Swasembada

Swasembada (self suffiency), bisa diartikan memenuhi seluruh kebutuhan dari produksi sendiri. Itu artinya swasembada terkait erat dengan keseimbangan antara pasokan (supply) dan permintaan (demand).

Berdasarkan pemahaman seperti itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap pada 2009 nanti, negara ini mampu memenuhi seluruh permintaan kebutuhan bahan pangannya dari produksi dalam negeri. Tentu saja yang dimaksud bahan pangan tak cuma beras, tapi juga komoditas lain seperti jagung, kedelai, dan gula.

Berdasarkan pemahaman itu pula, Menteri Pertanian, Anton Apriyantono, membantah kalau sekarang Indonesia belum swasembada beras. Khusus untuk beras, swasembada disebutnya sudah tercapai sejak 2004. Dengan memenuhi sebanyak 90 persen kebutuhan beras dari dalam negeri, maka kondisi itu dinilainya sudah cukup untuk mendapat predikat swasembada beras. Ditambah lagi, selama 2005 sampai 2006 impor beras hanya satu persen dari produksi beras nasional. Lain kata, 99 persen kebutuhan beras sudah dipenuhi dari dalam negeri dan itu berarti swasembada.

Lantas, mengapa pula harus impor hanya untuk mengisi pasokan yang berkurang? Jika mampu memenuhi 99 persen kebutuhan dari dalam negeri, mengapa harus impor yang cuma satu persen? Ironisnya lagi, kita juga sudah mengekspor beras, yang tahun lalu tercatat sampai sebesar 45 ribu ton. Kalau pasokan dalam negeri berkurang, kenapa pula mesti ekspor? Kenapa tidak memenuhi pasokan dalam negeri terlebih dulu? Karena kita sudah swasembada alias mampu memenuhi seluruh kebutuhan dari negeri sendiri, bukankah mestinya pasokan domestik diutamakan?

Yang jelas bersamaan dengan masuknya ribuan ton beras-beras impor di pelabuhan-pelabuhan Indonesia, swasembada beras (pangan) lantang pula diteriakkan akan tercapai pada 2009. Swasembada pangan pada akhirnya diharapkan bakal mampu menjadi penopang utama ketahanan pangan negeri ini. Kita dukung semua upaya ke arah itu. Hanya saja, mungkin, akan lebih baik jika swasembada dimaksud bukan hanya sebatas pasokan dan kebutuhan.

Swasembada pangan boleh jadi memang tak hanya neraca supply dan demand. Tapi, bisa juga mencakup urusan distribusi serta kemampuan masyarakat untuk memperolehnya. Kebutuhan pangan, meski sebagian mampu diproduksi sendiri, namun pendistribusiannya harus diakui masih sering mendapat gangguan. Masih banyak pelaku-pelaku tak bertanggung jawab yang menimbun dan sebagainya. Belum lagi menghitung pungutan tak resmi yang akhirnya membebani konsumen. Alhasil terkesan ada kelangkaan, dan kalau sudah begini, impor jadi jalan pintas.

Bagi masyarakat petani sendiri masih menghadapi persoalan untuk meningkatkan produktivitas lahannya. Tingginya harga pupuk adalah salah satunya. Petani padi sebagai konsumen utama produk pupuk nyaris tanpa peran dalam penentuan harga pupuk. Selain itu, kelangkaan pupuk pun masih sering terjadi, sehingga harga melambung dan akibatnya menyulitkan petani. Dalam kondisi ini jelas sulit bagi petani untuk meningkatkan produktivitas lahan. Lebih parah kalau ini diikuti dengan konversi lahan pertanian.

Demi mencapai the real swasembada, pemerintah memang perlu kembali mempertegas keberpihakannya kepada petani dan produk-produk pangan domestik, baik dalam kebijakan pangan nasional maupun dalam kesepakatan perdagangan bebas. Tanpa keberpihakan tersebut, sulit untuk mencapai swasembada. Pasalnya konsumen akan terus-menerus dijejali produk pangan impor dengan harga lebih murah. Produk pangan dalam negeri jadi tak mendapat tempat di negeri sendiri. Posisi petani tetap sulit terangkat; sekadar tukang tanam berpenghasilan rendah. Kondisi ini tentu sulit membawa kita ke level swasembada yang sesungguhnya.

Republika, Selasa, 10 Oktober 2006

Iklan

2 Responses to “Swasembada”


  1. 1 adul Oktober 7, 2009 pukul 8:32 am

    gara2 swasembada dalam bidang sosiologi, ada banyak debat di kelas kami

    by….sma 17 makassar

  2. 2 nur ahmad Januari 12, 2015 pukul 9:19 am

    di kelas ku malah bingun di kasi tugas swasembada


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 791,663 hits
Oktober 2006
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: