Poso

Siapa mau hidup di antara peluru, bom, dan gelimang darah? Kecuali manusia sakit jiwa, tak ada. Warga Poso pun tak mau. Mereka ingin hidup damai; bisa bekerja dengan tenang, tak cemas saat melepas anak-anak pergi sekolah, aman pergi ke pasar, juga santai ketika berjalan-jalan sore.

Melihat Ambon kini, melihat Aceh sekarang, mereka tentu iri karena kedamaian muncul sebagai fitrah yang begitu indah, namun belum juga mereka jumpai di Poso. Pasar-pasar mereka mungkin ramai, tapi selalu dalam kawalan bedil. Sekolah-sekolah dan rumah ibadah penuh, tapi tetap berbalut kecemasan.

Mereka berada dalam anomali. Di wilayah lain negeri ini, misalnya, unjuk rasa adalah cermin kehidupan demokrasi. Tapi, di Poso, unjuk rasa bisa bermakna tindakan teror. Pelakunya yang terkena peluru seakan menjadi terdakwa yang kehilangan peluang mendapatkan keadilan. Mereka harus mengais-ngais untuk mendapatkannya.

Situasi memanas dan merumit kembali setelah eksekusi Tibo dkk. Kendati Wapres mencoba membantah, sebenarnya sulit untuk tidak menilai bahwa situasi Poso saat ini adalah masih buah dari konflik di masa lalu. Pemerintah terlalu defensif dan mencoba mengalihkan persoalan pada sekelompok kecil wayang-wayang, bukan pada dalang.

Polisi secara cepat mengenali anatomi kejahatan mereka. Tapi, bagaimana dengan motif mereka? Sekadar mengacau pada saat menjelang hari raya? Motif tampaknya akan selalu ”masuk akal” saat penjelasannya berkaitan dengan nama-nama seperti Jamaah Islamiyah, Alqaidah, dan sejenisnya.Lalu, bagaimana dengan nama-nama yang disebut Tibo sebagai dalang kerusuhan Poso dulu? Mengapa tak ada kelanjutan pemeriksaan terhadap mereka dan hanya ada janji-janji? Mengapa Oegroseno dimutasi dari jabatan kapolda pada saat ia secara diam-diam merintis penyelidikan terhadap nama-nama itu?

Sudah belasan operasi keamanan berlangsung, tapi rakyat Poso tak jua memetik buahnya. Kita turut cemas mereka akan kehilangan kepercayaan kepada aparat. Tanda-tandanya sudah jelas; saat mereka menentang Brimob, ketika mereka menolak kehadiran sejumlah jenderal polisi.

Alih-alih mendengarkan aspirasi semacam itu, Jakarta membela penembakan terhadap warga pada Ahad dua pekan lalu sebagai hal yang prosedural. Jakarta juga selalu memandang jenderal polisi mereka adalah orang-orang lurus yang tak mungkin punya bias apapun.

Kita menyambut baik pengungkapan para pelaku pembunuhan, pengeboman, sejak 2001 hingga 2006. Tapi kita tak boleh berhenti di situ karena akar kekerasan merambat hingga 1998 ketika konflik pertama pecah dan ribuan orang terbunuh dan menyisakan trauma. Kita pun harus melihat butir-butir Deklarasi Malino yang tak terpenuhi; soal tanah, soal penegakan hukum, dll. Ibarat membersihkan lahan untuk kebun, kita belum berhasil sepenuhnya mencabut akar ilalang. Akar pengeboman pasar, pembunuhan pendeta, bentrok warga dengan Brimob, mutilasi anak-anak remaja, masih tertanam kuat di tanah Poso.

Kita banyak berharap pada Jusuf Kalla. Ia berperan besar pada upaya damai di Poso sebelum menjadi wapres–sebagaimana ia juga berandil besar dalam proses damai di Aceh. Kita berharap ia tegas dan adil. Tidak menakut-nakuti dengan kata teror; tidak pula memberi peluang terhadap penyelewengan kewenangan.

Republika, Rabu, 01 Nopember 2006

0 Responses to “Poso”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 780,023 hits
November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: