Menyeleksi Calon Hakim Agung

KOMISI Yudisial mulai melakukan tugas penting yang diperintahkan konstitusi yaitu menyeleksi calon hakim agung. Seleksi itu dilakukan secara terbuka, sehingga siapa pun bisa menyaksikannya.

Dalam wawancara, para calon hakim agung itu dicecar berbagai pertanyaan tajam, terutama berkaitan dengan aspek integritas. Tampak jelas yang sedang digali oleh Komisi Yudisial adalah hal-hal yang bisa merusak atau mencemarkan martabat hakim agung.

Ada sembilan calon hakim agung yang diseleksi, di antaranya seorang profesor hukum dari Universitas Hasanuddin yang cukup populer. Dia adalah Achmad Ali, yang sedang dilanda dua kasus korupsi.

Achmad Ali bukan hanya dikejar pertanyaan menyangkut kasus korupsi itu, namun yang paling menarik justru mengenai pesan pendek (SMS) yang dikirimkannya kepada seorang jenderal. Melalui SMS itu Ali meminta dukungan untuk menjadi hakim agung, dan akan memberi kompensasi untuk kasus pelanggaran HAM. Seperti diketahui, Ali sekarang adalah anggota Komnas HAM.

Calon hakim agung lainnya Abdul Gani Abdullah, yang juga bergelar profesor. Kepadanya ditanyakan tatkala menjadi Kepala BPHN, mendapatkan anggaran untuk mengganti mobil dinas pejabat BPHN, yang kemudian mobil itu dipakai bersama-sama untuk pulang ke kampung Abdul Gani.

Dua contoh itu cukup untuk memperlihatkan bahwa Komisi Yudisial bersikeras mengejar aspek kebersihan calon hakim agung. Hal yang sangat penting, karena memang masalah besar bangsa ini di bidang hukum adalah hebatnya mafia peradilan sehingga hukum dapat dibeli.

Semua calon hakim agung yang sedang diseleksi itu tak perlu lagi diragukan kepiawaiannya dalam bidang hukum. Yang menjadi persoalan bagaimana integritas mereka, apakah jenis yang mudah berkompromi, gampang disetir, dan doyan sogok. Di sinilah pentingnya rekrutmen dan seleksi yang transparan sehingga Komisi Yudisial bisa mendapatkan berbagai informasi yang selama ini tersembunyi. Di antaranya, SMS yang dimaksudkan oleh si pengirim bersifat sangat rahasia.

Memilih hakim agung yang diharapkan bagaikan dewa atau setengah dewa tentulah bukan tugas yang gampang. Tanggung jawab itulah yang harus dipikul Komisi Yudisial. Untuk itu, Komisi Yudisial harus tegas, konsisten, tidak boleh menggunakan standar ganda.

Media Indonesia, Rabu, 01 November 2006

Iklan

0 Responses to “Menyeleksi Calon Hakim Agung”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 799,164 hits
November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: