Perundingan Nuklir yang Lebih Adil

SUHU politik di Semenanjung Korea memanas setelah Korea Utara (Korut) sukses menguji coba bom atom di Hwadaeri, Kilju, bagian timur negeri komunis itu, Senin (9/10). Dunia bereaksi keras atas aksi yang mengancam stabilitas kawasan Asia Pasifik itu.

Hampir semua negara menyalahkan Korut. Percobaan itu dinilai mengancam perdamaian kawasan dan memicu lahirnya kembali perlombaan senjata.

Langkah Korut memang mengundang keprihatinan. Saat dunia risau dengan kekerasan dan perang yang berkecamuk di Irak dan di Afghanistan, negeri itu bermanuver dan membuat dunia khawatir. Khawatir, bila manuver itu memicu perang lebih besar. Khawatir, bila provokasi itu mengarah kepada perang yang lebih memusnahkan karena menggunakan nuklir sebagai senjata pamungkas.

Namun, pantaskah semua kesalahan ditimpakan kepada Korut? Sungguh tidak adil menimpakan semuanya kepada sebuah negeri yang miskin, kelaparan, serta terus diisolasi dengan tekanan, embargo, dan sanksi. Terlebih negeri itu ‘baru’ pertama kali menguji coba bom nuklir.

Sedangkan Amerika Serikat (AS) dan para sekutunya ribuan kali melakukan uji sejenis dengan level teknologi lebih canggih, dengan skala lebih besar, dan kekuatan ribuan kali lebih dahsyat.

Lantas, kalau AS boleh melakukannya, mengapa Korut tidak? Kalau sekutu Amerika dibiarkan? Mengapa Korut dan negara lain dilarang?

Kepemilikan senjata nuklir Korut itu adalah satu-satunya cara untuk bertahan dari serangan AS. Bukanlah tidak mungkin AS menyerang negara tersebut karena bersama Irak dan Iran, Korut secara tegas dan jelas dikategorikan AS sebagai ancaman, sebagai musuh.

Kendati demikian, upaya mendorong Korut agar menghentikan percobaan senjata nuklir tetaplah sebuah opsi yang harus didukung. Dan menjadi kewajiban semua pihak yang terlibat dalam perundingan enam negara untuk membujuk Korut meneruskan kembali perundingan. Namun, itu harus didasari niat, sikap, dan bahasa yang lebih tulus, lebih bersahabat.

Menjatuhkan sanksi sekeras-kerasnya terhadap Korut bukanlah langkah kesatria dan terpuji. Apalagi Korut jelas dan tegas menyatakan niatnya akan menghentikan proyek bom bila seluruh sanksi ditanggalkan.

Kita ingin Semenanjung Korea bebas senjata nuklir. Lebih dari itu, kita mendambakan seluruh wilayah dunia terbebas dari bom atom. Karena itu, tepat saatnya menggunakan insiden Korut ini sebagai momentum untuk mendorong lahirnya perundingan nuklir yang lebih adil.

Perundingan yang tidak saja membatasi kepemilikan bom atom, tapi juga menghapus seluruh pemusnah massal yang telah ada. Tidak peduli siapa pun pemiliknya.

Media Indonesia, Rabu, 11 Oktober 2006

Iklan

0 Responses to “Perundingan Nuklir yang Lebih Adil”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 791,637 hits
Oktober 2006
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: