Memburu Pengemplang BLBI

BANGSA yang cakap membereskan problem-problem masa lalunya akan menjadi ringan kakinya melangkah maju menyongsong masa depan. Sebaliknya, mereka yang gagal membereskan berbagai persoalan masa silam akan menjadi belenggu menuju hari depan.

Salah satu contoh problem masa lalu yang tak kunjung selesai bagi bangsa ini adalah megaskandal bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang merugikan negara Rp164 triliun. Pengucuran dana luar biasa besar bagi bank-bank yang akhirnya kolaps itu dilakukan menjelang Pemilu 1997 dan Sidang Umum MPR 1998. Dan, siapa yang mesti bertanggung jawab jelas.

Kasus BLBI telah berlangsung hampir satu dasawarsa, tetapi ia tetap menjadi misteri. Ia tak terkuak. Padahal, mereka yang bertanggung jawab hampir seluruhnya masih hidup. Sungguh ironis, negara hukum, tetapi terus membiarkan orang-orang yang telah membangkrutkan negara tidak disentuh hukum. Bahkan, sebagian ongkang-ongkang kaki hidup di luar negeri.

Kini ada kabar sesayup dari pemerintah, katanya perburuan terhadap para pengemplang BLBI bakal terus dilanjutkan. Mabes Polri pun telah membentuk tim baru yang bakal memburu para debitur nakal itu. Sementara itu, pemerintah tengah menghitung ulang berapa sesungguhnya uang negara yang harus dibayar dan klaim para obligor sendiri. Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, kini sudah ada beberapa obligor bakal membayar kewajiban mereka.

Kita sesungguhnya sudah amat bosan mendengar berbagai rencana pemerintah untuk menyelesaikan kasus BLBI. Sebab, kenyataannya negara tidak menyelesaikan apa-apa. Kasus BLBI terus menggantung. Ia dibiarkan menjadi desas-desus dan bahkan misteri.

Spirit pemberantasan korupsi pemerintahan sekarang mungkin saja bisa membuat jantung para pejabat publik berdegup-degup untuk melakukan penyelewengan. Tetapi, apa artinya itu semua jika tak mampu menyeret mereka yang telah nyata-nyata membangkrutkan keuangan negara di masa lalu?

Karena itu, tekad pemerintah kali ini harus benar-benar berujung pada hasil yang bisa menjawab pertanyaan, kecurigaan, dan ketidakadilan publik. Jangan ada upaya penyelesaian seperti dilakukan pada Februari silam. Waktu itu beberapa obligor mendatangi Istana Kepresidenan, yang katanya, untuk membayar utang.

Cara itu mendapat kritik keras masyarakat karena aneh. Kalau ingin membayar utang, kenapa harus ke istana? Memangnya istana tempat transaksi?

Kita ingin penyelesaian kasus BLBI secara adil dan transparan. Niat baik para obligor yang akan mengembalikan uang rakyat kita hargai. Tetapi, jangan ada penyelesaian sebelum hukum bekerja. Sebab, ini akan melukai hati rakyat, melukai kita semua.

Media Indonesia, Minggu, 15 Oktober 2006

Iklan

0 Responses to “Memburu Pengemplang BLBI”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 791,556 hits
Oktober 2006
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: