Gangguan Asap Tanggung Jawab Kita

– Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya meminta maaf kepada negara tetangga kita, Singapura dan Malaysia, yang terkena dampak kabut asap dari Sumatra dan Kalimantan. Kedua negara itu memprotes dan mengeluhkan asap dari Indonesia yang mengganggu kesehatan dan kegiatan ekonomi. Sebenarnya gangguan juga kita rasakan di Tanah Air, namun memberikan pengertian ke dalam mungkin lebih mudah ketimbang menjelaskan kepada negara tetangga. Sebab, mereka hanyalah korban, meskipun harus dimaklumi menyelesaikan masalah kabut asap juga bukan perkara mudah. Komitmen pemerintah cukup kuat, dan kini telah menyiapkan dana Rp 100 miliar untuk menanggulangi kabut asap akibat kebakaran hutan di negara kita.

– Dalam percakapan via telepon, SBY secara khusus meminta maaf kepada Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong atas masalah tersebut. Permintaan maaf yang tulus tentu bisa diterima, namun persoalan terpenting, apakah segala sesuatunya segera dapat teratasi? Inilah yang tampaknya masih meragukan. SBY menjelaskan dua sebab yang paling pokok, yakni suhu udara yang sangat panas yang mencapai 37 derajad celcius dan pembukaan lahan baru dengan cara membakar hutan. Hanya dua, tetapi benar-benar sulit diatasi. Soal pembukaan lahan dengan membakar hutan adalah kebiasaan lama yang sulit diatasi. Sebab, cara itulah yang paling murah dan praktis untuk membuka lahan baru. Soal suhu panas juga merupakan situasi alam pada musim kemarau yang tak bisa dilawan.

– Semua baru sebatas komitmen. Namun setidaknya komitmen itu juga diperlukan, terutama agar kita tidak menjadi kurang nyaman hidup bertetangga karena ”ekspor” asap ke Singapura dan Malaysia sudah benar-benar menggangu. Komitmen penyiapan dana Rp 100 miliar yang antara lain untuk membuat hujan buatan dan bom air itu menjadi terlalu kecil dibanding dengan kebutuhan. Namun setidaknya hal itu bisa menunjukkan kepada dunia luar bahwa kita tidak diam dan membiarkan masalah tersebut. Indonesia juga akan meratifikasi ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution yang merupakan perjanjian tingkat regional pertama di dunia yang mensyaratkan sekelompok negara bekerja sama menanggulangi asap lintas batas akibat kebakaran hutan dan lahan.

– Kerja sama itu menjadi sesutu yang sangat urgen. Harus secara jujur diakui, kita kewalahan menghadapi masalah itu. Bukan hanya soal keterbatasan dana, melainkan juga menyangkut prasarana. Lebih-lebih negara kita juga masih belum selesai melakukan rekonstruksi pascabencana di mana-mana. Dari gempa dan tsunami di Aceh, gempa di DIY dan Jateng, erupsi Gunung Merapi sampai yang terakhir lumpur panas Lapindo Brantas yang masih belum juga memperoleh titik terang pengatasannya. Keterbatasan dana juga sangat dirasakan. Dana Rp 100 miliar tentu belum memadai, tetapi itu pun harus diambilkan dari sisa dana penanggulangan bencana. Padahal kita tahu, bencana lain bisa datang setiap saat tanpa pernah diduga sebelumnya.

– Bagaimanapun masalah ini menjadi tanggung jawab kita. Kita merasa tidak enak dan sudah meminta maaf. Apa artinya semua itu kalau masalahnya sendiri tak pernah bisa diselesaikan? Yang namanya gangguan asap akan tetap dirasakan dan nilai kerugian materialnya sangatlah besar. Kabut asap mengganggu Bandara Changi Singapura dan aktivitas di pelabuhan karena jarak pandang menjadi sangat dekat. Masih banyak gangguan lainnya. Belum lagi yang dirasakan di Tanah Air sendiri. Bagaimana kita mengimplementasikan tanggung jawab itu dalam langkah-langkah penanggulangan? Inilah yang perlu dipikirkan secara serius, dan kita tak perlu malu meminta bantuan dari negara tetangga. Mereka tentu akan berkepentingan karena pada akhirnya masalah yang ada di sini menjadi masalah mereka juga.

– Hal lain yang tidak kalah penting adalah langkah pengatasan dalam jangka menengah dan panjang. Sebab, soal kabut asap yang sampai mengganggu negara tetangga bukan satu dua kali terjadi. Sudah cukup sering dan tampaknya selalu berulang tanpa ada kemampuan mencegah sejak awal. Kalau penyebab utamanya -di luar soal cuaca yang sudah benar-benar di luar kemampuan manusia- belum diatasi maka jangan heran apabila kelak persoalan yang sama terjadi lagi, dan kita minta maaf lagi, begitu seterusnya. Harga diri bangsa dipertaruhkan. Bagaimanapun, rakyat di negara lain akan menilai bagaimana sebenarnya kita. Komitmen penting, namun itu belumlah cukup. Haruslah ada jaminan bahwa hal itu tidak akan terulang lagi. Sayang jaminan itu belum bisa dikeluarkan karena memang kita belum menyentuh akar masalahnya.

Suara Merdeka, Sabtu, 14 Oktober 2006

Iklan

1 Response to “Gangguan Asap Tanggung Jawab Kita”


  1. 1 Udin Juni 21, 2010 pukul 1:47 am

    Kami pun mengalami bencana asap di lingkungan perumahan kami. Dikepung oleh banyak industri rumahan liar, bersebelahan dengan kampung yang berbudaya “bakar-bakaran sampah”, perilaku banyak oknum putera daerah dari kampung sekitar yang selalu berulah di daerah kami. Mereka membakar semua yang dapat dibakar setiap hari setiap saat.
    “Budaya…” kata mereka saat ditegur tertangkap tangan. Sudah kebal rupanya, selalu diulang lagi.
    Aduan ke lingkungan, polisi, WALHI dan lembaga2 terkait seperti membentur tembok kokoh, yaitu: lemahnya hukum dan rasa kedaerahan (SARA).
    Bangsa kita pintar… katanya..???
    Sadarkah mereka polusi asap menyebabkan berbagai penyakit juga penurunan kecerdasan?
    Mungkin karena itulah mereka begitu addicted terhadap api dan asap…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 791,557 hits
Oktober 2006
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: