya impor. Di jepang, parsel diperuntukan antar saudara supaya silahturahmi semakin erat, begitu juga di Inggeris. Memang aneh di indonesia.. nagsih parsel kepejabat tinggi yang sebenarnya sudah kuaya banget… artinya: parsel tsb gak berarti apa2. Namun pemeberian parsel itu, kalau di Indonesia, bertujuan untuk dapat proyek. Sedangkan di Jepang & Inngeris semata-mata untuk mempererat silahturahmi….

    Jadi: di sini orangnya gak tulus ya….

  2. 2 rivafauziah September 29, 2007 pukul 11:53 pm

    Kasih Bingkisan Lebaran DIlarang..! kasih saja Cek dan Kunci Mobil.. Ambilnya Setelah Lebaran..!

    Peraturan dan Himbauan hanya Pemanis Saja,.. Korupsi Tetap Jalan, Itulah endonesa


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 797,243 hits
Oktober 2006
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: